Beranda Kampus Dari Rumah Sederhana, Calon Mahasiswa Unhas Menjemput Mimpi melalui KIP Kuliah

Dari Rumah Sederhana, Calon Mahasiswa Unhas Menjemput Mimpi melalui KIP Kuliah

0

MataKita.co, Makassar – Proses verifikasi lapangan Beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah yang dilakukan Universitas Hasanuddin (Unhas) tidak hanya menjadi tahapan seleksi administrasi. Di balik setiap kunjungan ke rumah calon mahasiswa, tersimpan kisah perjuangan keluarga yang menjadikan pendidikan tinggi sebagai jalan untuk mengubah masa depan.

Bagi banyak calon mahasiswa, diterima di Unhas merupakan kebanggaan sekaligus peluang untuk meraih kehidupan yang lebih baik. Namun, keterbatasan ekonomi kerap menjadi hambatan. Dalam situasi itulah KIP Kuliah hadir sebagai harapan agar cita-cita mereka tidak terhenti oleh persoalan biaya.

Salah satunya dialami Araya Dewisyah Wijaya R, calon mahasiswa Program Studi Hukum Administrasi Negara, Fakultas Hukum Unhas. Lulusan SMA Negeri 1 Gowa itu berhasil lolos melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT). Di balik keberhasilannya, Araya menyimpan kegelisahan karena kondisi ekonomi keluarga yang bergantung pada pekerjaan ayahnya sebagai pengemudi ojek daring.

Saat menerima kunjungan Tim Verifikator Unhas, Araya mengungkapkan harapannya untuk memperoleh KIP Kuliah.

“Unhas adalah universitas impian saya sejak kecil. Saya ingin menjadi sarjana pertama di keluarga dan mengubah masa depan kami,” ujar Araya.

Harapan serupa disampaikan ibunya, Mujuarti. Ia meyakini pendidikan tinggi menjadi peluang bagi putrinya untuk memperbaiki taraf hidup keluarga.

“Semoga Araya mendapat KIP Kuliah, bisa meraih cita-citanya menjadi pengacara, sukses, dan memutus rantai kemiskinan keluarga kami,” katanya.

Kisah lain datang dari Kabupaten Pinrang. Muhammad Rusdi, lulusan SMA Negeri 5 Pinrang yang diterima di Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Unhas, juga menggantungkan harapan pada KIP Kuliah. Sebagai anak keempat dalam keluarga, Rusdi menjadi orang pertama yang berkesempatan menempuh pendidikan tinggi.

Setelah ayah kandungnya meninggal dunia, kehidupan keluarga bergantung pada ayah tirinya yang bekerja sebagai petani penggarap dengan penghasilan tidak menentu. Kondisi tersebut membuat biaya pendidikan menjadi tantangan tersendiri.

“Saya berharap bisa lolos KIP Kuliah agar dapat meringankan beban keluarga selama saya menempuh pendidikan di perguruan tinggi,” ujar Rusdi.

Araya dan Rusdi merupakan dua dari ratusan calon mahasiswa yang dikunjungi Tim Verifikator Unhas dalam proses verifikasi lapangan. Dari setiap rumah yang didatangi, tim menemukan cerita tentang orang tua yang bekerja keras di tengah keterbatasan ekonomi, sekaligus anak-anak yang tetap memelihara keyakinan bahwa pendidikan merupakan jalan menuju kehidupan yang lebih baik.

Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Universitas Hasanuddin, Prof. Muhammad Ruslin, drg., M.Kes., Ph.D., Sp.B.M.Mf., Subsp. Ortognat.D., mengatakan pengalaman selama proses verifikasi memperlihatkan pentingnya memastikan akses pendidikan tinggi tetap terbuka bagi mahasiswa yang memiliki potensi akademik, tetapi terkendala kondisi ekonomi.

“Kisah-kisah yang kami temui menunjukkan bahwa pendidikan masih menjadi harapan terbesar banyak keluarga. Kami berharap KIP Kuliah dapat membuka jalan bagi mereka untuk meraih cita-cita sekaligus meningkatkan kualitas hidup keluarganya,” ujar Prof. Ruslin.

Melalui proses verifikasi tersebut, Unhas berupaya memastikan bantuan KIP Kuliah tepat sasaran. Bagi kampus, program ini tidak sekadar memberikan dukungan biaya pendidikan, tetapi juga menjadi investasi bagi lahirnya generasi muda yang mampu mengubah kehidupan keluarganya serta berkontribusi bagi pembangunan daerah dan bangsa.

Facebook Comments Box