Beranda Mimbar Ide Rumput Laut Bergoyang-Goyang di Maluku Tenggara

Rumput Laut Bergoyang-Goyang di Maluku Tenggara

0

Oleh : Idham Malik*

Terakhir saya ke Maluku Tenggara pada 16-20 Februari 2017 lalu,  bersama para pendamping petani rumput laut beserta dari Balai Perikanan Budidaya Laut (BPBL) Ambon, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Maluku Tenggara. Saat itu saya diminta membawa materi BMP Budidaya Rumput Laut kepada beberapa perwakilan kelompok di gugusan 10 pulau, salah duanya adalah Nai dan Lebaran. Bapak dari BPBL Ambon saat itu membawa materi tentang pengelolaan kebun bibit rumput laut.

Seperti sebelum-sebelumnya, kami di sambut hangat oleh peserta, orang Malra paling jago bercanda, tidak ada muka masam, wajah selalu tersenyum, atau kalau kita pancing sedikit, mereka sontak terbahak-bahak.  Pembudidaya rumput laut terlihat gampang diorganisir, tapi tunggu dulu. Kita perlu lihat seperti apa ikatan sosial sesama mereka yang sudah berlangsung selama ini? Secara umum, masih terlihat ikatan emosional di antara mereka, agenda pembibitan dan panen pun tak jarang dilakukan secara bersama.

Advertisement

Meski terlihat akur, kita tak bisa langsung memberikan arahan dan pengaturan yang kaku. Misalnya kita kerangkeng mereka dalam kelompok, dimana terdapat susunan baru, yang mana sebelumnya mereka adalah komunitas yang egaliter, lalu tiba-tiba ada struktur yang mengatur-atur mereka.

Itulah kesalahan saya, karena sedikit memaksa mereka untuk memahami struktur dalam kelompok, dimana terdapat pembagian tugas, ada yang berfungsi sebagai sekretaris, sebagai bendahara, hingga bidang-bidang. Mereka pun oke-oke saja, tidak ada diskusi alot dalam hal ini. Namun, ini pun hanya sampai pada perbincangan ataupun garis-garis dalam kertas. Kenyataannya, mereka bercanda ria saat mengikat bibit rumput laut, mengendarai sampan dan kadang-kadang main-main air sambil memeriksa rumput lautnya, panen, pengeringan, dan jual lalu dapat duit. Sisanya, adalah kembali ke darat, bersantai di rumah pada sabtu-minggu, atau naik ke bukit untuk mengamati perkembangan tanaman jagung/ubi-nya.

Saat itu, terdapat pembagian bibit rumput laut untuk 8 kelompok pembudidaya rumput laut. Takaran pembagian cukup pas dan merata. Namun, ketika kami hendak pulang, terjadi pertengkaran kecil diantara mereka. Ternyata, ada yang tidak kebagian styrofoam. Haduh, bibit aman, styrofoam yang justru belum aman. hehe..

Pada perjalanan sebelumnya, 4-8 September 2016, cukup menguak soal-soal penting dalam pengelolaan rumput laut Maluku Tenggara-Tual, sebab kita tidak hanya mendatangi pembudidaya-nya, tapi juga para pengumpul, pemerintah, dan juga melihat infrastruktur pabrik rumput laut yang mangkrak dan berkarat.

Kami berdiskusi dengan Pak Arfah dari Bappeda Malra. Ia menjelaskan persoalan pabrik rumput laut produk alkali treated cottoni (ATC) chips atau agar kertas itu, dibangun di Letvuan pada 2011 lalu. Menurut Arfah, terdapat masalah pada mesin pemasak pabrik tersebut, yang durasi memasaknya terlalu lama, membutuhkan 4-6 jam, sementara mesin lain hanya 2-3 jam. Saat itu, pabrik untuk sementara diserahkan kepada pihak ketiga yang asalnya dari Gorontalo, namun dinilainya cukup lambat. Hingga saat itu, Pemda Malra juga belum siap untuk pengoperasian. Selain itu, terdapat kendala juga pada Sumberdaya manusia pengelola pabrik. Padahal, sebuah pabrik dibangun mestinya dengan skenario yang jelas, layout pabrik dan alat yang sudah sesuai, serta sudah terdapat SDM yang dapat mengoperasikan pabrik. Jika dilihat untuk konteks ini, bangun dulu, setelahnya baru dipikir.

Sayangnya, rencana ini terhambat sekian lama. Dari berita ditemukan DPR Malra masih menekan pemerintah agar pada 2021 ini segera mengoperasikan pabrik yang dulunya diresmikan oleh Wakil Menteri Perindustrian, Alex Retraubun.

Menjadi soal, ternyata di Tual juga terdapat pabrik rumput laut, namun saat itu, saya lupa menanyakan seperti apa operasionalnya, sepertinya nasibnya sama dengan pabrik di Letvuan. Pernah juga ada pabrik skala kecil yang dibuat secara mandiri oleh seorang pengusaha/pegiat yang bernama Hironimus, namun, pabrik itu hanya bertahan 2 tahun, yaitu antara 2010-2012. Alasan berhentinya pabrik itu lebih pada alasan operasional. Barangkali agak rumit juga sebagai perintis, karena bicara pabrik berarti bicara kualitas produk, kalau hasil produk berkualitas tinggi, pasti bisa bersaing dengan pabrikan di luar. Selain itu, kemampuan modal untuk membeli bahan baku rumput laut dari masyarakat. Jika pasar produk pabrik belum terbentuk, maka pasti sulitlah operasional pabrik itu.

Makanya, rumput laut kering yang dihasilkan oleh pembudidaya jatuh-jatuhnya dijual ke pengumpul. Pengumpul pun mengeluh karena stok kadang-kadang kualitas rendah. Memang produk rumput laut waktu itu sedang jatuh-jatuhnya, lantaran di beberapa tempat mengalami serangan hama bulu kucing, belum lagi penyakit lain yang selalu mengintai, yaitu ice-ice, berulah ketika cuaca tidak bersahabat, ketika suhu terlalu panas, serta ketika laut terlalu asin.

Pengumpul juga mengeluhkan stok yang tidak menentu. Rumput laut adalah budidaya skala tradisional, sehingga sangat dipengaruhi  oleh faktor alam. Salah satu penghambatnya adalah faktor musim. Pada musim-musim tertentu terdapat musim teduh (kurang arus/angin), pada bagian timur akan mengalami masa teduh pada musim barat, yaitu dimulai pada September – Maret Akhir, dan akan membaik pada April – Agustus. Begitu halnya bagian barat akan mengalami musim teduh jika masuk musim timur.

Pembudidaya mensiasatinya dengan mengurangi jumlah tebar (tanam), misalnya pada musim baik menebar hingga 50 tali (50 – 100 meter), pada musim kurang baik menebar hanya 10 tali. Dan ada yang tidak menebar dan menunggu musim baik. Ada pembudidaya yang membiarkan tali dan pelampung berlumut karena menganggap lumut dapat mengurangi cahaya matahari langsung dan tidak terlalu menenggelamkan bibit terlalu dalam, karena pada bagian dalam air tidak bergerak, dan ada yang membersihkan lumut dan menenggelamkannya agak dalam (20 centimeter) karena pada daerahnya tetap berarus pada sepanjang musim (Desa Letvuan).

Sama halnya dengan para pembudidaya dari Pulau Nai, yang baru memulai budidaya di daerah itu pada 2012, lantaran sudah padatnya budidaya rumput laut di perairan di pulau utama, sekitar Desa Debut, asal mereka tinggal. kondisi budidaya rumput laut dalam satu tahun, yaitu ditentukan oleh musim, pada musim barat (bulan Januari – April/musim hujan), kondisi rumput laut selalu dalam keadaan bagus. Pada Juni – Agustus hingga November, kondisi rumput laut mulai terganggu oleh keberadaan penyakit ice-ice, apalagi pada lokasi yang agak dalam (kedalaman 3 – 4 meter). Untuk daerah dangkal mulai muncul penyakit ice-ice pada September – November. Pada musim kemarau tersebut, rawan terkena penyakit ice-ice karena cuaca ekstrim atau perubahan cuaca secara ekstrim. kenaikan suhu, salinitas, kurangnya gerakan air laut dapat menyebabkan munculnya penyakit ice-ice. Antisipasi yang pembudidaya rumput laut lakukan pada musim penyakit (Oktober – November) dengan mengurangi bentangan dan membatasi pemeliharaan untuk persiapan bibit saja.

Belum lagi ketika kita bicara strategi mereka untuk bertahan, dengan mengandalkan bibit rumput laut sisa hasil panen ataupun pembelian dari sumber-sumber bibit dekat dengna kampung mereka. Skema penyediaan bibit yang terjamin stok-nya setiap saat ini belum terlihat, segalanya masih berjalan apa adanya, sesuai dengan kreasi masyarakat. Meski begitu, pemerintah sudah mencoba untuk intervensi dengan penyediaan bibit unggul dari Ambon maupun dari Lampung, seperti yang berlangsung di Wab Arso, yang budidaya terletak di muara sungai, kualitas bibit yang dihasilkan cukup bagus. Pada September 2016 itu, ketika saya mendatangi mereka, para ibu-ibu yang mengurus pemeliharaan bibit terlihat sumringah. Harga bibit dari Wab Arso cukup tinggi, yaitu 10.000/kilogram-nya. Itulah yang membuat mereka sumringah.

***

Lantas, seperti apa nasib Seaweed Estate 2022 (2022 sudah dekat loh) yang sedang digagas KKP bersama Bupati Malra pada lahan sekitar 3000 hektar itu?

Contohnya menyoal pabrik rumput laut. Apakah pabrik rumput laut sudah siap tinggal landas menuju hilirisasi? Apakah terdapat sumberdaya manusia di Malra yang siap untuk hilirisasi itu? Apakah sudah ada jaminan kualitas produk dan sudah ada kontak pasar produk pabrik rumput laut?

Apakah masyarakat Malra sudah siap diorganisir? Sehingga dapat mengikuti blue print ataupun SOP (standar operasional Prosedur) yang sudah ditetapkan oleh konsep industrialisasi/integrasi hulu hilir sektor rumput laut ini? Apakah situasi dan praktik maupun etika politik Maluku Tenggara sudah siap menerapkan skema industrialisasi? Apakah betul orang Malra sendiri-lah yang mengelola Seaweed Estate ini ataukah terpaksa lagi dilakoni oleh investor dari luar? Seperti apa pembiayaan pengelolaan Seaweed Estate ini? Apakah sudah ada pencegahan untuk antisipasi kebocoran penggunaan anggaran? Atau seperti apakah sebenarnya bayangan modernisasi/industrialisasi rumput laut di tengah-tengah kampung masyarakat tradisional Maluku Tenggara?

Cukup banyak pertanyaan, dan saya kira cukup layak untuk ditimbang-timbang

*) Penulis adalah Aktivis Mangrove Brotherhood dan Penggiat Aquaculture Celebes Community

Facebook Comments
ADVERTISEMENT