Home Mimbar Ide Pandemi COVID-19, Katastrofi Sosial, dan #OrkestrasiIMM

Pandemi COVID-19, Katastrofi Sosial, dan #OrkestrasiIMM

0
Dzar Fadli El Furqan

Oleh : Dzar Fadli El Furqan*

Terhitung 15 bulan sejak pertama kali virus COVID-19 teridentifikasi menabuhkan genderang perang dengan umat manusia di Wuhan, China. Ujian yang tercatat dalam sejarah itu seperti memiliki pola yang terulang tiap 100 tahun sekali. Pandemi kali ini mampu menghebohkan masyarakat dunia karena intensitas mobilitas yang tinggi, tidak hanya mobilitas gerak masyarakat yang meningkat, tetapi juga arus mobilitas informasi yang begitu padat pada ekosistem media sosial hari ini.

Mari kita bandingkan dengan Pandemi flu spanyol yang terjadi pada awal abad ke-20. Banyak kesamaan antara pandemi flu spanyol dengan pandemi covid-19 hari ini. Di antaranya cara penularan melalui udara (aerosol), kebijakan pemerintah Dunia hari itu, diimami oleh Pusat Pengendalian Penyakit Menular (CDC WHO), hampir mirip dengan cara pemerintah hari ini menghambat penularan COVID-19. Tujuannya sama : Membentuk kekebalan kolektif di masyarakat; sebagai satu-satunya hal yang bisa mengakhiri pandemi ini. Memakai masker hingga mengurangi mobilitas masyarakat menjadi pilihan utama agar infeksi antarmanusia ini bisa diperlambat mengingat daya tampung fasilitas kesehatan yang kurang memadai.

Berkurangnya mobilitas masyarakat menjadikan model-model aktivitas yang lumrah terjadi dipaksa menyesuaikan dengan keadaan. Dengan bantuan Internet of Things di era digital hari ini, umat manusia banyak terbantu dalam proses penyesuaiannya. Masyarakat dipaksa menutup rapat-rapat pintunya jika tidak ada kegiatan bermakna di luar rumah. Anak sekolahan masih bisa berhubungan dengan guru melalui gawai smartphone. Para pekerja yang dirumahkan harus banyak mengubah pekerjaan manual ke cara-cara digital. Dibalik itu semua, tidak sedikit yang tidak mampu menyesuaikan. Banyak anak yang terpaksa putus sekolah, perusahaan harus kolaps, ditambah wabah penyakit yang belum terkendali.

Terlepas dari kenyataan-kenyataan yang membuat kita banyak murung, kondisi gelap dari kehadiran pandemi, dan konteks relasi kuasa yang memperparah dampaknya terhadap kelompok yang terpinggirkan, kita perlu untuk mengambil pandangan yang mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan lain. Dalam studi kasus perubahan etnografi lintas zaman pasca pandemi oleh Imam Ardhianto, Antropolog UI, lugas menjelaskan sebagai : “muncul alternatif imajinasi kreatif dan eksperimen sosial yang berperan dalam membentuk aneka ragam tatanan kehidupan yang memiliki resiliensi terhadap bencana.”

Inilah yang oleh Oliver Smith, menyebut kondisi katastrofi entah itu sebagai pandemi ataupun bencana lainnya berpengaruh terhadap terbentuknya sebuah krisis yang menyingkap suatu persoalan (crise revelatrice). Dalam hal ini, justru kondisi krisislah yang membantu manusia untuk mengevaluasi kembali dan mempertimbangkan aspek-aspek mendasar kehidupan sosial dan budaya yang diperlukan manusia.

Organisasi hari ini juga tidak lepas dari kondisi katastrofi, bahkan jika mau melihat lebih jauh, itu terjadi jauh sebelum pandemi COVID-19 melanda. Generasi digital dekat dengan kondisi-kondisi yang serba instan dan praktis menjadikan psikologi yang ‘ogah-ogahan’ muncul ketika ditawari kesibukan-kesibukan yang melelahkan dan tidak orientatif, atau setidaknya kapabilitas pengajaran yang belum membumi sesuai zaman.

Model berorganisasi hari ini bisa kalah dengan model komunitas-komunitas paguyuban non-ideologis di luar sana jika tidak mengalami pembaharuan. IMM punya modal besar pada substansi ideologi ikatan, dan dipayungi ideologi persyarikatan. “Ide-ide dan paradigma terbarukan, tetapi konservatif secara gerakan” hanya menjadi jargon tanpa upaya serius untuk mengontekstualisasi gerakan yang ramah zaman. Pengilmuan IMM sudah banyak coba dilakukan sebagai wujud upaya agar IMM tidak kehilangan ruh gerakannya. Muh. Akmal Ahsan secara gamblang menyatakan, “..hanya dengan demikian, IMM akan terus hidup dan menghidupi zaman, terintegrasi dengan kenyataan tanpa kehilangan nilai dan prinsip yang dianut.”

Mobilisasi dan Orkestrasi IMM

Prof. Rhenald Kasali, Bapak Disrupsi Indonesia, megeluarkan suatu narasi formulasi sebagai bentuk reaksi terhadap kondisi realitas hari ini. Bukunya yang berjudul #MO; Mobilisasi dan Orkestrasi dijelaskan bahwa di era hyperconnected ini, tidak diperlukan kehebatan luar biasa. Cukup keterampilan mobilisasi. Sedangkan untuk orkestrasi dibutuhkan leadership dengan cara-cara terbaru. Tagar-tagar yang belakangan ini marak menjadi objek komunikasi di media sosial membuat banyak orang gagal paham, yang dianggap sebagai mainan kawula muda saja. Padahal, melalui tagar-tagar tersebut tersirat niat-niat mobilisasi.

Mobilisasi ini pun tidak berdiri sendiri, berdampak luas dan menjadi indikator hadirnya praktik-praktik baru dalam kehidupan yang digerakkan oleh sosok orang hingga menjadi sebuah orkestra yang seirama dan harmonis. Artinya, di satu sisi ada mobilisasi dan di sisi lain ada orkestrasi. Panggung orkestra itu harus mampu banyak diciptakan di tubuh internal organisasi hingga di akar rumput, sehingga mampu mengakomodasi kader lebih luas.

Nilai IMM berupa tri kompetensi dasar : Religiusitas, Intelektualitas, dan Humanitas, sebagai bentuk konsensus keilmuan secara kolektif yang kita anut sampai hari ini, secara reflektif, penting untuk kita pikirkan sudah sejauh mana terwujud dalam diri mahasiswa hari ini. Ekspansi gerakan yang lebih massif juga berorientasi untuk mengembangkan sayap dakwah guna mewujudkan apa yang menjadi Nilai Dasar Ikatan (poin 2) : Islam yang berkarakter hanif dan rahmatan lil ‘alamin. Patut untuk kita coba hidupkan panggung #OrkestrasiIMM sebagai crise revelatrice Pandemi COVID-19 ini.

Referensi :

Oliver-Smith, Anthony. “Anthropological research on hazards and disasters.” Annual review of anthropology 25.1 (1996): 303-328.

Ardhianto, Imam. “Membangun Kehidupan dari Reruntuhan : Nilai, Ekonomi-ekonomi Kemanusiaan, dan Pertalian Sosial di Tengah Krisis Pandemi.” Koentjaraningrat Memorial Lectures (2020)

Kasali, Rhenald. “Series on Disruption : #MO. Sebuah Dunia Baru yang Membuat Banyak Orang Gagal Paham.” (2019). Mizan

Artikel oleh Muh. Akmal Ahsan. Pengilmuan IMM : Mungkinkah?, dapat diakses melalui : https://madrasahdigital.co/wacana/pengilmuan-imm-mungkinkah/

*) Penulis adalah Kabid SPM PC IMM Kota Makassar

Facebook Comments
ADVERTISEMENT