Home Hukum Pejuang Anti Korupsi

Pejuang Anti Korupsi

0
ADVERTISEMENT

Oleh : Nur Fadliansyah Abubakar*

Berdasarkan penjelasan umum atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2019 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi Tindak Pidana Korupsi, tindak pidana korupsi di Indonesia sudah meluas dalam masyarakat, perkembangannya terus meningkat dari tahun ke tahun, baik dari jumlah kasus yang terjadi dan jumlah kerugian keuangan negara maupun dari segi kualitas tindak pidana yang dilakukan semakin sistematis serta lingkupnya yang memasuki seluruh aspek kehidupan masyarakat.

Meningkatnya tindak pidana korupsi yang tidak terkendali akan membawa bencana, tidak saja terhadap kehidupan perekonomian nasional tetapi juga pada kehidupan berbangsa dan bernegara pada umumnya. Tindak pidana korupsi yang meluas dan sistematis juga merupakan pelanggaran terhadap hak-hak sosial dan hak-hak ekonomi masyarakat. Dan karena itu semua, tindak pidana korupsi tidak lagi dapat digolongkan sebagai kejahatan biasa melainkan telah menjadi kejahatan luar biasa. Begitupun dalam upaya pemberantasannya tidak lagi dapat dilakukan secara biasa, tetapi dituntut cara-cara yang luar biasa.

Nilai-nilai antikorupsi meliputi jujur, tanggung jawab, dan disiplin sebagai nilai inti. Kemudian, nilai berani, adil, dan peduli sebagai nilai pada aspek sikap. Selanjutnya nilai sederhana, kerja keras, dan mandiri sebagai nilai pada aspek etos kerja. Membangun karakter dalam diri itu bukan berbicara mengenai mudah atau sulit, melainkan mau atau tidaknya kita melakukannya. Saat ini yang dibutuhkan Indonesia adalah orang-orang yang berkualitas serta progresif sebagai pejuang anti korupsi.

Budaya antikorupsi dapat terwujud dengan proses pendidikan dan kampanye yang berkelanjutan sepanjang hidup seseorang (on going process). Sebagai suatu pemberdayaan mental, maka bersifat jangka panjang dengan proses yang berkelanjutan (progresif). Fungsi regenerasi adalah menyediakan sumber daya manusia sebagai penggerak komunitas agar bisa konsisten dan berkelanjutan. Tindakan sosial antikorupsi membutuhkan upaya penanaman nilai-nilai antikorupsi secara sistematis dan berkelanjutan. Pada dasarnya kepribadian seseorang tidak muncul secara instan, na­mun melalui sebuah proses sebagai pejuang anti korupsi.

Advertisement

*) Penulis adalah mahasiswa S-1 Departemen Hukum Pidana, Program Studi Ilmu Hukum, Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin, Angkatan 2018 dan Kader Gerakan Radikal Anti Tindak Pidana Korupsi (GARDA TIPIKOR) Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin.

Facebook Comments
ADVERTISEMENT