Home Mimbar Ide BERSAMA DIA

BERSAMA DIA

0
Abdul Hafid Paronda
ADVERTISEMENT

Oleh : Abdul Hafid Paronda*

Kemesraan Ini
janganlah cepat berlalu
kemesraan ini
ingin kukenang selalu

hatiku damai
jiwaku tenteram di sampingmu
hatiku damai
jiwaku tenteram bersamamu

ADVERTISEMENT

Dua bait lagu Kemesraan gubahan Iwan Fals tahun 1988, kemudian melejit dari suara pop penyanyi Musica Studios. Bukan hanya anak muda penggemar genre musik pop yang menyukainya, tapi juga para gaek dan emak–emak tidak sedikit yang menjadikannya ‘lagu wajib’ pada setiap reunion. Nuansa kebersamaan dilantunkan demikian syahdu, sambil menegaskan sebuah pesan nurani. Bahwa kebersamaan adalah suatu kebutuhan naluri insaniyah.

Manusia diciptakan untuk berbagi dan saling peduli. Karenanya dibekali empati dan kemampuan mengayomi. Untuk mewujudkannya perlu komunikasi, atau pertemuan yang menghadirkan kebersamaan sesaat. Terekam dalam relung batin, menyemai dalam kesan, menyertai kenangan, dan bahkan memateri nuansa pribadi.

Kerinduan pada almamater, teman sejawat, tautan komunitas, adalah rangkaian pemantik reuni. Bukan hanya karena memori yang masih aktif, atau segarnya kesadaran akan masa lalu. Namun, boleh jadi karena sebuah kebersamaan yang menghadirkan tafsir baru tentang kehidupan yang lebih bermakna. Apatah lagi jika kebersamaan itu bukan hanya sesaat, tapi telah menginvestasikan time line yang panjang dalam otobiografi masing – masing.

Arah kehidupan terbimbing dengan tahapan pertumbuhan. Allah swt. memenuhi kelengkapan sumberdaya, prosedur operasi baku, dan tolok ukur kualitas diri. Lebih dari itu, selaku hamba yang disayangi, manusia diberi ruang untuk berekspresi, berkreasi, dan mengembangkan aktualisasi diri. Dengan begitu, manusia sewajarnya segera merentang kebajikan yang diikat sebagai kelaziman. Kemudian dampak positif akan terwujud secara praktis. Berbuat baik menjadi hobby psikologis, bahkan taruhan identitas. Kelasnya lalu meningkat, tidak cukup hanya kebaikan yang diakui secara subyektif. Tapi harus dipastikan bahwa menghadirkan manfaat bagi sesama. Magnet ketaatan membangkitkan potensi fitrah menjadi kebaikan yang direproduksi melintasi setiap segmen ruang dan waktu.

Karunia kasih sayang Ilahi telah direspon secara proaktif. Memupuk aktualisasi fitrah, dan membangun personalitas yang istiqamah. Konsisten dengan aqad kemuliaan, siap menghadapi segala konsekuensi. Terbiasa dengan kebajikan, melazimkan kemaslahatan, mengemas pribadi tercerahkan, mengusung amal shaleh sebagai ”main content of partnership” kehambaan, dan menancapkannya dalam pemetaan realitas sosial kemanusiaan. Bersenyawa dengan kebajikan, menyatukan diri dengan kemaslahatan, adalah deklarasi kebersamaan dengan Allah swt.

Pada saat yang sama manusia selalu diuji, ketajaman talentanya ditantang untuk menunjukkan peringkat jati dirinya. Ujian datang mendesak, cenderung memaksa, dan seolah tanpa pilihan. Tawarannya hanya satu: stop kebajikan, lepas kemaslahatan, tanggalkan kemuliaan. Suasananya darurat, dan konteksnya selalu ekstrem, hadir dengan pesan indoktrinasi, agar membubarkan komitmen. Itu dia, komitmen kebersamaan dengan kebaikan.

Aneka rupa tawaran yang hakikatnya satu itu, lalu diimprovisasi dengan bisikan, bujuk rayu, dan modifikasi pilihan menggiurkan. Popularitas, glamouritas, akses jejaring, kompatibilitas skill, penguatan posisi, dan ragam representasi agar status sosial tersertifikasi dalam bingkai kepercayaan dan verifikasi yang serba palsu. Sangat mungkin diseret ke dalam ranah Trio-ta (tahta, harta, dan wanita), dengan segenap milennial variable dan disrupsi moralitasnya. Sementara, pada bilik yang lain, para hamba nafsu dan syahwat kontemporer dikuatkan untuk bertahan dalam kebersamaan non-maslahat. Bahkan dikonsolidasi agar subscribers-nya kian bertambah, bila perlu dengan melebarkan membership flexibility. Biar anggotanya semakin banyak. Bagaimana bisa berpindah, dari kebersaamaan yang satu ke dalam kebersamaan yang lain. Dari komunitas Ilahiyah ke komunitas setaniyah.

Varian ujiannya sangat beragam. Ada yang berupa konsumsi dalam aspek material, bidikan rasa galau, atau mungkin ketakutan dalam aspek psikologis. Bahkan tidak sedikit yang dipaksa dengan ancaman nyawa atau mirisnya keselamatan jiwa. Namun bagi mereka yang konsisten dalam kemuliaan, ada jurus pamungkas yang standby untuk dioperasikan. Yakni manuver strategi perilaku Sabar, yang meliputi tiga komponen: resistensi, persistensi, dan konsistensi. Resistensi adalah perlawanan terhadap nilai – nilai asing yang bertentangan dengan jati diri. Persistensi adalah upaya merawat dan memelihara nilai- nilai standar yang sudah melekat sebagai pilihan. Sedangkan konsistensi adalah sikap memilih untuk mengembangkan manifestasi standar nilai yang telah dianut dalam transformasi visioner. Namun, dengan memperhatikan secara cermat kesesuaian pada hakikat nilai yang bersangkutan.

Orang sabar itu senantiasa bersenyawa dengan kebajikan, selalu bersama dengan Allah swt. dalam ketulusan dan daya juang penuh dinamika. Predikat ini diraih karena dua hal. Pertama, input perilakunya adalah energi tawadhu melalui aktualisasi kinerja shalat. Kedua, outcome kapasitas pribadi kehambaannya melebur dalam kepemilikan Allah swt., Sang Maha Posessive. Jiwa orang yang sabar melekat dengan komitmen : ”Dirinya adalah milik Allah, dan pasti kembali kepada-NYA”. Karena itu, aktualisasi fitrah yang terekspresi sejatinya mengahdirkan kebersamaan primordial, yang tiada lain adalah Kebersamaan Ilahi, yang membentuk habitat insani dan mewarnai ekosistem kemaslahatan sosial. Yang sabar tegar dengan ujian, bahkan ketika diterpa musibah sekalipun. Dan mereka selalu bersama-NYA. Begitu narasi wahyu dalam Surah Al Baqarah, ayat 153, 155-156. Dengan shalat dan sabar, para hamba yang sadar diri menerapkan prosedur Ilahiyah, mengharapkan semata Allah swt. sebagai penolong sejati.

Menjadi sabar tentu bukan sekedar penghampiran sesaat pada amal shaleh. Tapi sebuah proses yang menukik, beranjak dari klarifikasi penerimaan kebenaran, menaati panduan, menyerap nuansa hakikat makna, lalu menegakkan konstruksi kepribadian dalam sistem nilai Ilahiyah. Kelaziman personal yang tumbuh dari sini membingkai individuasi. Lalu memancarkan representasi martabat itu ke dalam peta sosiologi kultural. Merasakan kehadiran Allah swt. dengan self control yang real time dalam segenap penjuru realitas eksistensi. Ketika ujian-musibah datang, orang sabar kian merasakan kedekatan dengan-NYA. Mereka selalu mengharapkan pertolongan-NYA, tanpa berpaling sedikit pun. Karena tidak lagi dibutuhkan narasi baru, walau atas nama tafsir kontekstual-kontemporer. Setia selalu bersama-NYA. Sebuah sikap berbasis perspektif spiritual yang semestinya menjadi pandangan dunia (world view).

Meraih kesabaran, berarti meniti kesadaran kehambaan yang mencerahkan kepribadian. Bukan hanya terbebas dari jebakan spekulasi lagu pop, tetapi bahkan merengkuh belaian Ilahi dalam kebersamaan yang tenteram dan bermartabat. Lalu merespon musibah dengan mata hati dan getar puitik sanubari:

kala musibah menghampiri
lakukan yang terpuji
mungkin menggalang donasi
atau dengan mengayomi
bukan sekedar mengaji
tapi nyatakan empati
wujudkan peduli
tanpa harus dipuji
biar tahu diri
di sisi Ilahi

Pondok Gare’se’ 260720
Rumah Keadaban–Kota Bekasi

*) Penulis adalah alumni IMM Unhas

Facebook Comments
ADVERTISEMENT