Home Mimbar Ide Rekayasa Ulang Gen Darah Juang Pemuda

Rekayasa Ulang Gen Darah Juang Pemuda

0
Engki Fatiawan
ADVERTISEMENT

Oleh : Engki Fatiawan*

Sumber daya yang ada di Indonesia sangatlah berlimpah, lautan nomor 1 di dunia, darat nomor 2 di dunia. Apa yang tidak ada di negara lain ada di Indonesia, di negara lain kurang di Indonesia berlebihan. Hanya ada 4 kekurangan generasi Indonesia yaitu keyakinan diri, kepercayaan diri, harga diri, dan identitas diri (Setiawan et al, 2018). Perlunya internalisasi kepada generasi Indonesia mengenai ideologi, agama, budaya, dan sejarah bangsa sebagai bentuk penguatan kader-kader generasi bangsa.

Penjara generasi saat ini ada pada genggaman yang menjadi orang ketiga yang kemudian hadir merusak hubungan antara pasangan suci ruh dan raga, akal dan hati, logis dan rasa.  Bahkan dengan kehadirannya buah-buah pikiran yang harus didiskusikan di meja warkop bersama dengan secangkir kopi tergantikan dengan deretan charger dan miringnya gawai. Puntung rokok yang tadinya sebagai saksi analisis logis, sebagai perangsang dalam memacu pikiran kini hanyalah sebuah sampah yang tak ada artinya memenuhi asbak dan pinggiran-pinggiran kursi.

Advertisemen

Terjebaknya pada sebuah kenyamananisme dan isme-isme lainnya, pergerakan pemuda saat ini tidak terlihat, tidak terpacu pemikirannya dalam pembebasan, teologi pembebasannya ternina bobokan sehingga sampai pada saat ini tidak ada aksi nyata yang bisa diperlihatkan di masyarakat. Terjebak pula dibalik gedung mewah berlantai tujuh, terpenjarakan, dibatasi ruang geraknya dengan ancaman inilah, itulah, sudahlah, pergilah, keluarlah. Dan pada akhirnya semua takluk pada sebuah sistem kekuasaan yang menuhankan dirinya.

Kolonialisasi pada sebelum tahun kemerdekaan 1945 kini terulang kembali sebagaimana Bung Karno menyebut dengan istilah neokolonialisme. Penjajahan gaya terbaru yakni dengan merusak generasi-generasi muda dengan kenyamananisme yang membuat candu seperti narkoba, game, dan sebagainya. Penghilangan identitas diri, agama, dan budaya serta peningkatan sifat-sifat individualisme adalah cara yang digunakan dalam membom generasi muda. Penyisipan ideologi pada produk-produk teknologi yang menggiring jauh dari titik nol sejarah bangsa, menghilangkan sejarah perjuangan bangsa. Tanpa disadari semua terjadi seiring dengan berjalannya waktu.

Lalu, langkah antisipasi apa yang bisa dilakukan sebagai generasi muda. Hal yang perlu diketahui bersama adalah kenali lawan dan apa yang diserang oleh lawan. Dari hal itu bisa mendapatkan sebuah langkah antisipasi yang menjadi benteng pertahanan diri. Perkuat kembali keyakinan agama, budaya tetap ada pada generasi muda, tilik kembali sejarah bangsa ajarkan dengan baik, perkuat ideologi gerakan, bergabung dengan mereka yang berada dalam sebuah lembaga atau organisasi yang berdarah-darah dalam sejarah terbangunnya Indonesia ini. Yakinlah kejayaan itu muncul setelah kegelapan. Kejayaan akan dipergilirkan sebagaimana dikatakan dalam Al Qur’an surah Ali Imran ayat 140.

Sebagai generasi muda penguatan terhadap paham keagamaan perlu diperhatikan dan terinternalisasi dalam diri. Hal tersebut sebagai benteng utama dalam pertahanan diri. Biar bagaimanapun perlu dipercayai bahwa semua ini adalah berada dalam skenario Yang Maha kuasa. Begitupun dengan budaya, sebagai penguat moralitas, gotong royong, kejujuran, dan kearifan lokal lainnya yang sejalan dengan agama.

Perlu adanya penyadaran kembali terhadap generasi muda yang hari ini  terjerembab dalam kenyamananisme dan isme-isme lainnya. Memperbaiki kembali gen perjuangan yang selama ini telah direkayasa oleh asing dan aseng. Lahirkan kembali Ahmad Dahlan muda, Hasyim Asy’ari muda, seokarno muda dan pemuda-pemuda yang memiliki gen darah juang yang sadar akan keummatan dan tidak mementingkan diri sendiri.

*) Penulis adalah Mahasiswa agroteknologi Unhas dan Sekum IMM FMIPA dan Pertanian Unhas

Facebook Comments
ADVERTISEMENT