Home Kesehatan Dikepung Corona! Fight or Flight?

Dikepung Corona! Fight or Flight?

0
Ahmad Arafat Aminullah
Advertisement

(Sebuah Refleksi)

Oleh : Ahmad Arafat Aminullah*

Rekor baru saja tercipta lagi kemarin (24 September 2020). Pertambahan kasus positif korona sebanyak 4634 kasus dalam sehari! Sejak lepas lebaran Idul Fitri lalu, hingga kini, rekor pecah silih berganti. Wabah Corona sepertinya makin menjadi-jadi. Masyarakat kian gigit jari dan serba tak pasti menjalani hari-harinya yang penuh misteri. Pemerintah melalui berbagai lembaga dan satuan tugasnya seakan tak berdaya membendung serangan Covid-19 ini bertubi-tubi. Laksana dalam suasana perang, tampaknya kita semua sedang terkepung dan kian terpojok. _Apalagi hal hal baru yang bisa kita lakukan?_

Sebelum menyodorkan sumbangan pemikiran dan patungan ide dalam melawan perang tak-terlihat ini, baiknya kita menengok ke bulan bulan di belakang. Sejak kasus Covid-19 ditemukan, ada hal sangat keliru kita temukan menyeruak di jajaran pemangku kepentingan nasional, khususnya dalam masalah krisis kesehatan ini. Menganggap remeh masalah, berandai-andai bahwa wabah yang sedang berkecamuk di seluruh dunia itu akan berlalu dengan sendirinya, jumawa berasumsi bahwa Covid-19 tidak akan mengganas di Indonesia, juga utopia masyarakat yang menyandarkan pada perkiraan (model) matematis prediksi kapan wabah berakhir. Banyak faktor dan variabel berkelindan, menjadikan masalah Covid-19 ini merubah wujudnya dari tak hanya sekedar masalah kompleks _(complex problem)_, melainkan telah menjadi “masalah yang licik” (wicked problem).

Wicked problem, menurut Rittell and Webber (1973), adalah problem yang bukan hanya kompleks dan penuh dengan segala komplikasi tetapi juga sangat sulit untuk di pinpoint mana awal, tengah, dan ujung dari permasalahannya. Solusi yang diterapkan kemungkinan besar akan berakhir kepada permasalahan baru.

“A wicked problem is a social or cultural problem that is difficult or impossible to solve for as many as four reasons: incomplete or contradictory knowledge, the number of people and opinions involved, the large economic burden, and the interconnected nature of these problems with other problems”. (Wicked Problems: Problems Worth Solving).

Merefer pada kutipan buku di atas, Wicked Problem menjadi begitu sulit atau bahkan mustahil dipecahkan, disebabkan oleh faktor faktor berikut: (1) kurangnya pengetahuan yang memadai, atau kompleks pengetahuan tersebut saling kontradiktif, (2) skala orang orang dan opini yang terlibat, (3) beban dampak ekonomi yang luas, dan (4) kecenderungan keterkaitan erat masalah Wicked problem tersebut dengan kompleks-masalah-masalah lainnya.

Dalam assessment terhadap keseluruhan ataupun sebagian besar dari 4 faktor tersebut di atas itulah, kita dapat memaknai Pandemi Covid-19 sebagai sebuah Wicked Problem, masalah “yang jahat”, masalah “yang licik” dan sangat tak mudah untuk dipahami dan diselesaikan!

Terlepas dari berbagai teori mengenai mengapa dan bagaimana virus ini pertama kali tercipta dan menyebar luas, agaknya hal yang lebih relevan untuk saat ini kita cermati ialah sejauh mana problem Covid-19 akan terus berkembang dan memengaruhi ruang kehidupan kita yang kian sempit dan dipojokkan? Seperti apa perilaku dan trend persebaran dan ekses negatif yang ditimbulkan oleh virus ini di hari hari yang akan datang? Apa yang bisa, perlu dan mesti kita siapkan dan lakukan dalam menghadapi dan melalui badai dan bah masalah ini?

Meluruskan Paradigma dan Mendudukkan Perspektif Masalah

Salah satu sisi ketidakterdugaan (unprecedented) dalam melihat outbreak virus Covid-19 ialah kita cenderung melihatnya sebagai isu kesehatan semata. Dunia telah memiliki pengalaman panjang dengan MERS, SARS maupun virus Ebola, sehingga masyarakat dunia seolah menganggap Covid-19 adalah _”lagu lama” dalam kemasan yang baru_. Padahal dunia di 2020 ini sudah jauh berbeda dengan dunia di zaman MERS maupun SARS saat pertama kali mewabah.

Ditilik dari fatality rate, Covid-19 memiliki laju kematian yang lebih rendah dari MERS dan SARS. Namun jumlah kasus yang berujung kematian akibat Covid-19 saat ini telah jauh melampaui jumlah kematian akibat MERS (866 kematian) dan SARS (812 kematian). Angka kematian akibat Covid-19 sudah bergerak menuju hampir 1 juta korban jiwa, dari total 31an juta kasus positif Covid-19 yang dilaporkan dari seluruh dunia. Meskipun Covid-19, MERS dan SARS sama sama merupakan jenis coronavirus, namun kebaruan (novelty) pada Covid-19 yang jauh meninggalkan jenis coronavirus pendahulunya menghadirkan skala kengerian tersendiri akibat jumlah kematian (akibat persebaran) yang begitu massifnya.

Namun, dengan _fatality rate_ SARS (9.6%) dan MERS (34.3%) lebih tinggi dari _fatality rate_ Covid-19 (~3%), apa kondisi _underlying_ yang menyebabkan dunia global terpapar wabah ini sebegitu parahnya hingga menjadi pandemi? Prof. *David Heymann, advisor WHO* dan ahli penyakit menular, mengatakan bahwa _GLOBALISASI adalah penyebab begitu dahsyatnya tingkat persebaran virus ini. Dunia internasional yang kian terhubung, transportasi massal (khususnya bepergian melalui pesawat udara) yang kian canggih dan nyaman, serta aktivitas ekonomi perdagangan politik dan lain sebagainya yang bersifat lintas benua, trans-negara dan hiperaktif di berbagai negara adalah _underlying condition_ tersebut. Ya, tingginya level interaksi dan interkoneksi tanpa batas saat ini menghadirkan dilema tersendiri.

Jelas, Perang melawan serangan tentara ganas berwujud virus Covid-19 adalah perang yang masih jauh dari usai dan upaya meraih kemenangannya sangat bergantung tidak hanya pada ketahanan kita, tetapi juga sangat butuh pada strategi dan taktik jitu dalam menghadangnya.

Kita ketahui bersama, penerapan PSBB maupun bentuk isolasi dan pembatasan gerak sosial lainnya di beberapa tempat masih terlihat tidak efektif dalam membendung laju pertambahan kasus baru, yang kini mengantarkan kita pada kekhawatiran bahwa dalam waktu dekat, jika kondisi ini bereskalasi, fasilitas medis Rumah Sakit (dan tenaga medisnya) tidak akan memadai. Banyaknya berjatuhan korban dari kalangan profesional para dokter dan perawat menghadirkan kegamangan dan kekalutan tersendiri dalam penanganan serangan wabah ini.

Analogi rem dan gas yang sempat digaungkan oleh Presiden Jokowi tampaknya menjadi blunder, karena lagi-lagi terkesan pemerintah memberlakukan inisiatif Herd Immunity secara terselubung dan seakan gagal mengantisipasi banyaknya jumlah korban jiwa yang terus berjatuhan. Kecakapan dan kecekatan instansi pemerintah terkait, yakni departemen kesehatan, hingga kini belum menunjukkan adanya terobosan penanganan ataupun pencegahan penyebaran virus secara luas. Bantuan demi bantuan sosial juga ditengarai hanya menjadi proyek bancakan dan rente pihak pihak yang pandai mengambil kesempatan dalam kesempitan ini. Belum lagi, terbaru, pemerintah terkesan sangat abai, tak peduli, dan sangat percaya diri untuk tetap menggelar PILKADA di berbagai daerah di Indonesia, sementara rangkaiannya berpotensi meningkatkan resiko dan menambah cluster persebaran baru si virus buas ini. Apakah masalah dan polemik ini akan terus muncul silih berganti hingga menjadi *bom waktu* yang akan meledak sewaktu-waktu? Time will tell.

Paradigma Fight or Flight, dan Solusi Alternatifnya

Lazimnya dalam pertempuran di medan perang, terkadang kita harus menentukan; apakah kita bersikap ofensif atau defensif, menyerang atau bertahan? Apakah kita harus terus melawan berjuang (fight) mati-matian, ataukah kita bersiap siap untuk flight, mundur perlahan, dan menerima nasib kekalahan?

Jawaban dari pertanyaan di atas tentu sangat bergantung pada di mana posisi kita berdiri, atau seperti apa keadaan kita saat ini.

Di sisi pemerintahan, seharusnya negara tetap hadir, terus hadir, dan selalu berada di garda terdepan dengan segala aset dan perangkatnya untuk membasmi dan mengalahkan musuh yang tidak tampak ini. Tidak-tampaknya musuh ini menambah kerumitan dalam peperangan tersebut, dan segala komando juga counter measure harus dipertimbangkan dampak luasnya secara matang dan menyeluruh.

Di sisi civil society, baik dalam wujud komunitas, organisasi, perusahaan hingga sub-kultur masyarakat apapun, kewaspadaan sosial (social awareness) dan kesetiakawanan sosial (social solidarity) adalah standar minimum yang harus dipenuhi dan ditunjukkan dalam konteks perjuangan (fight) melawan Corona ini. Kolaborasi, kooperasi dan kohesi sosial serta kesatuan sosial sebagai warganegara yang baik, harus ikut digemakan di mana mana, melampaui batas kelas kelas sosial, latarbelakang golongan dan identitas lainnya.

Namun, di level individu, atau ke unit terkecil keluarga, pilihan berjuang (fight) atau mati (flight) terkadang terlihat kurang realistis dan relevan dalam upaya survival dan strive untuk masa depan yang lebih cerah. Maka, dalam kerangka pengetengahan solusi alternatif dalam mewaspadai Wicked Problem Covid-19 ini, penulis mengetengahkan paradigma Freeze/Fire.

Dalam situasi sederhana, krisis dan perang cukup dihadapi dengan salah satu dari dua sikap tadi: fight, or, flight. Namun dalam situasi serba dilematis dan serba tidak pasti seperti saat ini, kita bisa menengok ke pasangan pilihan ketiga, Berdiam (Freeze) atau Bergerak (Fire) secara bergantian. Konsepsi Freeze/Fire ini dapat dimisalkan dengan upaya bergerilya menghindari kejaran musuh yang tak tampak yang senantiasa mengintai: terkadang kita harus terdiam, membatu bak membeku untuk meng halt (menghentikan sementara) segala aktivitas yang kita lakukan; terkadang pula kita mesti sigap kembali meleburkan kebekuan tersebut, memanaskan semangat hidup dan bergerak mencari sumber penghidupan.

Inilah yang kiranya dihadapi oleh banyak dari kita semenjak wabah Covid-19 ini merajalela. Bertambahnya manusia manusia yang miskin mendadak, tergelincir dari kelas ekonomi menengah menjadi ekonomi arus bawah, serta menurunnya gairah roda perekonomian adalah gejala baru yang ikut mewabah. Economic slow down, perlambatan ekonomi, telah berubah menjadi resesi ekonomi di ambang pintu kita semua. Kepanikan massal, histeria sosial dan kekalutan (depresi) nasional dengan segera akan menjadi warna hari hari kita ke depan, jika tidak ada tindakan _preemptive_ maupun mitigatif yang bisa dilakukan.

Dalam situasi serba krisis dan serba sulit serta dilematis saat ini, kita tidak hanya boleh berharap pada pemerintah saja. Mereka telah lama bekerja, dan dengan waktu yang sekian bulan menanggapi benturan akibat serangan wabah ini, pun masih belum bisa memberikan jawaban dan ketenangan di tengah tengah masyarakat.

Saatnya kita menoleh pada lingkungan sekitar, memperkuat hubungan dan relasi sosial komunal dari lingkaran kehidupan terdekat yang kita miliki: keluarga, rukun tetangga, jamaah masjid setempat, hingga grup grup kemasyarakatan dengan berbagai jaringan dan tingkatannya. Saatnya krisis ekonomi akibat menurunnya dayabeli dan PHK di sana sini di _counter_ dengan membangun kembali ketahanan pangan dan solidaritas berbasis sektoral untuk bertahan hidup bersama-sama: _berbagi ataupun memberi_.

Saatnya kita bergerak dan menggerakkan mekanisme sosial kemasyarakatan lainnya secara lebih luas, dengan memasifkan kepedulian sosial dan inisiatif jaring pengaman kehidupan masyarakat secara swadaya, mandiri, dan publik-berbagi (crowd-sharing). Kantung-kantung sosial kemasyarakatan bersama simpul simpul kekuatan ekonomi secara luas harus bersinergi dan bahu membahu dalam membagi tugas kepedulian terhadap sesama ini, dalam rangka meringankan beban kita bersama, dan terus berupaya survive bersama-sama pula.

Dan, saatnya mencolek diri sendiri, mencubit kulit kita sendiri, atau kalau perlu: menampar diri sendiri! Agar kita semua, saya dan Anda, selalu tersadar dan waspada: bahwa Covid-19 benar benar nyata adanya, ia mengintai siapa saja, dan tanpa ampun akan membunuh siapapun yang berhasil dijangkitinya. Ketidakpercayaan, peremehan, ataupun kesombongan ego-sentralistik pribadi narsistik tidak akan pernah menutup fakta bahwa virus ini benar benar ada dan memakan korbannya dari masa ke masa, di mana mana!!!

Kekuatan kolektif sosial pada hakikatnya bertumpu pada agregat kesadaran individual yang matang, utuh dan dewasa. Matang untuk mengambil sikap dan membuat segala keputusan strategis; utuh dalam memandang seluk permasalahan yang terjadi; dan dewasa dalam menerima segala kemungkinan konsekuensi apapun yang terjadi.

Penulis terhenyak dan tersentak demi mengetahui bahwa keluarga dekat (paman, tante, kakak sepupu, keponakan), juga karib kerabat (teman sekantor, teman seorganisasi komunitas, hingga mentor senior) hingga begitu banyaknya figur publik dan para pesohor yang nyatanya terjangkit dan menderita penyakit ini. Korban demi korban telah, sedang dan akan terus berjatuhan, dan jika kita tidak waspada terhadap kesadaran kesehatan dan kontak-sosial kita sendiri sehari-hari, bisa jadi *kitalah yang berikutnya terkapar akibat terpapar*.

Maka, terakhir, marilah kita semua menoleh dan menghadap kepadaNya, Yang Maha Esa, Yang Maha Berkuasa juga Maha Memberi Perlindungan bagi yang dikehendakiNya. Semua ini adalah lintasan sejarah dan peristiwa yang terjadi atas ijin-Nya, dan kepadaNya jualah kita mengadukan segala kepayahan, meminta segala bentuk pertolongan, seraya melangitkan segenap pinta doa untuk bangsa kita, masyarakat kita, keluarga dan handai taulan yang kita cinta, kiranya Ia memberikan kita keteguhan, ketabahan, kesabaran serta sejumput kesyukuran dan asa optimisme untuk menyongsong hari esok: episode baru dan terbarukan untuk perjuangan (fight), pengabaian (flight), juga penghentian sementara (freeze) ataupun pembangkitan energi baru (fire) selanjutnya.

Kita tidak pernah memiliki hidup kita sendiri. Tetapi, dengan memikirkan kehidupan orang lain, ataupun menjalani kehidupan yang bernilai tinggi, niscaya kualitas kehidupan kita bukan sekedar angka yang dihitung dan dilewati.

Sebagaimana lintasan update berita tentang perkembangan Covid-19 sehari-hari juga bukanlah tentang rambatan angka atau trend semata, melainkan cerminan dari perjuangan mati-matian bersama sama semua pihak – maka marilah kita berhenti menghitung berapa rekor yang bertambah ataupun jumlah yang terselamatkan; melainkan *marilah kita mulai bergerak* untuk turut menjadi sebab keselamatan kehidupan orang lain di sekitar kita, _bagaimanapun bentuknya dan apapun wujud kepedulian kita itu_.

_Kita mungkin tengah terkepung_, tetapi ketika *kita bersatu*, kita pasti akan teguh dan lebih tegak berdiri – _selamanya!_

*) Penulis adalah Ketua Umum PP PRIMA DMI

Tulisan ini didedikasikan untuk:

1. Keluarga besar di Tj. Priuk yang terpapar Covid-19 (om, tante, kakak sepupu dan keponakan).

2. Almarhum Zainal Tahir yang berpulang ke haribaanNya

3. Saudara Ibrahim Hamdani yang terdeteksi positif Covid-19 dan sedang melakukan isolasi Mandiri

Facebook Comments
ADVERTISEMENT