Home Literasi Novel Pulang, Derita Eksil Politik Indonesia di Paris

Novel Pulang, Derita Eksil Politik Indonesia di Paris

0
ADVERTISEMENT

Oleh : Ahmad Abdul Basyir*

Judul buku : Pulang
Pengarang : Laila S Chudori
Penerbit : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Tahun terbit : Desember 2012
Tebal hlm . : 464 halaman

Sejak pecahnya gerakan 30 September 1965 yang berujung terbunuhnya tujuh jendral. Stabilitas negara dalam kondisi tak sehat. Alih-alih dalam peristiwa itu dicatat sebagai sejarah yang kelam dan beringas. Sehingga mengakibatkan ribuan darah tumpah ruah akibat kekacauan tersebut.

Soekarno sebagai rezim orde lama pada saat itu kemudian digantikan oleh Soeharto sebagai rezim orde baru (orba). Saat kekuasaan di tangan pemerintah baru. Kacamata rezim tersebut menyorot Partai Komunis Indonesia (PKI) sebagai dalang dalam aksi pembunuhan tujuh jendral tersebut. Secara kolektif instruksi rezim orba dimulai dengan menetapkan TAP MPR Nomor 25 Tahun 1966 tentang pembubaran Partai yang dianggap berhaluan kiri ini. Seluruh pimpinan PKI, kader, simpatisan, dan keluarga serta rekan-rekan yang dekat dengan PKI harus diburu, ditahan dan diinterogasi.

Nah, didalam buku novel ini Dimas Suryo, Risjaf, Nugroho Dewantoro, dan Tjai Sin Soe adalah eksil politik Indonesia di Paris. Mereka bertahan meski terbuang jauh di negeri orang, diburu dan dicabut paspor Indonesia-nya karena dekat dengan orang-orang Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), yang berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia. Di Paris yang terkenal menara Eiffel inilah kemudian berjuang hidup, mereka tetap mencintai Indonesia, dengan cara memberi manfaat bagi Indonesia dengan mengelola Restoran Tanah Air, sebuah restoran Rue Vaugirard di pinggir Paris. Restoran ini menyediakan makanan dan kegiatan yang mempromosikan Indonesia.

Dalam novel tersebut juga diceritakan bagaimana pahitnya yang dirasakan para tahan politik yang dikejar hingga ke luar negeri. Salah seorang diantaranya adalah Dimas Suryo sebagai tokoh utama yang lebih banyak disorot. Dimas itu harus mengembara di negara orang dan hidup tanpa keluarga. Walau tak sendiri mengembara, tapi ia merasa beda hidup di negara orang, yang bukan tanah kelahirannya. Tentunya kerinduan pada negeri sendiri akan hadir, kenangan cinta dengan Surti, hubungan suami-istri dengan Viviene yang rentan putus dan akhirnya cerai, serta kecemasan tak bisa pulang dan keinginannya dikubur di Indonesia membelitnya. Di saat yang sama, ia harus bertahan hidup layak dan merawat Lintang, anak perempuannya, yang jadi penyemangat hidupnya.

Jadi Dimas itu bertemu dengan Viviane Deveraux di Paris, 1968 ketika para mahasiswa berkecamuk, Viviane ini ikut juga dalam aksi demonstrasi. Dan Viviane merupakan seorang wanita asal menara Eiffel. Ia hidup bersama hingga menghasilkan anak, yang kemudian diberi nama Lintang Dimas. Tapi kebahagiaan itu hanya sekejap mata, karena sering kali ia melamun ingin kembali pulang ke negaranya sendiri. Dan keinginannya dikubur di Karet.

Perasaan itu tiba saatnya, ketika anaknya yang sudah remaja akan ke Indonesia, tempat ia akan meneliti. Sebab, sebagai penunjang untuk kelulusan dirinya di salah satu di Universitas di Prancis yang dimasukinya. Perasaan Dimas pun kembali bahagia karena bayangan ingin ke negaranya sendiri diri sudah dikubur dalam-dalam. Kini ia mendengar buah hatinya akan ke Indonesia. Meski hanya anaknya, ia berpikir bahwa sebagian dirinya sudah di Lintang.

Dua tahun Lintang, meneliti di Indonesia. Dimas pun sakit-sakitan. Ia tak ingin memberi tahu anaknya. Dimas ia ingin fokus saja pada studinya. Sementara itu ibunya yang sudah ia ceraikan juga menutupinya. Tiba saatnya, Lintang mendengar bahwa Dimas sakitnya parah. Ia pun balik ke Prancis. Sesampainya disana ia sudah meninggal. Lintang pun mengingatkan bahwa ayahnya ingin di bawa pulang ke Indonesia agar bisa di kuburkan mayatnya ini di kampung halamannya sendiri. Begitu lama menanggung luka, beban, derita, duka. Dan harapan besarnya terkabulkan saat ia sudah tak bernyawa dan disaat rezim reformasi 1998, berjaya.

Jadi buku ini begitu bagus dan keren, ya. Karena menceritakan bagaimana penderitaan yang dialami para tahanan politik. Dan kita juga akan disuguhi kisah cinta percintaan antara gadis Prancis dengan lelaki pribumi. Buku juga ini mengajak kita untuk kembali kebelakang bagaimana kekacauan pada saat itu. Yang kemudian kekacauan itu selalu diperingati setiap 30 September. Dan buku ini juga mudah dicerna, seperti kita menonton film. Tapi kalau pilihan saya akan memilih membaca buku novel ini saja. Karena terkadang kalau film atau sinetron. Ya. Biasa masih disembunyikan. Sehingga saat ini saya tak menemukan kekurangan dari buku ini. Saya menikmati buku ini. Dan saya menganggap keren.

*) Penulis adalah pemuda Takalar

Facebook Comments
ADVERTISEMENT