Home Mimbar Ide Kongres IMPS: Persatuan Yang Tergerus Isu Sektarian

Kongres IMPS: Persatuan Yang Tergerus Isu Sektarian

0
ADVERTISEMENT

Oleh: Sulaiman

MataKita.CO, MimbarIde – Dalam teori kontrak sosial, organisasi terbentuk karena adanya kehendak untuk bersatu dalam wadah yang dapat menampung aspirasi anggotanya. Regenerasi organisasi juga merupakan hal wajar untuk menghargai semua delegasi yang memiliki kepentingan dan latar belakang berbeda. Sehingga kegiatan berorganisasi tidak akan bisa dilepaskan dari pesta demokrasi.

Demokrasi bukanlah ajang memperlihatkan yang paling pandai berdialektika. Bukan pula tentang siapa yang paling mampu memobilisasi massa. Yang terpenting adalah siapa yang dapat menyatukan dan bertanggungjawab dalam kepemimpinan.

Berbeda dengan yang dilakukan oleh sekelompok oknum Ikatan Mahasiswa Pelajar Soppeng (IMPS). Tiga tahun lamanya IMPS vakum. Sejak IMPS Kopertis UNM memimpin pada 2017, sampai dengan penutupan kongres istimewa tahun ini, IMPS bukannya bangkit menjadi organisasi kedaerahan yang dikenal, justru malah menimbulkan riak-riak perpecahan dalam internal organisasi.

Pemilihan nahkoda baru sangat tidak memperlihatkan etika yang baik. Dari awal kongres sudah sangat terpolarisasi. mulai debat kandidat, beberapa pembahasan yang sengaja dibahas cepat, sampai pada kurangnya itikat baik sekelompok peserta untuk melancarkan jalannya kongres. Semua itu berujung pada pembahasan yang terpaksa harus dibahas kembali karena dinilai merugikan kepentingan kelompok tertentu.

Forum Kongres tentu tidak cukup dilaksanakan sekedar formalitas belaka atau hanya membahas terkait persoalan konstitusional semata. Akan tetapi, yang penting diperhatikan adalah subtansi terkait tujuan kongres itu sendiri yaitu bangkit dari kevakuman menuju persatuan.

Advertisemen

Jika hanya bercerita sebatas konstitusional atau tidaknya kongres, itu jelas bukan tujuan dari organisasi yang telah vakum. Yang harusnya menjadi prioritas adalah mencapai kemanfaatan dalam melaksanakan kongres.

IMPS vakum karena ditinggal nahkoda yang tak bertanggung jawab. Seluruh kader tentu menghendaki agar organisasi ini bisa diselamatkan secara bersama dengan komitmen persatuan yang utuh. Sangat jelas bahwa hanya persatuan yang membawa kita mencapai manfaat. Tentu sangat disayangkan jika ada sebagian oknum menggunakan cara diluar azas kekeluargaan untuk mengambil nahkoda organisasi dan tampil seolah-olah sebagai hasil mufakat.

Kongres tahun ini diinisiasi oleh 22 delegasi yang salah satunya adalah IMPS kopertis Unhas. Tetapi setelah kongres ditangguhkan, IMPS Unhas seakan-akan tidak dianggap. Mulai dari penentuan tempat pelaksanaan kongres lanjutan yang tidak jelas sampai pada undangan kongres yang tidak massif.

Terkait tempat dan waktu pelaksanan kongres, sejumlah peserta penuh bahkan baru menerima informasi sehari sebelum pelaksanaan kongres. Itupun tidak satupun panitia yang memeberikan konfirmasi. Padahal peserta penuh memiliki hak yang harusnya seharusnya dihormati. Selain itu, pleno pemilihan ketua sebagai pleno terakhir juga tidak dilaksanakan sesuai mekanisme.
Hal ini terlihat dari tidak adanya pembahasan PDO yang sebenarnya sudah tidak relevan lagi untuk digunakan.

Fokusnya bukan pada siapa sosok terpilih. Tetapi pada bagaimana mekanisme yang digunakan, yang telah mengabaikan aspirasi sejumlah delegasi yakni aliansi delegasi IMPS sehingga akan berdampak pada masa depan organisasi mendatang.

Kekhawatiran ini muncul karena ketua terpilih kurang menunjukkan itikat baik untuk membuka diskusi dengan aliansi delegasi. Padahal, pemimpin harus menyatukan dan melebur serta tidak berada pada kubu-kubu tertentu. Karena IMPS adalah milik semua. Bukan alat untuk berkuasa, melainkan wadah untuk saling bertutur sapa merawat persatuan untuk mencapai tujuan.

Penulis adalah anggota IMPS Kopertis Universitas Hasanuddin.

Facebook Comments
ADVERTISEMENT