Home Mimbar Ide RAKA’AT KEDUA

RAKA’AT KEDUA

0
Ilustrasi
ADVERTISEMENT

Oleh : Abdul Hafid Paronda*

Tahun 1986, penulis mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa Padanglampe, Kecamatan Ma’rang, Kabupaten Pangkep. Mengemban amanah pengabdian masyarakat. Ajang penerapan dalam kehidupan praktis, dari sebagian teori konseptual yang sebelumnya diserap dalam perkuliahan formal. Menyemangati masyarakat untuk bangkit dengan memperbaiki tata cara kehidupan dan tata kelola kegiatan. Peningkatan kualitas kehidupan, khususnya dalam bidang sosial ekonomi, juga pola hidup beragama. Masyarakat didampingi, ditemani dan diajak untuk mencoba dan menerapkan metode tertentu.

Selain karena sangat dibutuhkan, juga terutama karena memang mereka belum mengetahui bagaimana melaksanakannya setepat mungkin. UNHAS mengagendakan program terkait dengan mendelegasikan para mahasiswanya yang tingkat akhir ke pelosok desa. KKN adalah suatu bentuk realisasi Tridharma perguruan tinggi untuk social services, dan sekaligus menghindarkan citra menara gading. Kadang dipelesetkan menjadi pertanyaan: ”Kapan Kita Nikah?”, dan dijawab, NKK(Nanti Kalau Kembali). Implisit, ketemu jodoh di lokasi KKN, sesama mahasiswa peserta, walau tidak sedikit juga yang kecantol dengan anak Pak Desa.

ADVERTISEMENT

Dari galeri info tersiar berita anak kampus. Di sebuah lokasi KKN wilayah Sinjai Timur. Seorang mahasiswa dan dua orang mahasiswi akan melakukan shalat Isya’ berjama’ah. Praktis, sang mahasiswa yang harus jadi Imam, karena dia laki – laki. Sebelumnya, ia sempat sedikit protes kepada kedua temannya:”Saya hanya hafal satu surah pendek selain Al Faatihah”. “Tapi, kamu kan laki – laki”, balas temannya. Kemudian, shalat pun dilaksanakan. Selesai baca Al Faatihah pada raka’at kedua, suara Imam tiba – tiba senyap menghilang entah kenapa. Padahal kesehatannya prima, tanpa gejala pilek ataupun sesak napas. Sejurus kemudian, ternyata ia berbalik ke makmumnya : “ Apa memang saya bilang ?!”. Shalat pun bubar sebelum salam, bahkan pada awal raka’at kedua, karena masalah Imam. Hafalannya minimalis, dan lagi pula belum paham kalau bacaan Ayat Tsani (setelah Al Faatihah) boleh saja sama atau diulang pada raka’at yang berbeda.

Di wilayah lain juga terjadi. Bahkan lebih unik dan sensasional. Shalat Maghrib dipimpin mahasiswa KKN, di sebuah mushalla yang masih menggunakan lampu tembok. Menghindari raka’at kedua, sang Imam berusaha meninggalkan mushalla, setelah meniup dan mematikan nyala lampu tembok pada penghujung sujud kedua raka’at pertama. Anggota jamaah shaf pertama yang penasaran karena sujud yang terlalu lama, iseng mengangkat kepala. Ternyata sang Imam sudah tidak ada di tempat. Dia telah kabur, meninggalkan jama’ahnya melalui pintu di samping mihrab. Kemudian, beredarlah cerita seru di seantero kampung, legenda mahasiswa KKN yang jadi Imam kemudian lari meninggalkan jamaah. Kurang jelas story ending–nya. Yang pasti, kekurangan ayat hafalan kemudian terkonfirmasi sebagai biangnya.

Dengan pendekatan analisis antropologi sosial agama, sosok Imam tadi dapat dipersepsi dalam tiga kriteria kualifikasi. Pertama, bacaan Al Qur’an-nya sangat terbatas. Kedua, belum berpengalaman memimpin shalat berjama’ah. Ketiga, yang bersangkutan pasti bukan ”Anak IMM”(maaf). Kreteria yang ketiga adalah sebuah penegasan silogisme, sekaligus simpulan pemikiran deduktif: ”Semua anak IMM bisa memimpin shalat jama’ah; Ada orang yang tidak bisa memimpin shalat jamaah; berarti – Orang itu bukan Anak IMM”. Begitu konsekuensi mata rantai premis mayor dan premis minornya.

Kemampuan menjadi Imam shalat jama’ah adalah satu ciri melekat pada diri Anak IMM. Bagaimana tidak, perkaderan tanpa Instruktur ”Imamah” adalah suatu kemustahilan. Instruktur dengan tugas khusus, mendampingi dan membimbing dengan cermat dan tulus setiap peserta, agar mampu melaksanakan shalat dengan baik. Apakah sendiri (munfarid), sebagai makmum ataupun Imam dalam shalat berjama’ah. Terutama pada level LKTM atau DAD sekarang. Boleh saja ada eksepsi bagi mereka yang lupa diri, karena inkonsistensi kekaderan. Bahkan kini ada komunitasnya, konsisten dengan shalat lima waktu, tapi mengingkari hakikat maknanya dalam pentas aktualisasi diri. Sebuah pngkhianatan atas visi perkederan, yang karenanya tidak pantas diakomodasi dalam ruang toleransi. Namun tetap perlu dimaklumi pada tataran eksistensi sosial kemanusiaan. Sebuah pembelajaran berbasis kaleidoskop perilaku yang perlu dikawal dengan strategi “sustainable improvement”.

Hakikat shalat memang amat tangguh untuk sebuah konstruksi kehidupan. Apatah lagi kalau hanya untuk pembekalan strategi komunikasi, interaksi, dan akomodasi di lokasi KKN. Dengan shalat identitas ummat dibangun, dan martabat Islam ditegakkan (ashshalaatu imaaduddien). Merangkai kelembutan kasih sayang yang sophisticated hingga ketegasan ideologi tanpa reserve. Mengikat ritual munajat dengan benang tawadhu. Mewakili khlayak ke haribaan Allah swt sebagai pusat harapan dan tumpuan semesta kemanusiaan. Itu sebagian sisi individual-sosial dan intelektual-spiritual shalat yang menghunjam ke dalam relung hati personal dengan atas nama-NYA.

Refleksi Al Faatihah sebagai muatan utama shalat, bagai sumur pencerahan universal yang tak pernah kering. Founding Father Bank Muammalat, Dr.Ir.H.M. Amin Aziz, menyuguhkannya dengan sangat bernas dalam “The Power of Al Faatihah”. Sementara, Bey Arifin mengemasnya dengan judul : ”Samudera Al Faatihah”. Bahkan tidak sedikit analisis pendekatan sufistik-esoterik menghadirkan makna Al Faatihah yang mestinya menjadi magnum opus kehidupan menyongsong Husnul Khatimah. Kiat menggali fadhilah dari sentra Ummul Kitaab, yang menempati posisi preambule Al Qur’an dengan komposisi 30 Juz, 114 Surah, dan 6236 ayat.

Di satu sisi, Anak IMM wajib bersyukur. Betapa tidak, karena bukan hanya percaya diri merespons request masyarakat desa di wilayah KKN. Tetapi juga memiliki potensi untuk menata konstelasi kehidupan ummat dalam dinamika global. Kini era disrupsi 4.0, yang pasti menghadirkan aneka tantangan. Selain perlu mengamankan terminologi ”kesiapan menjadi Imam pasca spekulasi Ta’aruf”, Anak IMM juga ditantang turut andil mengembangkan keterampilan dijital untuk layanan semesta kemanusiaan. Pada sisi yang lain, kader IMM harus bangkit meretas kelambanan literasi, mengembangkan narasi keadaban dalam konteks inklusivitas, serta menyegarkan jagat publik dengan khazanah kiprah aktual trans-komunitas.

Kejujuran evaluasi muraaja’ah-murattal secara berkala, tidak hanya akan menyembuhkan trauma rakaat kedua, namun juga akan mengasah Tadarrus Kebangsaan. Sebuah identitas kekaderan yang seyogyanya di-install dalam software perkaderan pena-muda Muhammadiyah. Vivat Darul Arqam!

Pondok Gare’se’ 210720
Rumah Keadaban Kota Bekasi

*) Penulis adalah alumni IMM Unhas

Facebook Comments
ADVERTISEMENT