Beranda Mimbar Ide Keluarga dan Paradoks Ringgit

Keluarga dan Paradoks Ringgit

0
Najamuddin

Oleh : Najamuddin

(Intelektual Muda Muhammadiyah Parigi)

Senin, 14 Juli 2008. Jarum jam belum lagi menyentuh pukul enam pagi ketika saya melangkah ke geladak kapal. Di bawah langit subuh yang remang, samar-samar tampak siluet daratan dan pegunungan di kiri-kanan.

Itulah momen pertama saya meninggalkan Pulau Sulawesi, mengarungi lautan menuju Pulau Nunukan, Kalimantan Timur. Namun, Nunukan hanyalah gerbang transit.

Perjalanan sesungguhnya akan membawa saya jauh lebih dalam, menembus batas negara, menuju hamparan perkebunan kelapa sawit di Sarawak, Malaysia.

Saya tidak sendiri. Saya berangkat bersama beberapa keluarga yang telah lebih dulu mencicipi kehidupan sebagai Pekerja Migran Indonesia (PMI). Saat itu, gelombang warga kampung yang memilih merantau ke Malaysia semakin deras.

Alasan kami semua seragam: gaji yang menjanjikan dan rindu akan kehidupan yang lebih layak. Kami membawa mimpi yang sama di dalam tas masing-masing, tekad untuk memperbaiki masa depan keluarga.

Sesampainya di Malaysia, garis nasib membawa saya berganti-ganti pekerjaan. Saya pernah membersihkan drainase, merawat tanaman bunga, menabur pupuk, menyemprot pestisida, memperbaiki rumah, menjaga reng tempat penampungan sementara buah sawit hingga akhirnya memanen sawit.

Di tengah peluh dan debu perkebunan itu, saya bertemu dengan ratusan jiwa dengan latar belakang usia, pendidikan, budaya, dan agama yang fana.

Namun, semakin lama saya meresapi kehidupan di sana, saya menyadari satu hal: beban terberat di tanah perantauan bukanlah fisik yang dihantam kerja keras di ladang. Beban terberat adalah menyaksikan retaknya keutuhan keluarga para pekerja migran.

Di hampir setiap sudut perkebunan, lanskap sosial terasa timpang. Jumlah laki-laki jauh mendominasi. Banyak suami merantau seorang diri, memendam rindu pada istri dan anak di kampung halaman.

Sebaliknya, perempuan yang datang tanpa pasangan bisa dihitung dengan jari. Ada pula keluarga yang memilih nekat, memboyong anak-anak mereka ke dalam pekatnya hutan sawit.

Anak-anak yang ikut merantau ini sering kali harus mengorbankan hak paling mendasar mereka: pendidikan. Mereka tumbuh besar di lingkungan perkebunan yang terisolasi, jauh dari sekolah dan fasilitas umum. Ketika beranjak remaja, siklus itu berulang.

Sebagian dari mereka langsung mengikuti jejak orang tua menjadi kuli ladang, bahkan ada yang terpaksa menikah dini sebelum sempat mencicipi bangku sekolah.

Sementara itu, anak-anak yang ditinggalkan di kampung halaman menghadapi badai emosional yang berbeda. Secara materi, mereka tampak berkecukupan. Mereka tinggal di rumah yang nyaman bersama kakek, nenek, paman, atau bibi.

Uang bulanan lancar dikirim dari seberang lautan; beberapa dari mereka bahkan fasih menunggangi sepeda motor baru, menggenggam telepon pintar tercanggih, atau memiliki laptop.

Dari luar, hidup mereka tampak sempurna di mata tetangga. Namun, waktu adalah saksi bahwa ada lubang menganga yang tidak akan pernah bisa ditambal oleh selembar uang kertas. Kehilangan perhatian, pengawasan, dan kehangatan figur orang tua membuat jiwa mereka rapuh.

Pelan-pelan, sebagian dari mereka kehilangan kompas hidup semangat belajar meredup, terjebak dalam pergaulan yang salah, hingga akhirnya putus sekolah.

Bertahun-tahun kemudian, saya memutuskan pulang ke kampung halaman dan memulai babak baru sebagai seorang guru. Awalnya, saya mengira kisah-kisah pilu anak-anak pekerja migran itu telah terkunci rapat sebagai kenangan di Sarawak.

Namun, asumsi saya keliru. Di dalam ruang kelas yang sejuk, saya justru menjumpai drama yang persis sama.

Saya melihat anak yang terpaksa berhenti di tengah semester karena harus menyusul orang tuanya merantau. Saya menemui anak-anak yang tatapannya kosong saat pulang sekolah karena hanya ada kakek-nenek yang renta di rumah.

Memang, ada sebagian anak yang mampu bertahan dan mengukir prestasi gemilang berkat ketegaran mereka. Namun, tidak sedikit yang tumbuh limbung tanpa pendampingan yang cukup.

Sebagai guru, saya menyaksikan sendiri bagaimana jarak ribuan kilometer itu meninggalkan luka tak berdarah yang tersembunyi di balik senyum tipis mereka.
Dalam psikologi perkembangan, seorang anak tidak sekadar tumbuh dari asupan makanan, pakaian bermerek, atau biaya sekolah yang lunas.

Mereka membutuhkan kehadiran emosional yang nyata dari orang tua. Kehadiran itulah yang membangun fondasi rasa aman, tempat mereka menumpahkan cerita, sekaligus menjadi jangkar penambat ketika badai persoalan remaja mulai menerpa hidup mereka.

Tentu, kita tidak bisa menyamaratakan semua cerita. Banyak orang tua migran yang luar biasa tangguh, yang tetap mampu menjaga komunikasi intens dan membesarkan anak-anak mereka menjadi pribadi yang santun dan sukses.

Banyak pula anak yang berhasil selamat karena dikelilingi oleh kasih sayang keluarga besar yang tulus. Namun, perjalanan hidup sebagai mantan pekerja migran dan kini sebagai guru memberi saya satu pelajaran berharga, kesejahteraan sebuah keluarga tidak akan pernah bisa diukur mutlak dari angka-angka di slip gaji.

Kini saya sepenuhnya paham, tidak ada orang tua yang dengan sukarela memisahkan diri dari darah dagingnya sendiri tanpa alasan yang mendesak. Mereka pergi berkorban, menerjang badai di negeri orang demi membelikan masa depan yang lebih cerah untuk anak-anaknya.

Akan tetapi, setiap pilihan besar selalu menuntut harga yang setara. Ringgit Malaysia memang terbukti mampu mendirikan dinding-dinding rumah yang kokoh di kampung, membeli kendaraan, dan melunasi biaya pendidikan.

Namun, ada satu hal sakral yang tidak akan pernah bisa dikirimkan lewat aplikasi transfer bank atau rekening kasir, dekapan hangat seorang ibu dan tepukan bangga di pundak dari seorang ayah justru di saat anak-anak mereka sangat membutuhkannya.

Facebook Comments Box