Home Kampus Gelar Penelitian di Bone, Tim PKM RSH UNHAS Bahas Tradisi Mabbakang dalam...

Gelar Penelitian di Bone, Tim PKM RSH UNHAS Bahas Tradisi Mabbakang dalam Perspektif Masyarakat Hukum Adat

0
Advertisement

MataKita.co, Bone – Salah satu tim pada Program Kreativitas Mahasiswa bidang riset sosial humaniora (PKM-RSH) Universitas Hasanuddin dengan judul “Tinjauan Tradisi Mabbakang terhadap Perspektif Masyarakat Hukum Adat di Lingkungan Desa Wanua Waru Kabupaten Bone” melakukan penelitian langsung ke lapangan di Desa Wanua Waru pada 19-21 Juni 2021.

Tradisi Mabbakang merupakan salah satu tradisi turun temurun oleh nenek moyang pada masyarakat desa Wanua Waru yang mana dilakukan sebagai bentuk rasa syukur masyarakat terhadap kelahiran anak mereka serta berfungsi sebagai ajang untuk mentasbihkan pendewasaan seperti pada prosesi aqiqah dalam Islam. Namun, seiring dengan perkembangan zaman banyak masyarakat yang sudah tidak lagi menjalankan tradisi tersebut baik itu karena ftergeser dengan adanya kepercayaan dan agama maupun faktor pendidikan yang menjadi alasan bagi mereka sehingga tidak semuanya menjalankan tradisi Mabbakang ini.

Berdasarkan hal tersebut, tim PKM-RSH Universitas Hasanuddin ingin meninjau perspektif masyarakat desa Wanua Waru terhadap tradisi Mabbakang serta mencari pengaruh dari tersebut terhadap lingkungan sosial masyarakat desa Wanua Waru.

Tim PKM-RSH melakukan penelitian dengan mencari pandangan serta perspektif masyarakat Desa Wanua Waru terhadap eksistensi tradisi Mabbakang tersebut, diantaranya mewawancarai beberapa narasumber yakni kepala desa Wanua Waru, Kepala dusun Wanua Waru, tokoh adat, serta masyarakat yang telah melaksanakan tradisi Mabbakang dan yang belum melaksanakan tradisi Mabbakang. Penelitian juga dilakukan dengan pembagian kuesioner kepada beberapa orang dengan tujuan untuk melihat seberapa banyak masyarakat yang setuju agar tradisi tersebut tetap dipertahankan oleh masyarakat desa Wanua Waru terutama pada generasi penerus.

Kepala desa wanua waru, Abdul Hannan, menyatakan bahwa tradisi tersebut merupakan tradisi yang sudah sejak lama dijalankan oleh masyarakat sehingga menjadi tradisi turun temurun.

“Tradisi ini sudah dari dulu dijalankan, namun dengan perkembangan zaman beberapa kelompok masyarakat sudah tidak lagi menjalankannya dengan alasan tradisi tersebut tidak sesuai dengan ajaran agama (Islam) dan juga disebabkan karena faktor pendidikan.” Ujarnya.

Sementara itu, tokoh adat desa Wanua Waru, Halim, menjelaskan bahwa tradis Mabbakang ini tidak dapat dihilangkan dari masyarakat karena sudah warisan dari para leluhur mereka.

“Mabbakang ini menjadi salah satu bagian dari kehidupan mereka yang dimana mereka (masyarakat) harus tetap menjalankannya dan tentu mereka yang percaya akan mendapatkan keselamatan dalam hidupnya bagi diri dan keluarganya.” Ucapnya.

Harapannya dengan adanya PKM-RSH ini akan memberikan pemahaman atas nilai dan kearifan lokal masyarakat dimana proses Mabakkang ini dianggap menarik sebab merupakan ritual yang lebih bersifat pada pendekatan kepada Tuhan dan menerapkan pola konsumsi yang sehat (warga yang melaksanakan wajib memakan makanan yang sehat dan higienis) dalam proses Mabakkang tersebut. Pelestarian nilai-nilai lokal yang mengandung unsur perlindungan atas lingkungan dan keberlanjutan atas manusia merupakan bahagian dari inisiasi Fakultas Hukum UNHAS dalam mendorong dan mensupport arah pembangunan berkelanjutan (Sustainability Development Goals-SDGs) di Indonesia.

Adapun susunan tim adalah Bungalia Anggraini, Nur Awalia, Rohit Purwadi dengan dosen pembimbing Dr. Birkah Latif, SH., MH., L.LM.

Facebook Comments
ADVERTISEMENT