Home Literasi Pekat yang Menjadi Pudar: Eksistensi Rimpu

Pekat yang Menjadi Pudar: Eksistensi Rimpu

0
Poetra Juhar

Oleh : Poetra Juhar*

Rimpu merupakan salah satu kultur budaya Bima yang dalam kesehariannya sangat erat kaitan dan bahkan mendarah daging dengan perempuan Bima itu sendiri. Yang keberadaannya sudah ada sejak lama dari turunan nenek moyang dan tidak pernah kita temukan dalam budaya lain di Indonesia bahkan dunia sekalipun, dan merupakan salah satu kultur budaya turun temurun eksis terus ada hingga awal-awal kultur sebagian masyarakat Bima era modern.

Hampir setiap tahun, di wilayah Indonesia terkhusus di Bima dalam acara memperingati Hari Jadi Bima, selalu diadakan pagelaran pawai budaya Rimpu untuk terus mengenang dan melestarikan budaya rimpu itu sendiri. Rimpu merupakan semacam penampilan khas busana oleh masyarakat Bima yang menutupi seluruh kepala hingga melebihi dada oleh para perempuan Bima. Tata cara pemakaian rimpu yang sangat sederhana yaitu dengan menggulungkan sarung di kepala dengan menggunakan sarung tenun khas Bima yang biasa disebut Tembe Nggoli.Tapi sekarang sangat disayangkan sekali, pagelaran Pawai Budaya Rimpu hanyalah dijadikan sebagai euforia keindahan semata.

Beramai-ramai kalangan datang untuk meramaikan, baik dari kalangan tua, muda, perempuan dan laki-laki ikut memeriahkan dan menyuarakan inilah budaya kami, budaya orang Bima (Dou Mbojo).

Adapun disayangkan yang penulis maksud adalah sebagian masyarakat kita hanya memeriahkan sebatas seremonial saja tapi melupakan eksistensi sebenarnya dari sesungguhnya Rimpu.

Bahwasanya eksistensi dari Rimpu adalah melindungi dan mengarahkan perempuan Bima menutup aurat sesuai tuntunan agama agar nilai-nilai Islam yang terkandung dalam Rimpu itu sendiri tetap terjaga dan terpatri dalam diri perempuan Bima (Dou Mbojo) khususnya.

Dalam kacamata penulis, melihat dari Pawai Budaya Rimpu yg diselenggarakan oleh lembaga atau pemerintah Bima itu sendiri, atau menyebut salah satunya beberapa waktu lalu diselenggarakan oleh teman-teman Komunitas Mahasiswa Pecinta Art (KOPA) Bima-Dompu di Makassar pada Kamis, 24 Oktober 2019; dapat kita amati amat masih begitu banyak terlihat perempuan-perempuan Bima yang tata cara pemakaian sarung adat ini begitu asal-asalan. Dalam artian tidak sesuai dengan pemakaiannya yang dimaksudkan, yang sebenarnya. Satu jenis jenis Rimpu yang sebenarnya teruntuk perempuan Bima yang belum menikah (gadis) diharuskan mesti menggunakan Rimpu Mpida tapi malah kebalikan daripada itu, kebanyakan dari mereka malah memakai Rimpu Colo yang diperuntukkan untuk wanita yang sudah menikah.

Dalam studi kasus di atas, sama sekali tidak dimaksudkan agar kita menyempitkan budaya yang ada. Namun, kita mesti lebih apresiatif pada nilai-nilai luhur budaya Rimpu yang hidup. Dengan menjaga dan melestarikan, atau bahkan menciptakan nilai dan kreasi yang benar-benar baru dari jenis pemakaian Rimpu yang telah ada sebelumnya.

Untuk sama-sama diketahui, jenis Rimpu Mpida semacam pemakaian niqab, membiarkan hanya terlihat kedua mata pemakainya, para gadis yang mesti menjaga aurat, kehormatannya. Sedang, Rimpu Colo adalah sebutan gaya pemakaian Rimpu yang seperti pemakaian hijab pada umumnya di Indonesia dan khusus ini teruntuk bagi para perempuan yang telah menikah.

Pendidikan kebudayaan kita mesti tersiarkan, terkenalkan, sebagaimana produksi kebudayaan bangsa Eropa dan Amerika yang saat ini menghujani fashion dan budaya Pop mereka bahkan tak peduli terhadap kemaraunya nilai-nilai ke-Indonesiaan budaya kita sendiri; budaya ini mesti kita pegang erat masing-masing di rumah, setidaknya. Karena kita selalu mendengar pepatah, yang keliru jika terus kita penuh percaya padanya berbunyi “Rumput budaya sendiri yang kita kenal lebih tumbuh pendek dibanding rumput budaya tetangga”. Selamat meresapi budaya!

*) Penulis adalah Esais, dan Mahasiswa Sejarah dan Kebudayaan Islam, UIN Alauddin Makassar

Facebook Comments
ADVERTISEMENT