Home Mimbar Ide Ramadhan : Hidayah dan Budaya

Ramadhan : Hidayah dan Budaya

0
ADVERTISEMENT

Oleh : Ismail Fatsey

MataKita.Co, OPINI – Bulan suci Ramadhan bagi umat islam merupakan bulan yang paling dinantikan kedatangannya. Pada bulan inilah umat Islam menjalankan puasa selama satu bulan penuh. Menahan diri dari segala perbuatan sia-sia dan lebih memperhatikan rambu-rambu yang ditetapkan oleh Yang Maha Kuasa.

Bisa dikata, bulan ini menjadi bulan terfavorit di kalangan umat Islam. Saya mempunyai dua alasan yang dapat dikemukakan terhadap hal ini. Pertama, bulan ramadhan dianggap sebagai bulan yang penuh berkah dan pengampunan. Segala amal ibadah pahalanya digandakan menjadi berlipat-lipat.

Banyak orang yang seringkali memanfaatkan bulan ini sebagai moment bertaubat dan ajang meraih pahala sebanyak-banyaknya. Tadarrus Alquran, Shalat tarawih, bersedekah, salat tepat waktu, semuanya mendadak intens jika telah masuk Bulan Ramadhan. Bahkan ada kubu yang sejak lama berkonflik, mampu merelakan egonya masing-masing saat memasuki ramadhan terlebih saat menjelang hari raya Idul Fitri.

Alasan kedua, mengapa Ramadhan menjadi bulan terfavorit, karena moment ramadhan mengundang munculnya kebiasaan-kebiasaan yang jarang ditemui pada bulan lainnya. Entah itu kebiasaan baik atau buruk, tetap saja akan menjadi kenangan tersendiri saat ramadhan telah berlalu.

Advertisement

Misalnya saja, sebelum dan sesudah ramadhan, masyarakat tertentu seperti Bugis Makassar mempunyai kebiasaan ziarah kubur. Hal ini sudah dianggap sebagai sebuah tradisi yang harus terus dilakukan, meskipun beberapa lagi melakukannya tidak didasarkan pada tradisi. Ada pula kebiasaan buka puasa bersama, hang out bersama kawan sepermainan di waktu-waktu salat tarawih dan di waktu sahur, anak kecil bermain petasan, dan lain sebagainya.

Kedua alasan tersebut kadangkala berjalan beriringan, kadang ada yang mendominasi, dan kadang bergulat mengalahkan satu lainnya. Terkadang pula, cinta terhadap bulan ini kandas di tengah jalan, yang lambat laun terkikis oleh waktu.

Misalnya Shalat Tarawih. Shalat Tarawih adalah sunnah yang dikerjakan hanya pada malam hari di Bulan Ramadhan lalu diakhiri dengan sholat witir. Shalat Tarawih merupakan Sunnah muakkad atau sangat dianjurkan. Karena hanya sekali setahun, maka rugilah ketika kita tidak melaksanakan Shalat Tarawih ini.

Di awal ramadhan, masjid-masjid penuh oleh jamaah salat tarawih, bahkan sampai di luar masjid pun masih banyak yang mengantri untuk menjalankan ibadah yang satu ini. Namun, menjelang berakhirnya ramadhan, masjid sudah mulai sepi tidak seperti sebelumnya. Yang seharusnya kita komitmen untuk menjalankan ibadah dari awal hingga akhir, malah digunakan untuk hal-hal lain.

Beberapa sibuk di mall mencari persiapan lebaran agar tampil beda di hari kemenangan, Beberapa lainnya mungkin ada yang sibuk menghias rumah dan memanggang kue, ada yang sibuk mempersiapkan halal bi halaal, dan lain sebagainya. Bahkan ada pula yang memang sejak awal tidak melakukan apapun, hanya sibuk dengan dunianya sendiri.

Kembali lagi. Salah satu hikmah Bulan Ramadhan adalah pengajaran akan komitmen. Komitmen untuk konsisten dalam hal-hal yang dinilai baik dan lebih banyak manfaatnya. Karena berpuasa tidak seharusnya dimaknai hanya sebagai perintah tidak makan dan tidak minum. Lebih dari itu, puasa adalah menahan diri dari segala yang sifatnya melalaikan terlebih jika itu tidak bermanfaat.

Sibuk menyiapkan baju baru, mendekor rumah dan bersilaturahmi ke sana kemari, serta kebiasaan lainnya di luar ibadah khusus memanglah bukan hal yang dilarang. Bahkan itu mengandung nilai kebaikan tersendiri di lain sisi (adanya keinginan untuk berperilaku baik dan mempersembahkan yang terbaik di hari Raya). Ramadhan ini memang selain mengandung hidayah bagi orang-orang yang mau berpikir, juga kemudian memicu hadirnya budaya-budaya lain yang tentu turut bernilai positif.

Hanya masih banyak orang yang belum bisa menetapkan prioritasnya. Ada yang tidak mampu istiqamah hingga akhir dalam kegiatan yang positif. Entah karena iman yang naik turun atau kurangnya upaya untuk meraih hidayah sehingga kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan pun jauh dari kata bermanfaat. Ada pula yang belum bisa membedakan mana kegiatan yang lebih mendesak untuk didahulukan dan mana kegiatan yang bisa dibelakangkan atau bahkan tidak diperlukan sama sekali.

Olehnya, menjelang akhir Ramadhan ini mari kita banyak bermuhasabah kepada Allah. Bangunlah komitmen seperti tim sepak bola yang dari awal pertandingan sampai detik terakhir tidak pernah berubah untuk mencapai suatu kemenangan. Itulah yang harus kita perjuangkan sampai akhir Ramadhan, taqabbalallahu minnaa wa minkum.

*) Penulis adalah mahasiswa Kampus Gagasan dan Ketua Umum PK IMM Djamaluddin Amien

Facebook Comments
ADVERTISEMENT