Home Fajlurrahman Jurdi Kasman Abdullah; Orang Sederhana Itu Telah Pergi

Kasman Abdullah; Orang Sederhana Itu Telah Pergi

0
Kasman Abdullah (alm)

Oleh : Fajlurrahman Jurdi*

Perawakannya besar, meskipun tidak tinggi, senyumnya menawan, kumisnya mempesona, sikapnya yang tenang dan kebapakannya yang mengayomi. Ia kelihatan “menakutkan” saat membimbing mahasiswa, karena pasti banyak koreksi dan perbaikan, namun ide dan argumennya terarah. Kasman Abdullah, lelaki sederhana itu, telah pergi meninggalkan kita, menjauh bersama kita dan ia meninggalkan monument pengetahuan di kepala banyak orang, terutama mereka yang pernah di ajarnya.

Ia hidup sederhana hingga akhir hayatnya. Ia menjadi intelektual dengan karakter yang berbeda, tegas dan konsisten. Sikapnya pada kebenaran tak perlu anda ragukan, ia berani berdiri diseberang meskipun sendiri. Kasman, anda telah pergi, pergi menghadap Dia yang maha Kuasa, tempat semua kita akan kembali.

Saya adalah salah satu muridnya, diajar dan dibimbing, hingga menjadi sarjana.

Sekali-sekali kami terlibat diskusi panjang soal satu hal, lalu merambah ke banyak hal lainnya. Ia menguasai logika hukum tata Negara secara runut, dan yang “menyebalkan” bagi mahasiswa adalah, ia teliti memeriksa tugas. “Jrul, kalau mahasiswa mau datang protes nilai ke saya, saya akan tunjukan semua apa yang ia kerjakan, karena arsip pekerjaan mereka saya simpan hingga tiga tahun”, demikian pengakuannya suatu ketika.

Pak Kasman meretas jalan intelektual organik. Dalam keheningan, ia bekerja dan membaca, dalam sunyi, ia merenung dan berpikir. Dengan caranya, ia bisa terus mempertahankan idealisme yang ia pegang, yakni Idealisme kaum intelektual. Ia tak tercerabut dari akarnya, sebagai homo academicus, dan ia bertahan hingga ajal menjemputnya. Ini adalah pelajaran penting bagi kami yang masih muda, bertahan untuk tak tergerus dan terbawa arus, meskipun badai terus datang menerpa.

Di departemen hukum tata Negara, beliau selalu membagikan buku-buku asing. Ia senior yang bermurah hati, mencari buku-buku dan membagikan gratis ke kami di group WA. Rutinitasnya mendownload buku-buku hukum yang ditulis para ahli dari berbagai Negara, membuat bacaannya memiliki horizon yang tak terjangkau. Saya yang malas membuka referensi asing, merasa terbantu dengan buku-buku yang ia bagikan dan beberapa kali saya mengucapkan terimakasih pada sikap murah hatinya itu.

Pak Kasman menyelesaikan doktornya dengan perjuangan yang cukup berat. Ia jatuh sakit, lalu sejenak terhenti, dan melanjutkan lagi. Apa yang di derita oleh almarhum selama menempuh pendidikan doktor, tentu merupakan cermin betapa mimpinya pada gelar tertinggi itu mengabaikan kesehatannya. Ia selesai, dan menikmatinya, meskipun waktunya tidak begitu lama.

Pak Kasman, raga anda telah pergi, tetapi energy dan spirit kaum intelelektual yang melekat bersama jantung kehidupan sosial anda, akan menjadi warisan penting bagi kami yang masih bernafas. Bahwa pelajaran-pelajaran kehidupan itu tak akan pernah bisa hilang hanya karena raga anda telah pergi. Anda adalah guru, guru yang memberi tanpa pamrih, guru yang senyumnya tulus, guru yang menegur kami karena cinta. Kami kehilangan, kehilangan senior, kehilangan guru dan kehilangan kolega yang baik.

Selamat jalan. Kita akan bertemu di tempat keabadian, Insya Allah anda akan memperoleh tempat terbaik di sisiNya.

Makassar, 15 Januari 2021

*) Penulis adalah dosen Fakultas Hukum Unhas

Facebook Comments
ADVERTISEMENT