Oleh : Muh. Tahir
(Alumni IMM FISIP/Rektor Universitas Muhammadiyah Mamuju)
Pembukaan dan dialog alumni IMM UNHAS, 24 Maret 2026 di PUSDAM Sulsel, berlangsung tertata namun hangat. Protokol oleh Dr. AM Ilham mengalir rapi, memberi ruang pada setiap gagasan untuk tumbuh. Sementara itu, moderator pembahas utama, Prof. Nurdin, mengendalikan ritme diskusi dengan tajam namun santai membuat forum ini tidak hanya hidup, tetapi juga produktif.
Forum ini kemudian mengarah pada satu kebutuhan mendesak: reformulasi gerakan. IMM UNHAS tidak cukup hanya bertahan dengan pola lama. Ia harus berani merumuskan ulang strategi, memperkuat jaringan alumni, serta menyatukan potensi lintas generasi. Di sinilah eksistensi tidak lagi dimaknai sebagai “sekadar ada”, tetapi “diakui dan berdampak”.
Temu alumni. Ia lebih mirip “ruang jujur”tempat tawa, sindiran, dan refleksi bertemu. Dialog alumni IMM UNHAS berlangsung cair, bahkan cenderung “gokil”, tapi justru dari situlah keluar sari pati pengalaman kader yang telah menjelma menjadi tokoh di berbagai lini.
Prof. Gagaring membuka dengan satu kalimat yang sederhana tapi menohok: “Alumni IMM itu akhirnya jadi tokoh masyarakat.” Tidak semua langsung sadar saat masih menjadi kader. Tapi waktu membuktikan, IMM bukan sekadar organisasi mahasiswa—ia adalah “pabrik karakter”. Dari ruang diskusi kecil, kader didorong berpikir besar, hingga akhirnya berdiri di tengah masyarakat sebagai penentu arah, bukan sekadar pengikut arus.
Dr. Andi Afdhal menambahkan dimensi lain: diferensiasi peran. Kader IMM, katanya, tidak boleh satu warna. Harus serba bisa, lintas sektor, dan yang terpenting—diakui (recognized). Dunia hari ini tidak cukup hanya pintar. Ia menuntut kemampuan beradaptasi, membaca peluang, dan mengambil posisi strategis. Di titik ini, kader IMM diuji: apakah tetap relevan atau hanya jadi penonton perubahan?
Dr.Hasnawati merumuskan fondasi yang lebih sistematis: tiga hal utama—keilmuan, integritas, dan humanitas. Ditambah satu “ruh” penting: jiwa entrepreneur. Ilmu tanpa integritas itu kosong. Integritas tanpa empati itu kaku. Dan semua itu tanpa kemampuan menyesuaikan diri, akan tertinggal. IMM, dalam pandangannya, harus melahirkan kader yang tidak hanya idealis, tapi juga solutif.
Lalu suasana menjadi lebih cair saat Dr. Abdullah bercerita. Banyak yang tertawa ketika ia mengaku: “Awalnya dipaksa masuk IMM.” Tapi justru dari “keterpaksaan” itu lahir perjalanan panjang. Ia mengingatkan tentang trilogi kader: untuk umat, bangsa, dan kemanusiaan. Riwayat hidupnya—dari kampus PTM, pemerintahan, hingga terlibat dalam ekosistem inovasi—menjadi bukti bahwa IMM melatih kader untuk “merintis”, bukan sekadar melanjutkan. Bahkan ia menyinggung inspirasi panjang seperti perjalanan 25 tahun teknologi ala Habibie—bahwa kesabaran dan visi jauh lebih penting daripada hasil instan.
Rachmat Nur, MM membawa diskusi ke ranah yang lebih dalam: keberlanjutan Muhammadiyah. Baginya, kaderisasi tidak boleh berhenti pada individu. Istri harus kader, anak harus kader. Ini bukan soal eksklusivitas, tapi tentang kesinambungan nilai. Muhammadiyah hidup karena ada regenerasi yang sadar, bukan kebetulan.
Prof. Budu mempertegas dengan istilah “militansi” dan “Muhammadiyah paripurna”. Menjadi kader bukan hanya soal aktif saat muda, lalu selesai. Tapi bagaimana nilai itu hidup sepanjang hayat. Militansi di sini bukan keras, tapi konsisten—tetap bergerak, tetap berkontribusi, dalam kondisi apa pun.
Yakup, SH., MH menutup dengan perspektif praktis: kader Muhammadiyah harus aktif di mana saja. Tidak boleh eksklusif di satu ruang. Dunia hukum, birokrasi, bisnis, pendidikan—semua harus diisi. Karena pengaruh tidak lahir dari teori, tapi dari kehadiran nyata di berbagai sektor.
Di ujung diskusi, Dr. Tahir menyampaikan sesuatu yang terasa sebagai “PR bersama”: waktu itu percepatan kaderisasi. Ia melakukan langkah konkret,DAM khusus yang berdampak nyata bagi eksistensi dan percepatan kemajuan IMM UNHAS. Bukan desakan tapi kebutuhan bangkitnya IMM di UNHAS.
Dialog ini mungkin terlihat santai. Tapi di balik tawa, ada kegelisahan. Di balik cerita, ada arah. Bahwa IMM UNHAS tidak boleh puas dengan romantisme masa lalu. Ia harus terus berbenah, mempercepat kaderisasi, dan memastikan setiap kader bukan hanya hadir tetapi berdampak.
Karena pada akhirnya, seperti yang tersirat sepanjang dialog:
IMM bukan tempat singgah. Ia adalah titik tolak menuju peran besar di tengah umat, bangsa, dan kemanusiaan.







































