Beranda Mimbar Ide Masalah Peternakan Ayam Petelur yang Tidak Dilirik oleh Pemda Bulukumba

Masalah Peternakan Ayam Petelur yang Tidak Dilirik oleh Pemda Bulukumba

0

Oleh : Indra Adi Putra Salam*

Sekilas melihat pemandangan yang hijau di kampung saya namun terganggu oleh bau yang tidak sedap ketika angin terdiam dalam dinginnya malam. Hal itu yang saya rasakan ketika saya pulang kekampung halaman saya di Desa Buhung Bundang, Kecamatan Bontotiro, Kabupaten Bulukumba tanggal 3 Oktober 2021.

Advertisement

Melirik pada data statistik tahun 2017 populasi ayam ras petelur di Desa Buhung Bundang terdapat 7707 populasi, sedangkan dalam skala Kecamatan Bontotiro Jumlah populasi ayam ras petelur sebanyak 19095. Selanjutnya pada tahun 2019 jumlah populasi ayam petelur di kecamatan Bontotiro menurun, hanya sekitar 5358 populasi. Data ini sangat janggal menurut saya, karena jumlah populasi ayam petelur di Desa Buhung Bundang terus meningkat, ditambah dengan meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap konsumsi telur setiap tahunnya. Beranjak dari desa Buhung Bundang, ke Desa Tamalanrea, dan Desa Bontotanga, Pembuatan kandang ayam petelur terus meningkat, dalam artian ada kandang ada penghuninya.

Peningkatan populasi ayam ras petelur, maka polusi juga semakin meningkat. Polusi yang disebakan oleh peternakan ayam petelur dan boiler berupa pencemaran udara, libah padat. Untuk masalah polusi belum ada solusi dari pemerintah untuk ditawarkan ke masyarakat. Dari hasi perbincangan saya dengan salah satu pengusaha telur yang berinisial “E”, “ belum ada penyuluh datang untuk memberikan solusi terhadap bau tai ayam”. Pencemaran udara akibat peternakan ayam petelur sangat berbahaya bagi kesehatan manusia terutama saluran pernafasan. Melihat dari lokasi peternakan ayam sangat tidak sesuai dengan Peraturan Mentri Pertanian No:40/Permentan/OT.140/7/2011 yang menyatakan bahwa “lokasi terpisah dari lingkungan pemukiman dan berjarak minimal 500 meter dari pagar terluar”. Hal ini dapat dibuktikan dengan gambar peta terlampir.

Selanjutnya, kita merujuk pada PERATURAN MENTERI PERTANIAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 31/Permentan/OT.140/2/2014 TENTANG PEDOMAN BUDI DAYA AYAM PEDAGING DAN AYAM PETELUR YANG BAIK “BAB IV PELESTARIAN FUNGSI LINGKUNGAN “ tertulis bawa dalam melakukan budi daya ayam pedaging yang baik harus memperhatikan pelestarian fungsi lingkungan, antara lain:
1. Mencegah pencemaran lingkungan dan timbulnya erosi;
2. Mencegah suara bising, bau busuk, serangga, tikus, dan pencemaran air;
3. Membuat unit pengolahan limbah kotoran ayam pedaging sesuai dengan kapasitas  produksi untuk menghasilkan pupuk organik;
4. Membuat tempat pembakaran atau penguburan bangkai ayam yang mati;
5. Membuat saluran dan tempat pembuangan kotoran; dan
6. Membuat sirkulasi udara yang memadai dan cukup mendapatkan cahaya.

Dari enam point tersebut hanya 1-2 poin yang terpenuhi atau hampir semua tidak terpenuhi. Hal ini membuktikan bahwa Pemda Kabupaten Bulukumba tidak serius mengatasi masalah kesehatan lingkungan yang ada pada Kabupaten Bulukumba terutama Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan dan yang paling berperang untuk lingkungan adalah DINAS LINGKUNGAN HIDUP (DLH). Mereka seakan tutup mata atas masalah ini padahal saat ini pemerintah mengaungkan pola hidup sehat karena PANDEMI.

Pernah kita lakukan musyawarah di Masjid Al Ikhlas Tahebatu pada bulan April dan diikuti oleh PPL Pertanian Bontotiro, Kades Buhung Bundang, dan beberapa stakeholder lainnya terkait masalah yang dialami oleh masyarakat desa. salah satu yang diangkat oleh masyarakat adalah bau dari peternakan ayam petelur, namun mereka (pemerintah desa dan PPL) kurang respon terhadap masalah tersebut, sehingga tidak ada solusi sampai saat ini. Padahal kita ketahui bau peternakan adalah masalah bagi lingkungan. Manusia, hewan peliharaan, biodiversity lainnya akan terganggu atau terancam kelangsungan hidupnya akibat pencemaran udara dari peternakan tersebut. Dari PERMENTAN NOMOR 28/Permentan/OT.140/5/2008 menyebutkan bahwa perusahaan perunggasan menyebabkan merebaknya penyakit AVIAN INFLUENZA (AI) dan Penyakit ini dapat menularkan kemanusia. Saya sempat berbincang bincang dengan masyarakat di Tahebatu Dusun Bontomanai, Desa Buhung Bundang berinisial M dan H, salah satu dari mereka berkata “ lanahuno maki iini rasanna tai jangangnga, iya minni paka more ki tarrusu” artinya “bau tai ayam ini akan membunuh kita, ini jga yang bikin kita influneza terus-menerus”.

Hal yang dijelaskan diatas merupakan sisi Negatif dari peternakan ayam petelur secara komersil, Namun kita tau sisi positif juga pasti ada. Banyak juga keuntungan yang masyarakat dapatkan dalam peternakan ini diataranya, tersedianya lapangan kerja baru, ketersediaan pangan, harga jagung meningkat. Dalam hal ini bisa kita simpulkan bahwa adanya peternakan ayam petelur maka perekonomian masyarakat meningkat. Keberhasilan suatu usaha bukan hanya dilihat dari aspek ekonomi, tetapi dari aspek soial, lingkungan dan budaya.

Mungkin pemerintah tidak tau masalah ini, atau pura-pura tidak tau, atau perlu ditanya, atau pemerintah berkebutuhan khusus. Entah apa yang terjadi tetapi saya yakin orang-orang di pemerintahan adalah orang pintar.

Banyak solusi yang bisa kita terapkan, tetapi pemerintah harus turun tangan terhadap masalah ini, terutama pemerintah stempat, dan jangan berkata tidak tau ketika masyarakat bertanya.

*) Penulis adalah warga Bonto Tiro, Bulukumba.

Facebook Comments
ADVERTISEMENT