Home Mimbar Ide Peluang dan Tantangan Immawati di Dunia Kampus

Peluang dan Tantangan Immawati di Dunia Kampus

0
Adinda Nurul Aulia Maksun

Oleh : Adinda Nurul Aulia Maksun*

Gelar IMMawati adalah julukan yang diberikan kepada kader perempuan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah atau biasa disebut IMM. Gelar ini, adalah bentuk penghormatan sekaligus menjadi pengingat bahwa ada tanggungjawab yang besar bagi meraka menyandang gelar tersebut.

Banyaknya persoalan dalam dunia Kampus menjadi tantangan bagi IMMawati untuk tetap memberikan peran-peran strategisnya. Dalam kenyataannya, perempuan secara umum masih banyak yang belum tersadarkan dalam mengembangkan potensi dirinya. Baik dalam hal batasan-batasan yang di buat oleh pemikirannya sendiri sehingga memunculkan banyak kekhawatiran dalam bertindak, maupun belum adanya wadah yang tepat dalam bereksplorasi.

Hadirnya Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah dalam dunia kampus terkhususnya di Universitas Hasanuddin ini menjadi salah satu jawaban dari banyaknya kekhawatiran yang ada. IMM sebagai organisasi intelektualisme dan gerakan akhlak dalam membentuk Akademisi Islam yang Berakhlak Mulia ini menjadikan terwujudnya harapan IMMawati dalam menjalankan dakwah berkemajuan. Seperti misalnya, dalam IMM ini terdapat sebuah bidang yang khusus mewadahi dan memberdayakan fungsi/peranan karakter dari seorang IMMawati. Sehingga, kendala yang dirasakan oleh banyak perempuan dengan mengatasnamakan ruang geraknya terbatas justru telah diwadahi dalam Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah ini. dibentuknya bidang immawati ini menjadi pertanda bahwa perannya sangat diperlukan dan tidak boleh diabaikan.

Terdapat banyaknya kasus yang menyebutkan bahwa perempuan saat ini telah termarginalkan atau kadang-kadang perempuan dinomorduakan atau didudukkan setingkat dibawah laki-laki dalam struktur masyarakat tertentu. Hal ini dipengaruhi oleh kebiasaan dari lingkungan sekitar kita yang berdampak pada penetapan peran perempuan dan laki-laki. Namun, pada faktanya di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah ini telah terjadi kesetaraan antara IMMawan dan IMMawati yang dibuktikan pada saat ini (diberikannya ruang untuk IMMawati menjadi Narasumber) dan dipercayainya mereka untuk mengemban amanah sebagai Ketua Bidang RPK, SPM dan IMMawati di Pimpinan Komisariat IMM Hukum UNHAS. Hal ini menjadi bukti bahwa perempuan sudah diberikan kebebasan atau ruang gerak di ruang publik.

Lantas apakah yang menjadi Peluang dan
Tantangan IMMawati dalam Dunia Kampus ?

Ada identitas diri atau hal yang menjadi pembeda antara perempuan IMMawati dan perempuan yang bukan IMMawati. Untuk menjawab itu, maka kita kembalikan pada 3 kompetensi dasar yang dimiliki oleh IMMawati yaitu Intelektualitas. Spritualitas dan Humanitas. IMMawati harus memiliki kapasitasi diri yang baik terlebih dahulu, selanjutnya menjadi Agen Perubahan. Dalam hal ini ini perubahan bagi lingkungan sekitar. Baik dari segi akhlak maupun dari segi intelektualitas serta menumbuhkan jiwa humanitasnya.

Dengan mengajak untuk memberi serta menampilkan sesuatu pada kebaikan, maka sebagai IMMawati harus memiliki kesadaran akan adanya kesetaraan antara laki-laki. Bukan hanya pandai di rumah saja tetapi IMMawati dalam hal ini juga harus mampu untuk aktif di segala bidang. Tentunya dengan melihat kualitas dan kemampuan dari diri immawati. Dengan adanya kesadaran ini bukan untuk membuat sekat antara IMMawan dan IMMawati melainkan untuk menumbuhkan sinergitas antar keduanya yang tentunya sesuai dengan konsep pemahaman dan bingkai ajaran Islam. Selain itu, IMMawati juga diharapkan memiliki kecerdasan yang kritis kreatif dan inovatif dalam setiap gerakan mencetak kader-kader yang handal. Sehingga kedepannya dapat menjaga dan merawat marwah Ikatan, membumikan semangat kemajuan untuk negeri dan membentuk Akademisi Islam yang Berakhlak Mulia meskipun dalam Kampus yang notabenenya bukan berlatarbelakang Muhammadiyah.

Billahi Fi Sabililhaq, Fastabiqul Khairat!
IMM Jaya !

*) Penulis adalah Sekertaris Bidang Kaderisasi IMM FH Unhas

Facebook Comments
ADVERTISEMENT