Home Mimbar Ide Tumbangnya SARKODES Dalam Lomba Meracik Kopi

Tumbangnya SARKODES Dalam Lomba Meracik Kopi

0

Oleh: Muh.Muardi H

MataKita.CO – Malam yang pekat menghiasi sudut kota jempisu (Jembatan pinggir Sungai ) Pangkep. Hitam memang menjadi incaran pemuda milenial sekarang sebagai ajang nongkrong dan ngobrol.

Warna hitam bukan guru kehidupan yang baik, tapi dia memberikan semangat kehidupan baru. Rasa memunculkan sensasi ketika kita menyeruputnya. Sensasi mencairkan pemikiran membuat bergairah untuk kembali menyeruputnya.

Meja yang sama sambil berbincang dapat memancing pemikiran untuk mencari solusi tiap permasalahan .

Nikmatnya bersama secangkir kopi dibalut senyum dengan iming-iming janji penuh sensasi. Ini bukan jualan Putu, Nasi Tumpeng maupun Iklan. Tidak hanya sebuah gaya bahasa retorika, melainkan drama kolosal seorang 3 sahabat duduk bersama menikmati secangkir kopi dengan membahas teman SARKODES nya .

Janji Sarkodes dibandingkan dengan nikmatnya kopi sebelas duabelas dari rasa kopi tersebut. Kopi memberikan ketenangan jiwa dengan warna hitamnya. Tetapi informasi pusaran politik menambah pekatnya rasa malam itu. Hingga orang sibuk membicarakan empat nama konstestan lomba meracik kopi.

Si ‘Buta memulai pembicaraan pusaran politik yang sangat menyita perhatian masyarakat. “Politik sangat beringas dan kotor,” kata si Buta pada si Pepe. Si Pepe menyahut, “dessiolo” Politik dan kopi beda ceddemi. Kopi memberikan aroma yang harum walaupun tampilanya agak hitam dan pekat, sementara janji politik memberikan rasa manis. Kelihatanya lurus namun jalannya kok bengkok?? gtw kira Ta”(Si Buta). Magani Makessing Ladde Kopi Politik Yae…!!!

Makin larut malam, jiwa ngopi mulai merona bagai pahlawan membawa misi kemaslahatan ummat. Jiwa politik sesungguhnya suci, tapi bertindak seperti “Pensi” tampil kiri kanan obral janji penuh sensasi. Hal ini biasanya terlontar dari mulut penjual obat obat yang sering kita jumpai sudut kota daeng. Berbicara politik, tidak dapat dipisahkan ibarat bangku daerah dan bangku warkop selalu berlomba untuk dapat memenuhi predikat rangking.

Malam makin larut bangku warkop juga selalu diisi dengan kopi. Kopi yang diminum dengan cara seruput juga, tapi ada yang aneh dengan tingkah bangku daerah. Ketika korupsi menjerat kopi pun dilupakanya. Jurus Ngopi yang bisa meredam bahkan menenangkannya. Inilah keajaiban kopi. Kopi membunuh dengan aromanya, tetapi politik membunuh dengan menjeratnya. Sungguh sadis ceritanya “magai “musedding Cang (Sipincang). Nyahutlah si pincang “Makedda tau yae maneng bela” kalau minum kopi tanpa rokok itu sama dengan sayur tanpa garam. Pandangan yang selalu memunculkan pro dan kontra. Politik dimunculkan dengan hidangan uang, semuanya bertujuan memurnikan demokrasi . Semua juga akam melihat bahwa demokrasi itu kopi yang hitam . Tetapi semua ini hanya berada dalam dongeng yang penuh ilusi demokrasi kopi.

Besok Harinya lomba meracik kopi dimulai di lapangan alun-alun citra mas dipenuhi beberapa penonton. Empat calon konstestan sibuk mempersiapkan diri untuk mengambil nomor urut dan tempat mulai dari SARKODES, SANGREGO, MARCEDES, dan LA TONI .

Al Hasil, Sarkodes mendapat nomor urut 1 dengan warna kedai biru. Disusul Sangrego dengan nomor 2, kedai warna merah. Marcede nomor 3, kedai warna kuning dan terakhir La Toni nomor 4, kedai warna merah kecoklatan . Lomba pun dimulai ..!!! GO

Penonton Makin bringas sambil berteriak berikan yang terbaik SARKODES karna hasil dari survai PAJ (perkopian Asal Jadi ) bahwa “SARKODES” lebih tinggi dibandingkan lawan lainya ..!!!! Calon lain pun tak kalah semangatnya lomba berjalan hingga 30 menit dan finish juri mempersilahkan penonton memilih kedai mana dan memberikan hasil penilaian sendiri.

Al hasil “SARKODES” kalah dalam pertarungan dalam lomba meracik Kopi. Dimenangkan oleh La Toni . Pendukung La Toni bersorak gembira atas pencapaianya .

Penulis adalah aktivis IPPMP Pangkep.

Facebook Comments
ADVERTISEMENT