Oleh : Daeng Najamuddin
(Kepala Sekolah Madrasah ibtidaiyah Sicini)
Dalam tradisi suku Makassar, dikenal falsafah hidup yang disebut siri’ na pacce. Falsafah ini menjadi dasar nilai-nilai sosial, moral, dan etika dalam kehidupan sehari-hari. Ia mendorong seseorang untuk menjaga kehormatan diri (siri’), menjunjung solidaritas, serta menumbuhkan empati dan kepedulian terhadap sesama (pacce).
Ungkapan yang sering terdengar adalah “katutui sirika”, yang berarti jagalah harga diri. Kalimat ini kerap dikaitkan dengan hubungan antara lawan jenis. Bila salah satu ternodai atau menodai, keduanya dianggap sama-sama kehilangan harga diri. Dalam konteks ini, siri’ tidak lagi bersifat pribadi, tetapi sudah menyangkut kehormatan bersama.
Karena itu, orang Makassar punya pepatah: “antu sirika, anu se’reja” jika itu harga dirimu, maka itu juga harga diriku. Siri’ dianggap suci. Sekali dilanggar, dampaknya bisa merusak hubungan keluarga, bahkan hubungan antar kampung. Ia menjadi pagar hidup yang menentukan sikap dan tindakan seseorang di tengah masyarakat.
Tapi tidak semua orang menempatkan siri’ pada tempat yang seharusnya. Ada yang mengartikan siri’ sebagai alasan untuk mempertahankan gengsi, marah-marah, bahkan melakukan kekerasan. Hanya karena beda pendapat, sudah merasa “nipaka siri” (harga dirinya dijatuhkan). Lalu menuntut harga diri dipulihkan dengan cara yang justru tidak adil dan tidak bijak.
Padahal siri’ yang benar lahir dari akhlak yang bersih. Mengakui kesalahan, meminta maaf, atau memaafkan bukan berarti kehilangan harga diri. Justru itulah tanda orang yang mempertahankan siri’. Orang yang betul-betul punya siri’, tidak akan menodai dirinya sendiri dengan kemarahan yang membabi buta tanpa kontrol diri.
Begitu juga dengan pacce. Nilai ini seharusnya melahirkan empati yang lurus, rasa kasihan yang tulus, dan kepedulian terhadap orang yang tertimpa musibah. Tapi ada juga yang salah mengartikan. Hanya karena teman atau keluarga disinggung, langsung merasa wajib membela, tanpa peduli yang dibela adalah pihak yang salah.
Pacce yang seperti ini bisa menyesatkan. Orang merasa tidak setia kalau tidak ikut marah, tidak ikut membenci, tidak berdiri di pihak keluarganya meskipun tahu keluarganya salah. Padahal pacce bukan untuk menambah api, tapi untuk mendinginkan hati. Bukan untuk memperpanjang masalah, tapi untuk mempererat tali silaturahmi.
Selain salah menempatkan siri’, warga Makassar juga sudah banyak yang kehilangan pacce. Contohnya saat melihat pemuda-pemudi melakukan hal terlarang biasanya yang melihat acuh tanpa berani menegur atau mengingatkan. Ini menjadi bukti hilangnya pacce dengan pembiaran keluarga atau saudara sekampung terjatuh kedalam kubangan dosa. Hal ini juga membuktikan hilangnya makna siri’ sebagai sebagai kehormatan bersama.
Jika ada yang diingatkan juga kadang berkata “urusannu tommo urusu’ ngapa na keluargaku nu urusi” sikap seperti ini semakin menyempitkan makna siri’. Orang yang mengingatkan berarti dia punya pacce agar yang diingatkan tidak kehilangan harga diri (siri’), tapi kadang yang diingatkan malah menganggap dirinya nipaka siri’ (dipermalukan).
Di sinilah pentingnya pendidikan yang dibarengi dengan ilmu agama dan pemahaman yang mendalam tentang budaya yang benar. Kurangnya ilmu agama dan minim literasi budaya, bisa membuat seseorang salah dalam mengartikan siri’ na pacce sehingga tindakan dan ucapan yang dianggap mempertahankan siri’ na pacce justru malah mengotori kesucian dari budaya itu sendiri. Sehingga falsafah siri’ na pacce kehilangan makna sejatinya.






































