Home Mimbar Ide Adapun yang Selalu Terlewat itu adalah Waktu: Refleksi tentang Kebahagiaan dan Hakikat...

Adapun yang Selalu Terlewat itu adalah Waktu: Refleksi tentang Kebahagiaan dan Hakikat Diri

0
Poetra Juhar

Oleh : Poetra Juhar*

Mungkin terancam selamanya, aku akan mengenang kisah yang pernah terlewatkan bersama selama kurang lebih 45 hari dalam bait-bait do’a. Sebuah cerita yang akan terekam indah dalam memori kenangan yang membentuk pusaran cerita abadi. Dan pusaran itu membawa lilitan senyawa rindu yang pernah kita syukuri dan tidak pernah terlupakan.

Biarlah do’a-do’a menyusuri di setiap sujud penghambaan tiap diri di ruang sepertiga malam, mentasbihkan kerinduan, menggetarkan kesadaran bahwa tiap cerita menyimpan keunikannya sendiri; selalu teringat, pun meski raga itu terpisahkan oleh jarak, dan waktu yang berlari senyap.

Biarkan waktu yang bersaksi, di tempat yang berbeda pun kita akan saling bercerita dalam pelukan rindu dan selalu mendo’akan antar satu sama lain, menjaga pengharapan semoga kalian selalu terjaga dalam setiap langkah dan perjuangan.

Aku masih ingat akan satu cerita yang indah ketika dinginnya subuh tergantikan pagi menjelang, kawan yang berakhir sahabat di ruang pengabdian selalu menyambutku dengan tawa bahagia. Kebahagiaan yang begitu sangat sederhana; dengan menyajikan segelas teh dan kopi hangat di ruang tamu depan pondok posko sambil bercerita iseng dan pecah tawa tentang omong kosong kehidupan.

Masa bahagia telah kita lewati bersama; aku dan kalian telah meriwayatkan kisah pengabdian yang luar biasa menandai masa yang tiba, menghilang dan sirna. Namun, kemudian tercatat dalam sejarah pengabdian kita (KKN) dan selalu teringat kembali di kemudian hari, semoga berkenan sambil saling mendoakan dari jarak kita yang berbeda. Atau kembali bersua, bercerita perjuangan semua.

Kita adalah cerita, ketika orang-orang akan terus bertanya kenapa kita begitu bahagia. Sejauh mungkin langkah kita akan pergi, kuharap di hati kalian cerita kita telah terkunci di peti memori. Karena ketiadaan kalian adalah kesepian yang menjerat, namun kita paham kasih sayang kita sebagai sahabat tak boleh terus dibatasi jarak; kita mesti belajar mencintai sebagai saudara dan saudari sejak dari hati, dan untuk hati. Kita juga bukan mencintai jarak, raga fisik, dan yang nampak, tapi kita mencintai ketulusan, keadilan, persahabatan yang ada di sini, tunjuklah dada kita di hati.

Ada banyak harapan yang terselip di lubuk hati yang mendalam, untuk sekali waktu Tuhan memberikan kesempatan untuk kita bertemu dan bersua, mengenang kembali masa indah yang pernah terlewati.

Hidup adalah anugerah Tuhan yang paling menarik di muka bumi, memberikan hal-hal tak terduga setiap saat. Termasuk bahagia dan sedih yang silih berganti datang menyapa tiap momen hari. Hidup memberikan banyak pembelajaran yang kadang kala atau bahkan sering tak disyukuri, tak dinikmati, bahkan tak benar dilakoni.

Di saat tiap rasa sakit memberikan cerita luka bah malam kelam, dingin menusuk masuk ke dalam palung jiwa. Semua kita merasakan hangatnya hidup sedang aku seperti selalu hidup dalam tanda tanya besar untuk mencari kebenaran hidup yang sesungguhnya, sampai aku akan benar-benar menemukannya, di dalam hati dan realitas luar hati. Dari sederetan langkah yang tertatih telah aku jalani, hanya menemukan kebenaran naif, yang kita berpura-pura dan kita membohongi diri sendiri di saat kita berpikir sedang membohongi orang lain.

Aku hadir untuk dunia saat dilahirkan pertama kali, atau barangkali dunia hadir untuk diriku? Bumi yang begitu asing dihadapi namun tak pernah asing di genggaman asuh dan kasih sayang ibuku berlaku hingga detik ini, nafas tapal do’a kasihnya, air mata manusia yang disebut Ibu itu. Bagiku tiap nafas terasa begitu berat saat menjadi dewasa, dewasa mengindikasikan pengaturan diri sendiri yang rapi walau jauh dari ekspektasi indah dalam khayalan masa kecil. Sebab, banyak kasih sayang di dunia saat ini mulai menghilang satu persatu, sayap kasih itu mulai dipatahkan hanya karena individualitas ke-asyik-an dengan dunia, dan ego sendiri.

Kehidupan diibaratkan panggung sandiwara semua orang, mereka berlakon memenuhi peran masing-masing. Membuat kasih sayang kering di setiap tempat, entah karena munafik atau sudah terlampau menyukai keegoisan yang ditumpuk-tumpuk dalam hati.

Hidup juga memberikan beberapa tanda tanya yang masih memenuhi langkahku. Aku ingin menghilang sejenak bermeditasi, mencerna segala keluh kesah hingga dapat siap kembali dengan jawaban yang terasah dan penuh arti.

*) Penulis adalah Mahasiswa Sejarah dan Kebudayaan Islam, UIN Alauddin Makassar

Facebook Comments
ADVERTISEMENT