Home Ekologi Petambak Kelurahan Data Kecamatan Duampanua Pinrang

Petambak Kelurahan Data Kecamatan Duampanua Pinrang

0
Advertisement

Oleh : Idham Malik*

Pada 14 Agustus 2021 lalu, kami menyelenggarakan pertemuan dengan para petambak udang vannamei Kelurahan Data, Kec. Duampanua, Kab. Pinrang. Pertemuan ini difasilitasi oleh Puang Akib, tokoh masyarakat pembudidaya udang Duampanua, yang sudah empat kali saya bertemu untuk menggali sejarah, semangat, dan pandangannya dalam mendorong perbaikan ekonomi para pembudidaya udang di kampungnya. Setelah tiga bulan berkomunikasi untuk mendorong kerjasama di tengah-tengah suasana pandemi dan PPKM, baru pada Agustus terbukalah kesempatan untuk berkumpul dengan 80 orang petambak udang yang berada di lingkungan Kelurahan Data.

Pertemuan ini cukup unik, jika dibandingkan dengan pertemuan-pertemuan petambak di daerah lain di Sulawesi Selatan. Kami tiba pukul 08.00 wita, jumlah petambak masih bisa dihitung jari, tapi ketika mendekati pukul 09.00 wita, Puang Akib menyeberang jalan dan masuk ke dalam mesjid di depan lokasi pertemuan. Puang Akib memanggil para petambak untuk kumpul segera di kolong rumah samping kediaman Puang Akib. Berdatanganlah para petambak pada area itu, dan kursi-kursi yang kosong memperoleh tuannya masing-masing.

Mulanya saya menjalankan tugas dengan menjelaskan skema ADPE (Akuakultur Dengan Pendekatan Ekosistem) atau EAA (Ecosystem Approach to Aquaculture) kepada para hadirin, termasuk di dalamnya ada para penyuluh dan staf Dinas Kelautan dan Perikanan DKP Kab. Pinrang. Pertemuan ini serasa nostalgia, mengenang pertemuan-pertemuan dengan petambak jauh sebelumnya di Kec. Suppa, diskusi banyak hal, tentang penyakit udang, pestisida, mangrove, tata kelola kelompok, pengorganisasian kawasan, hingga mendorong munculnya pasar yang baik. Pertemuan-pertemuan seperti itu tetap saya kenang, namun masih merasa ngilu membayangkan nasib petambak yang dari hari ke hari, tahun berganti tahun, tapi belum memperlihatkan perbaikan nasib yang signifikan.

Setelah menjelaskan konsep budidaya berbasis ekologi tadi itu, saya lebih banyak mendengar. Pun petambak bergantian angkat tangan, mereka dengan lugas membeberkan soal-soal yang sedang mereka hadapi.

Pertama, munculnya secara tiba-tiba dan serentak hama ‘wereng’ di tambak-tambak mereka. Organisme ini berukuran mikro dan melayang-layang di badan air tambak. Secara umum, petambak belum mengetahui secara pasti apa akibat dari hama itu dan mereka pun lebih banyak berasumsi bahwa hama itu pasti akibat dari pembuangan limbah, salah satu yang tertuduh yaitu perusahaan mutiara yang berada dekat dengan perairan kawasan tambak. Hal ini kemudian diklarifikasi oleh penyuluh perikanan, bahwa pihak BRPBAP3 Maros telah mengambil air sampel dan diteliti di laboratorium, tidak ditemukan indikasi pencemaran, apalagi ketika dihubungkan dengan kemunculan wereng ini.

Terkait wereng, biasanya organisme tertentu mengalami kelimpahan/dominasi lantaran terdapat mata rantai yang putus dalam struktur ekologis suatu ekosistem. Sehingga, dibutuhkan penelitian dan keterlibatan secara mendalam para ahli untuk mendeteksi hal ini. Sehingga, masyarakat tidak terperangkap dalam kebingungan dan pada akhirnya, jika tidak mendapat kepastian akan menuju ke sikap masa bodoh dan bebal.

Kedua, keluhan petambak dengan banyaknya sapi yang berkeliaran di area tambak. Bukan hanya soal kotoran sapi (yang mungkin dapat menjadi pupuk jika diolah), tapi yang lebih parah adalah kerusakan pematang akibat lalu lalang sapi dalam jumlah besar dari tambak ke tambak. Menurut Puang Akib, sebelumnya telah difasilitasi pertemuan dengan Kepala Lurah/desa, tapi saat itu tidak dapat catatan tertulis pertemuan, sehingga tidak terdapat dokumen penekan pemerintah untuk segera mencarikan solusi permasalahan tersebut. Soal-soal seperti ini pun jika berlarut-larut akan menjadi catatan merah/tebal hitam di benak masyarakat. Bahwa orang yang memiliki sapi yang banyak itu bertindak sewenang-wenang dan tak direspon oleh hukum yang berlaku. Petambak pun mengusulkan agar dilakukan penetapan peraturan desa untuk pelarangan sapi melintas di area tambak, seperti yang sudah berlaku saat ini di area tambak Kelurahan Lanrisang, Pinrang.

Ketiga, pendangkalan muara Sungai Passorongang, yang mencakup pengairan tiga area, yaitu Data, Paria dan Bittoeng. Menurut petambak, pendangkalan ini diperparah oleh cukup banyaknya aktivitas penangkap ikan menggunakan jaring pada muara sungai. Akibat dari pendangkalan itu, air kesulitan terdorong ke luar muara, bahkan menggenang di sepanjang saluran. Fenomena ini tentu berdampak pada kualitas air, terdapat fase tertentu air mengalami kejenuhan karena kandungan bakteri yang melimpah/pembusukan serta kekurangan oksigen dalam air.

Tentu, pendangkalan ini disebabkan oleh banyak faktor, mungkin karena melimpahnya sedimen-sedimen yang terbawa dari hulu atau sepanjang saluran sungai, mungkin pula karena kurang adanya penangkap sedimen di sepanjang garis sungai, yang biasanya tumbuh adalah pepohonan mangrove. Meski begitu, hal ini masih menjadi pertanyaan, sehingga untuk pemastian hal itu, butuh penelitian lebih lanjut.

Petambak hanya meminta ketegasan dari pemerintah untuk membatasi aktivitas penangkapan ikan menggunakan jaring yang menghambat lalu lintas air di muara sungai, serta betul-betul serius menangani pendangkalan sungai maupun muara sungai tersebut.

keempat, munculnya pandangan dari beberapa orang peserta bahwa petambak hanya berfikir instan dan mau langsung jadi. Nah, pernyataan ini menurutku perlu kehati-hatian dalam menganalisis, apakah betul petambak hanya mau menggunakan cara-cara yang pasti dan gampang, tidak mau lagi direpotkan dengan metode ilmiah yang mungkin agak panjang dan menjemukan.

Barangkali ada yang melatarbelakangi mentalitas seperti itu. Misalnya pembudidaya kekurangan waktu, tenaga, dan biaya untuk mencoba-coba hal baru. Sebab, mungkin saja akan mengganggu kerentanan siklus hidupnya. Petambak akan mencoba hal-hal baru, jika hal-hal baru itu betul-betul berpengaruh pada produktivitas, dan bukan sebaliknya. Sebab, jika mengalami kegagalan, akan beresiko pada modal dan kemampuannya dalam bertahan hidup.

Sehingga, akan beresiko memang untuk mencoba hal baru bagi para petambak yang rentan, kecuali petambak yang telah memiliki kapasitas modal yang cukup, yang biasanya ditandai dengan kepemilikan lahan secara pribadi dan luas lahan yang di atas 1 hektar.

Sepertinya, masih banyak di antara kita, saya juga dulu salah satunya yang berfikir bahwa masyarakat kita adalah masyarakat yang malas, atau dalam bahasa Syed Hussein Alatas, “Mitos Pribumi Malas”. Hussein Alatas mengatakan bahwa pribumi malas tersebut adalah citra yang dibangun kolonial untuk mendiskreditkan kaum pribumi, citra ini dikonstruk selama beratus-ratus tahun, hingga sampai saat ini melekat pada cara pandang pemerintah ataupun orang luar terhadap kemampuan kita dalam bekerja.

Menurutku, “kemalasan” para petambak bukan karena kemauan individunya, tapi lebih pada tekanan struktur/sistem yang terbangun dalam rantai ekonomi agricultur, termasuk pembudidaya udang dan juga rumput laut, yang saya tangani di tempat lain. Sehingga, untuk mengatasi problem ini, tidak sekadar melalui kaderisasi SDM, tapi juga perbaikan sistem tata niaga budidaya perairan. Juga, pandangan-pandangan seperti ini akan menjadi legitimasi bagi para pendamping untuk turut bermalas-malasan mendampingi, karena sudah kudu beranggapan bahwa karakter masyarakat sudah seperti itu, dan tidak perlu dipaksa-paksa.

Tentu, masih banyak hal lain yang menjadi catatan diskusi yang alot itu. Adzan duhur dengan cepat berkumandang, membatasi waktu pertemuan dengan petambak. Misalnya soal penggunaan pupuk yang berlebihan, kurangnya pemahaman mengenai kondisi bakteri di perairan, perlunya eksplorasi data kualitas air yang telah diolah oleh badan-badan penelitian sebelumnya. Agar, pikiran masyarakat lebih jernih melihat persoalan, bahwa kondisi air yang tampak baik-baik saja itu pada dasarnya sudah berada pada tahap kritis.

Lewat tengah hari, kami pun berpisah dengan para petambak, penyuluh, dan Puang Akib. Kami berharap ada pertemuan lanjutan untuk membahas soal-soal di atas secara lebih spesifik, dengan melibatkan pihak-pihak yang kira-kira dapat membantu, minimal menerangkan secara jernih persoalan ataupun keluhan-keluhan para petambak.

*) Penulis adalah Aktivis Mangrove Brotherhood dan penggiat Aquaculture Celebes Community

Facebook Comments
ADVERTISEMENT