Beranda Mimbar Ide Tubuh Perempuan Sebagai Komoditas Kepentingan Segelintir Orang

Tubuh Perempuan Sebagai Komoditas Kepentingan Segelintir Orang

0
Tubuh Perempuan
Nurul Iftah Zalzabila Syam 
ADVERTISEMENT

Oleh Nurul Iftah Zalzabila Syam

Istilah pelacuran sudah tidak asing lagi bagi masyarakat. Pelacuran merupakan salah satu bentuk penyakit masyarakat yang harus dihentikan penyebarannya, tanpa mengabaikan usahanya. Pelacuran atau prostitusi dianggap sebagai kejahatan terhadap kesusilaan/moral dan melawan hukum.

Secara imflisit Pelacuran adalah praktek prostitusi yang paling tampak, sering kali di wujudkan dalam kompleks pelacuran Indonesian yang juga dikenal dengan nama “lokalisasi”, serta dapat ditemukan di seluruh negeri. Bisa dikata pelacuran merupakan hal yang sudah lumrah disetiap negeri.

Menurut Karl marx sebagai salah satu pemikir materealisme barat bahwa pelacuran(lokalisasi) merupakan vetus atau by desain sistem produksi, dimana disekitar tempat persinggahan(peristirahatan) seperti pelabuhan dan tempat  atau by desain sistem produksi, dimana disekitar tempat persinggahan(peristirahatan) seperti pelabuhan dan tempat berlangsungnya sistem produksi seperti pabrik pasti akan ditemukan lokalisasi. Lokalisasi ini merupakan respon terhadap kelelahan dan tingkat seksualitas buruh dan pekerja. Tujuannya apa? Adalah untuk menjadi refleksi bagi para buruh agar lebih bersemangat bekerja karena telah memenuhi hasrat seksualnya dan uang yang sudah dikumpulkanpun habis. Maka mereka mau tidak mau lebih tekun dan sigap untuk bekerja. Hasilnya tingkat produksi lebih meningkat mengingat manusia sebagai suatu komuditas dalam sistem produksi dan sangat menguntunkan untuk kaum kapitalis. Jadi susah kiranya untuk melenyapkan lokalisasi, karena masuk dalam rencana besar kapitalis(pemodal).

Dalam hal ini Saya memiliki satu corak pemahaman bahwa “dalam pelacuran ini perempuan telah menjadi korban yang sangat di rugikan, namun tak banyak  yang mengetahui itu”. Sebab dalam hal ini perempuan dijadikan sebagai objek seks yang akan memuaskan bagi kaum laki-laki, Menurutnya pelacuran ini merupakan daya tarik untuk mendapatkan uang secara cepat. Namun ada juga penyebab utama adanya prostitusi yakni adanya pola pemaksaan dan penipuan, hal ini akan terjadi karena melihat pemikiran-pemikiran orang terdahulu bahwanya perempuan tak perlu sekolah tinggi-tinggi, tak heran jika perempuan mudah di tipu daya.

Belum lagi pemaksaan dari keluarga sendiri yang menurut laporan organisasi buru internasionall bahwa sekitaran 70 persen dari pelacuran anak indonesia dibawah dibawah oleh keluarga dekat atau teman-teman ke dalam dunia prostitusi. Pandangan yang bahwasanya perempuan yang tidak usah meninggikan pendidikannya, tentu angka pengangguran akan sangat banyak, apalagi perempuan yang lulusan SMP saja. Tentu tidak akan adanya berpikir panjang dengan apa yang ia lakukan missal dalam pelacuran. Belum lagi janji manis yang ia dapatkan  missal mendapat uang yang banya, diberi rumah tentu tidak akan berfikir apa yang akan terjadi bagi dirinya sendiri.

Saya masih percaya bahwasanyaperempuan merupakan benteng negei. Perlu kiranya kesadaran hadir bagi setiap perempuan-perempuan bahwasanya ia akan melahirkan generasi baru , maka dari itu ia tak perlu menjadikan tubuhnya sebagai objek, tak perlu menjadikan tubuhnya sebagai konsumsi kaum laki-laki. Ketegasan yang tak lupa juga dihadirkan dalam diri seorang perempuan. Berpendidikan memnag tak akan menjamin kau jadi apa selanjutnya namun setidaknya kau bisa menggunakan hasil dari pendidikanmu sebagai ajang persaingan untuk mendapatkan material.

Oleh sebab itu, menerima prostitusi sebagai bentuk pembebasan seksualitas perempuan adalah miris. Yang diperjuangkan oleh prostitusi bukanlah hak ataupun pembebasan seksualitas perempuan, tetapi hak laki-laki untuk mendapatkan akses secara pasti dan dengan paksa terhadap tubuh perempuan. Jikalau ia merupakan pembebasan seksualitas perempuan, bukankah seharusnya tidak akan ada ada penegasan melalui uang atau semacamnya.

*Penulis adalah Mahasiswa Jurusan Ilmu Komunikasi UIN Alaudiin Makassar

Facebook Comments
ADVERTISEMENT