Beranda Mimbar Ide Ngerinya Disebut Anak PKI

Ngerinya Disebut Anak PKI

0
Furqan Jurdi

Oleh : Furqan Jurdi*

sudah memegang parang di tangan, mereka saling menghujat dan “mencaci maki” satu sama lain.

Dua pemuda itu berjarak Sekitar 30 meter. Keduanya sedang bertengkar menggunakan senjata tajam.

Advertisement

Mereka saling menghina dengan kata-kata kasar. Sementara ada banyak kerumunan orang-orang yang melihat perkelahian itu. Sebagian ada yang melerai kedua pemuda itu, sebagian lagi ada yang hanya menontonnya dari jauh.

Kata-kata kasar dan hinaan khas daerah bersahutan. Tetapi keduanya masih mampu dilerai oleh beberapa orang.

“Dasar Anak PKI”. Salah seorang diantara keduanya berteriak. Mendengar kata “anak PKI” itu, lawannya mengibas parangnya ditengah kerumunan orang-orang.

Pemuda yang disebut “Anak PKI” itu, bukan orang PKI, bukan anak PKI atau cucu seorang PKI, tapi ia merasa terhina ketika dibilang anak PKI.

Sebegitu hinanya menjadi seorang PKI maupun anak atau cucu PKI. Bisa membuat seorang akan menebas siapapun ketika di caci dengan kata itu.

Bagi orang kampung, Tidak ada lagi umpatan yang paling hina di mata mereka kecuali dipanggil “anak PKI”.

Dimata pemuda itu, menghina dengan menyebutnya “Anak setan” sekalipun ia tidak akan terlalu marah, tetapi ketika kata “Anak PKI” keluar, ia tidak rela.

Kejadian itu saya saksikan sendiri, terjadi sekitar tahun 2004 atau 2005.

“Anak PKI” bagi orang kampung adalah kutukan yang paling hina. Orang yang sabar pun bisa marah kalau di hina dengan sebutan “Anak PKI “.

Sudah menjadi hukuman sejarah dan hukuman sosial yang berlaku bagi PKI, setelah dua kali melakukan pemberontak dan pembunuhan  terhadap warga sipil dan militer.

Apa dosa PKI ia pantas di hina-dinakan sedemikian rupa? Bukankah Partai Komunis Indonesia (PKI) adalah partai yang pernah menjadi salah satu pemenang pada pemilu tahun 1955 itu.?

Kita tahu PKI adalah partai yang doyan Mengkudeta-“Partai Kudeta Indonesia”. Di Madiun tahun 1948 di bawah pimpinan Muso, seorang komunis tua, mereka melakukan kudeta, memberontak pada republik dan membunuh banyak orang. Ulama dan tokoh-tokoh Islam dibantai secara beringas oleh PKI.

Tahun 1965 pemberontakan berdarah terulang kembali, dimana PKI menculik 6 jenderal dan 1 perwira untuk dibantai dan dibuang ke lubang buaya. Itu kudeta yang kedua.

Ulah PKI telah membuat luka yang sangat lama dalam tubuh bangsa Indonesia. Mereka bukan hanya ingin mengkudeta kekuasaan, tetapi mereka ingin mengkudeta Pancasila, merubah NKRI, merubah bentuk, lambang dan bendera negara.

Kengerian seputar pembantaian dan pembunuhan yang dimulai dari kudeta seperti itu telah berlangsung dua kali dan dalangnya, menurut catatan sejarah dan saksi mata kejadian itu,  ialah PKI.

Pasca pemberontakan dan kudeta yang gagal tahun 1965, PKI menjadi partai terlarang. Keluarnya TAP MPRS Nomor XXV/MPRS/1966 tentang Pembubaran PKI, sekaligus melarang penyebaran dan menganut paham komunisme, Marxisme dan Leninisme.

Dengan ketetapan MPRS 1966 itu PKI adalah organisasi terlarang, dan siapa yang yang menganut ajaran marxis dan leninisme dilarang.

Selain TAP MPRS 1966, pada tahun 1957 Para Ulama bersepakat bahwa Komunisme adalah haram.

Muktamar Ulama se-Indonesia tanggal 8-11 September 1957 di Palembang, para ulama memutuskan Ideologi/ajaran Komunisme adalah kufur hukumnya, dan haram bagi umat Islam menganutnya, dan bagi siapa yang menganut ajaran komunisme maka ia kafir.

Dari fatwa ulama 1957 kita dapat menarik kesimpulan bahwa Komunisme adalah haram, dan siapa yang menganutnya dikategorikan sebagai kafir. Jadi bagi umat Islam komunisme adalah kafir.

Berdasarkan dua pandangan hukum itu, baik TAP MPRS sebagai dasar hukum dilarangnya PKI di republik Indonesia, maupun Fatwa Ulama sebagai hukum syariat bagi Internal umat Islam, PKI, maupun komunisme, marxisme dan leninisme adalah dilarang dan haram.

Mungkin dari Perspektif inilah kata “Anak PKI” menjadi cacian yang sangat hina bagi seseorang. Begitu pula bagi orang kampung yang saya ceritakan di atas.

Lalu apa yang ingin dibanggakan menjadi “Anak PKI”?

Membanggakan kudeta, pembunuhan, kekejian dan kezaliman,?

Masih adakah rasa malu menyebut diri sebagai “Anak PKI”?

Penulis adalah Ketua umum Pemuda Madani

Facebook Comments
ADVERTISEMENT