
Oleh : Adam Malik
(Peneliti Profetik Institute)
Sangat menyedihkan peristiwa jatuhnya wisatawan di kawasan wisata Apparalang, Bulukumba, ini bukan sekadar insiden yang berdiri sendiri. Ia adalah hasil dari rangkaian kondisi yang saling terhubung, keputusan individu, desain tempat wisata, kesiapan sistem, dan cara manusia memahami risiko. Ketika satu nyawa hilang, yang sebenarnya runtuh bukan hanya tubuh, tetapi juga ilusi bahwa semua itu “tidak akan terjadi”. Jika pemerintah tanggap.
Ada kecenderungan umum untuk melihat kejadian seperti ini sebagai kecelakaan. Kata “kecelakaan” memberi kesan bahwa peristiwa tersebut tidak dapat diprediksi. Padahal, jika dilihat lebih dalam, hampir semua elemen yang membentuk tragedi sudah hadir sejak awal. Ombak yang kuat bukan fenomena baru. Tebing yang curam bukan sesuatu yang tiba-tiba muncul. Kebiasaan wisatawan untuk mengambil foto di titik berbahaya juga bukan hal yang asing. Artinya, ini bukan peristiwa yang tidak bisa dibaca, melainkan peristiwa yang diabaikan. Tapi pemerintah tidak peka melihat potensi resiko tersebut
Di titik ini, perlu dipahami bahwa keselamatan wisatawan tidak pernah bergantung pada satu faktor. Ia adalah hasil dari interaksi antara manusia dan sistem. Ketika salah satu tidak bekerja, risiko meningkat. Ketika keduanya gagal secara bersamaan, tragedi menjadi hampir pasti.
Dari sisi wisatawan, ada pola psikologis yang berulang. Manusia cenderung menilai keamanan berdasarkan apa yang mereka lihat, bukan berdasarkan apa yang sebenarnya terjadi. Ketika sebuah tempat ramai, otak secara otomatis menyimpulkan bahwa tempat tersebut aman. Ketika banyak orang berdiri di satu titik dan tidak terjadi apa-apa saat itu, muncul keyakinan bahwa titik tersebut layak untuk diikuti. Ini adalah bentuk social proof, di mana keputusan individu dipengaruhi oleh perilaku orang lain.
Masalahnya, persepsi aman tidak selalu sejalan dengan kondisi aman. Laut tidak berubah menjadi lebih jinak hanya karena banyak orang berada di sekitarnya. Tebing tidak menjadi lebih stabil hanya karena sering dijadikan latar foto. Namun, otak manusia tidak bekerja dengan logika seperti itu. Ia bekerja dengan pola cepat, dengan asumsi, dengan kesimpulan instan yang sering kali menyesatkan.
Selain itu, ada kecenderungan lain yang memperburuk situasi, yaitu overconfidence. Banyak orang merasa bahwa mereka mampu mengontrol situasi. Mereka percaya bahwa mereka bisa berhenti tepat sebelum bahaya terjadi. Mereka yakin bahwa mereka tidak akan melampaui batas. Keyakinan ini tidak selalu muncul dari kesombongan, tetapi dari kebiasaan melihat diri sendiri sebagai pusat kendali. Dalam banyak kasus, keyakinan ini bertabrakan langsung dengan kenyataan bahwa alam tidak berada dalam kendali manusia.
Faktor berikutnya adalah dorongan sosial yang semakin kuat di era digital. Aktivitas wisata tidak lagi sekadar pengalaman pribadi. Ia telah berubah menjadi konsumsi visual yang ditampilkan kepada orang lain. Foto bukan lagi dokumentasi, tetapi representasi diri. Dalam kondisi seperti ini, keputusan sering kali tidak lagi didasarkan pada keamanan, melainkan pada hasil visual yang ingin dicapai. Ketika dua hal ini bertabrakan, keamanan sering menjadi pilihan yang dikorbankan.
Namun, kesalahan tidak berhenti pada individu. Sistem di tempat wisata juga memiliki peran besar. Tempat wisata yang baik tidak hanya menyediakan keindahan, tetapi juga membangun mekanisme perlindungan. Ini dimulai dari identifikasi risiko. Setiap lokasi memiliki karakteristik yang berbeda, dan setiap karakteristik membawa potensi bahaya. Mengabaikan hal ini berarti membuka ruang bagi kejadian yang sebenarnya bisa diprediksi.
Pengamanan fisik adalah langkah berikutnya. Pembatas, jalur khusus, dan penanda area berbahaya bukan sekadar tambahan, melainkan kebutuhan dasar. Ketika titik berbahaya tetap terbuka tanpa batas yang jelas, pengelola secara tidak langsung menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada pengunjung. Dalam kondisi di mana manusia cenderung mengambil risiko, keputusan ini bukanlah keputusan yang aman.
Sistem peringatan juga memiliki peran penting. Informasi yang disampaikan harus jelas, tegas, dan mudah dipahami. Peringatan yang terlalu halus sering kali diabaikan. Dalam banyak kasus, tulisan kecil yang ditempatkan di sudut tidak mampu mengubah perilaku. Yang dibutuhkan adalah komunikasi yang mampu mempengaruhi persepsi, bukan sekadar menyampaikan informasi.
Pengawasan aktif menjadi elemen yang tidak bisa diabaikan. Kehadiran petugas bukan hanya sebagai simbol, tetapi sebagai pengendali perilaku di lapangan. Manusia cenderung lebih patuh ketika ada otoritas yang mengawasi. Tanpa pengawasan, batasan menjadi longgar, dan risiko meningkat. Dalam konteks ini, peran petugas bukan hanya reaktif, tetapi juga preventif.
Kesiapan darurat adalah bagian yang sering kali gagal dalam praktik. Banyak tempat memiliki alat keselamatan, tetapi tidak memiliki sistem yang memastikan alat tersebut dapat digunakan dengan cepat dan efektif. Dalam situasi darurat, waktu menjadi faktor penentu. Setiap detik memiliki nilai. Ketika tidak ada yang tahu apa yang harus dilakukan, atau ketika alat tidak digunakan, maka peluang penyelamatan menurun drastis.
Kerugian dari satu kematian tidak berhenti pada satu titik. Ia merambat ke banyak arah, termasuk material. Proses evakuasi membutuhkan biaya. Transportasi jenazah, baik melalui darat maupun udara, bukan angka kecil. Biaya rumah sakit, meskipun tidak selalu panjang, tetap harus ditanggung. Pemulasaraan jenazah, pemakaman, hingga rangkaian ritual sosial yang mengikuti kematian, semuanya memerlukan pengeluaran. Belum termasuk kehilangan pendapatan jika korban adalah tulang punggung keluarga. Dalam satu peristiwa, nilai kerugian bisa mencapai puluhan hingga ratusan juta rupiah. Dan itu baru sisi yang bisa dihitung.
Yang tidak bisa dihitung adalah beban psikologis keluarga. Orang tua yang kehilangan anak tidak kehilangan “satu individu”. Mereka kehilangan masa depan yang mereka bayangkan. Mereka kehilangan rencana yang belum sempat terjadi. Dalam banyak kasus, yang tersisa adalah pertanyaan yang tidak pernah selesai: apakah ini bisa dicegah? Ketika kematian terjadi di ruang publik yang seharusnya aman, rasa kehilangan itu bercampur dengan kemarahan. Bukan hanya duka, tetapi juga rasa bahwa ada pihak yang lalai.
Di titik ini, tanggung jawab pemerintah daerah tidak bisa dihindari. Kabupaten Bulukumba tidak hanya menjual keindahan alam, tetapi juga menjual rasa aman. Ketika wisatawan datang, ada asumsi dasar bahwa tempat tersebut telah melalui standar minimal keselamatan. Ketika kejadian seperti ini terjadi, itu bukan hanya kegagalan individu. Itu adalah pukulan langsung terhadap kredibilitas pengelolaan wisata.
Kejadian ini menciptakan narasi baru di benak publik. Bahwa ada destinasi yang indah, tetapi tidak aman. Dan dalam dunia pariwisata, persepsi adalah segalanya. Satu insiden bisa lebih kuat daripada seratus promosi. Wisatawan tidak hanya mencari pemandangan, tetapi juga jaminan bahwa mereka bisa pulang dengan selamat. Ketika jaminan itu goyah, keputusan untuk datang pun ikut goyah.
Pemerintah Kabupaten Bulukumba perlu melihat ini bukan sebagai insiden sesaat, tetapi sebagai indikator kegagalan sistem. Tidak cukup dengan respons setelah kejadian. Yang dibutuhkan adalah evaluasi menyeluruh: dari desain lokasi, jumlah petugas, sistem pengawasan, hingga kesiapan darurat. Jika tidak ada perubahan yang nyata, maka setiap promosi wisata ke depan akan membawa bayang-bayang risiko yang sama.
Dari sisi wisatawan, kejadian ini seharusnya menjadi titik refleksi. Keputusan untuk berwisata tidak bisa hanya didasarkan pada popularitas tempat. Ada kebutuhan untuk menilai aspek keamanan secara mandiri. Ini bisa dimulai dari hal sederhana: apakah ada pembatas di area berbahaya, apakah ada petugas yang berjaga, apakah tersedia alat keselamatan, dan bagaimana kondisi lingkungan secara umum.
Wisatawan juga perlu memahami bahwa tidak semua tempat dirancang dengan standar yang sama. Ada lokasi yang memang dikelola dengan baik, ada yang masih mengandalkan kesadaran pengunjung. Dalam kondisi seperti ini, kehati-hatian menjadi tanggung jawab pribadi. Menghindari titik berbahaya, tidak mengikuti kerumunan secara membabi buta, dan tidak memaksakan diri untuk mendapatkan hasil visual tertentu adalah langkah yang sederhana, tetapi krusial.
Di sisi lain, penting juga untuk mencari informasi sebelum berkunjung. Ulasan pengunjung, laporan kejadian sebelumnya, dan kondisi terkini lokasi dapat menjadi bahan pertimbangan. Keputusan yang baik biasanya lahir dari informasi yang cukup, bukan dari dorongan sesaat.
Di sisi lain, perilaku manusia dalam situasi darurat juga perlu dipahami. Ketika menghadapi kejadian mendadak, otak tidak selalu mampu berpikir jernih. Respons yang muncul sering kali berupa kebingungan atau diam. Dalam kondisi ramai, muncul fenomena di mana tanggung jawab menyebar ke banyak orang, sehingga tidak ada satu pun yang mengambil inisiatif. Ini dikenal sebagai bystander effect. Orang melihat, tetapi tidak bertindak. Bukan karena tidak peduli, tetapi karena tidak ada dorongan yang cukup kuat untuk bergerak.
Kondisi ini menunjukkan bahwa sistem keselamatan tidak boleh bergantung pada kesadaran individu semata. Mengandalkan manusia untuk selalu rasional dalam situasi kritis adalah pendekatan yang lemah. Yang dibutuhkan adalah sistem yang tetap bekerja meskipun manusia panik. Prosedur harus sederhana, alat harus mudah digunakan, dan peran harus jelas.
Pendekatan psikologis yang tepat dalam kasus seperti ini tidak bisa hanya berfokus pada edukasi. Edukasi penting, tetapi tidak cukup. Perilaku manusia lebih banyak dipengaruhi oleh lingkungan daripada oleh pengetahuan. Oleh karena itu, pendekatan yang lebih efektif adalah mengatur lingkungan sehingga pilihan aman menjadi pilihan yang paling mudah.
Ini dapat dilakukan melalui prinsip behavioral psychology, di mana sistem dirancang untuk membatasi perilaku berisiko. Akses ke area berbahaya dikurangi, jalur aman diperjelas, dan pengunjung diarahkan tanpa harus bergantung pada kesadaran mereka. Pendekatan ini tidak mengubah manusia, tetapi mengubah cara manusia berinteraksi dengan lingkungan.
Selain itu, pendekatan risk perception perlu diterapkan. Risiko harus dibuat terasa nyata, bukan hanya dijelaskan. Informasi visual yang kuat, tanda yang mencolok, dan penyampaian yang langsung dapat membantu mengubah cara orang memandang bahaya. Ketika risiko terasa dekat, kemungkinan untuk menghindarinya menjadi lebih besar.
Pendekatan social psychology juga relevan. Dalam situasi darurat, perintah yang spesifik kepada individu lebih efektif daripada himbauan umum. Menunjuk seseorang secara langsung untuk bertindak dapat memecah kebekuan dalam kerumunan. Ini adalah cara sederhana untuk mengatasi penyebaran tanggung jawab.
Pendekatan crisis psychology menekankan pentingnya kesederhanaan. Dalam kondisi panik, manusia tidak mampu memproses informasi yang kompleks. Oleh karena itu, sistem harus dirancang agar dapat digunakan tanpa perlu berpikir panjang. Setiap alat harus memiliki fungsi yang jelas dan mudah dipahami.
Pendekatan nudge juga dapat digunakan untuk mengarahkan perilaku tanpa paksaan langsung. Spot aman dapat dibuat lebih menarik, sementara area berbahaya dibuat kurang nyaman untuk diakses. Dengan cara ini, pengunjung cenderung memilih opsi yang lebih aman tanpa merasa dibatasi.
Semua pendekatan ini mengarah pada satu kesimpulan: keselamatan tidak boleh bergantung pada asumsi bahwa manusia akan selalu membuat keputusan yang benar. Sebaliknya, sistem harus dirancang untuk mengantisipasi kesalahan manusia.
Pada akhirnya, peristiwa seperti di Apparalang mengingatkan bahwa keselamatan adalah tanggung jawab bersama. Pengelola memiliki kewajiban untuk menyediakan sistem yang memadai. Pengunjung memiliki tanggung jawab untuk tidak mengabaikan batas. Namun, dalam praktiknya, keseimbangan ini sering tidak tercapai.
Yang tersisa adalah kenyataan yang tidak nyaman. Banyak tragedi terjadi bukan karena tidak ada tanda, tetapi karena tanda tersebut tidak cukup kuat untuk menghentikan tindakan. Banyak alat tersedia, tetapi tidak digunakan. Banyak orang hadir, tetapi tidak ada yang bergerak.
Keselamatan tidak bisa dibangun dari harapan bahwa manusia akan selalu berhati-hati. Ia harus dibangun dari pemahaman bahwa manusia sering kali tidak demikian. Di titik inilah sistem mengambil peran. Bukan sebagai pelengkap, tetapi sebagai penentu.
Nyawa wisatawan tidak seharusnya menjadi harga dari pengalaman. Dan ketika itu terjadi, yang perlu dipertanyakan bukan hanya siapa yang salah, tetapi apa yang gagal bekerja.






































