Home Mimbar Ide MEMORI SAHABAT

MEMORI SAHABAT

0
Abdul Hafid Paronda
ADVERTISEMENT

Oleh : Abdul Hafid Paronda*

Perjumpaan menghadirkan dua nuansa: kepastian akibat pada masa yang akan datang, dan tawaran makna sebagai momen kebersamaan. Orang – orang yang berjumpa otomatis menabung bahan kenangan pada ruang waktu yang bergulir. Selain itu, juga terlibat memilih. Apakah perkenalan pada jumpa perdana, ataukah pengayaan informasi bagi jumpa berulang. Terlebih lagi yang berkelanjutan.

Peta interaksi dan ruang identitas muncul sebagai kendali pikiran humanis dalam setiap koordinat perjumpaan. Kebeningan hati mengawal psikologi komunikasi pada peringkat yang spesifik. Lantas, sosok pribadi unik menorehkan kriteria di atas kanvas pergaulan. Begitu kreatifnya memilah setiap mereka yang datang: kenalan, teman, atau sahabat. Yang belum pernah sukses menjadi “stranger” (orang asing) pada kesempatan pertama, dengan berat hati harus ditempatkan dalam kategori “The Others”(orang lain). Hal ini sama sekali bukan bermaksud membeda–bedakan, apalagi mengabaikan. Namun sebuah pengakuan, betapa pentingnya memelihara komitmen pergaulan pada martabat kemanusiaan.

ADVERTISEMENT

Berawal dengan perkenalan, berlanjut sebagai pertemanan, dan kemudian menjadi sahabat. Mata rantai yang dijalin dengan tautan sisi kehidupan, menajamkan kepedulian, dan merentang pengalaman dengan komitmen kebersamaan. Sahabat tidak sekedar istilah, juga bukan sebatas definisi, melainkan ia adalah deklarasi fungsi dan visi interaksi kemanusiaan. Kebenaran, kejujuran, dan sejumlah indikasi kemuliaan lainnya terpadu utuh dalam sebuah kemasan ”information security” (keamanan informasi), jauh sebelum berkembangnya “Signal and Coding Theory” dalam teknologi telekomunikasi nirkabel saat ini.

Ekosistem pergaulan terkadang agak memaksa agar seseorang menganulir sahabatnya dalam blantika realitas kehidupan yang ekstrim. Namun nurani persahabatan lalu mencuatkan orisinalitasnya. Alih–alih melakukan penghindaran, justru pengorbanan dikedepankan sebagai perlindungan dan pembelaan. Bukan hanya jawaban, tetapi itu adalah kemestian faktual yang ditawarkan atas nama persahabatan. Hal yang demikian sangat sering menyertai legenda perkaderan. Terutama dalam organisasi kepemudaan yang lahir dari rahim ideologi yang suci dan berkiprah dengan tanggung jawab ketulusan.

Temu kangen tidak mudah menghadirkan refleksi hakikat persahabatan. Selain karena sikonnya yang tidak selamanya memungkinkan, juga karena lampiasan kerinduan kronis biasanya lebih mudah diekspresikan tanpa nuansa filosofis. Betapapun hati mereka yang bertemu tetap saja menyimpan dokumentasi persahabatan dalam arsip hati masing-masing. Tempat kuliner, forum diskusi, bakti sosial, persiapan kepanitiaan, dan kemasan ringan lainnya, jauh lebih dominan teringat kembali. Bukan karena memori sahabat yang sudah hilang dalam file eksistensi, atau terdistorsi oleh virus kekinian. Namun, boleh jadi karena menjaga stabilitas emosi, dengan tetap menyimpan haru biru pada kedalaman nurani yang saling mengakui.

Terminologi sahabat ini yang paling pantas untk narasi persaudaraan. Apatalah lagi persaudaraan Islam, yang tidak hanya mensayaratkan keamanan identitas fitrah, melainkan juga perawatan sikap istiqamah multi dimensi. Dalam kaitan ini, figur sahabat perlu menyerap aktualitas nilai – nilai interaksi. Yang bukan hanya menancap pada kedalaman spiritual, namun juga menukik pada ketinggian nilai sosial–intelektual. Bermula dengan ta’aruf, berlanjut berupa tafahum, dan akhirnya menyerap nilai takaful. Pengenalan identitas umum, menghayati sifat-sifat khusus, hingga menyadari kebutuhan segenap saudara secara lahir dan batin. Sinyal persaudaraan menggelayut, hingga senyum versi tertentu bisa dipahami seabagai isyarat dompet kosong. Suatu contoh kasus persaudaraan mahasiswa di tempat kost.

Olehnya itu perjumpaan perlu dihargai, karena tidak hanya menghadirkan Temu Kangen, namun juga Silaturrahim. Temu Kangen mengesankan kesadaran sosial fungsional, bahwa ternyata sudah begitu banyak teman yang profesor, pejabat, birokrat, teknokrat, profesional, pengusaha, cendekiawan, dan tokoh. Di sisi lain, silaturrahim merekam niali – nilai spiritual persaudaraan, yang telah menjadikan persahabatan sebagai media transformasi kemaslahatan. Pengenalan iman dan aqidah tidak menjadikan mereka bertahta pada kesalehan individual. Namun dengan prinsip : “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya manusia”, maka silaturrahim membentangkan cakrawala kemaslahatan untuk setiap ikon kesuksesan dan keberhasilan yang terdaftar pada label Temu Kangen.

Memori sahabat adalah pupuk persaudaraan dan horizon pemantik ideologi gerakan aktualisasi fitrah. Kangen psikologis, rindu sahabat, dan konsistensi ukhuwwah , adalah kebutuhan manusia sejagat. Bukan hanya sebagai jejaring pengaman konstelasi sosial, melainkan juga sebagai gizi kehidupan spiritual, dan energi persaudaraan berkelanjutan.

Pondok Gare’se’ 130720.
Rumah Keadaban – Kota Bekasi

*) Penulis adalah alumni Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Universitas Hasanuddin (Unhas)

Facebook Comments
ADVERTISEMENT