Beranda Mimbar Ide Dari Meme ke Demonstrasi; Membaca Politik Bahasa Mahasiswa Gen Z

Dari Meme ke Demonstrasi; Membaca Politik Bahasa Mahasiswa Gen Z

0

Oleh : Kasri Riswadi

(Peneliti Profetik Institute)

Beberapa tahun terakhir, berkembang sinisme di ruang publik bahwa daya kritis mahasiswa telah memudar. Mereka kerap dicap sebagai generasi yang lebih sibuk mengejar popularitas digital, tenggelam dalam kenyamanan algoritma, dan kehilangan keberanian politik yang dahulu melekat pada generasi mahasiswa 1966 atau 1998. Namun, gelombang demonstrasi mahasiswa yang muncul di berbagai kota dalam beberapa pekan terakhir menunjukkan bahwa asumsi tersebut layak dipertanyakan kembali.

Dari Jakarta, Semarang, Yogyakarta hingga Makassar, mahasiswa kembali memenuhi ruang publik dengan membawa beragam tuntutan. Mereka mengkritik situasi ekonomi yang dirasakan semakin berat, mempertanyakan efektivitas sejumlah program pemerintah, serta menuntut adanya evaluasi terhadap berbagai kebijakan yang dianggap tidak berpihak pada kebutuhan masyarakat.

Menariknya, fenomena yang sedang berlangsung tidak hanya penting dilihat sebagai peristiwa politik, tetapi juga sebagai peristiwa kebahasaan. Sebab, yang berubah bukan hanya isi kritik mahasiswa, melainkan juga cara kritik itu disampaikan.

Bahasa dan Arena Perebutan Makna

Dalam kajian linguistik dan Analisis Wacana Kritis (AWK), bahasa tidak pernah sekadar alat komunikasi. Bahasa merupakan arena tempat berbagai kelompok sosial berusaha mempertahankan, menegosiasikan, atau menantang kekuasaan.

Norman Fairclough, salah satu tokoh utama AWK, menjelaskan bahwa bahasa selalu berkaitan dengan relasi kuasa. Siapa yang mampu mendefinisikan realitas melalui bahasa sering kali memiliki keunggulan dalam membentuk persepsi publik. Karena itu, setiap kritik terhadap kekuasaan pada dasarnya juga merupakan pertarungan untuk memperebutkan makna.

Dalam konteks tersebut, demonstrasi mahasiswa hari ini menghadirkan sesuatu yang menarik. Mereka tidak lagi mengandalkan sepenuhnya slogan-slogan ideologis yang panjang dan formal. Sebaliknya, mereka menggunakan humor, satire, parodi, dan referensi budaya populer sebagai medium kritik.

Poster bertuliskan “Bensin mahal yang murah cuma janji”, “Yang makan MBG anak-anak, yang gemuk Kabinet Merah Putih”, atau sindiran mengenai pembangunan koperasi di lokasi yang dianggap tidak strategis mungkin tampak seperti lelucon biasa. Namun, di balik kesederhanaannya terdapat strategi komunikasi yang efektif.

Generasi muda memahami bahwa di tengah banjir informasi digital, pesan yang terlalu formal sering kali gagal menarik perhatian publik. Sebaliknya, humor dan satire lebih mudah beredar, dibagikan ulang, dan dibicarakan lintas platform. Kritik tidak lagi hanya disampaikan melalui mimbar demonstrasi, tetapi juga melalui bahasa yang akrab dengan budaya internet.

Morfosintaksis Perlawanan

Jika dicermati lebih jauh, kreativitas mahasiswa Gen Z tidak hanya terletak pada isi kritik yang mereka sampaikan, tetapi juga pada cara mereka membangun struktur bahasa. Dalam perspektif morfosintaksis, banyak slogan demonstrasi hari ini menunjukkan penggunaan bentuk-bentuk kebahasaan yang sengaja dirancang untuk menghasilkan efek ironi, humor, sekaligus kritik sosial yang tajam.

Perhatikan slogan “Bensin mahal yang murah cuma janji”. Secara sintaktis, kalimat ini dibangun melalui pertentangan antara dua unsur yang ditempatkan dalam satu konstruksi sederhana: ‘mahal’ dan ‘murah’. Secara logika, publik berharap harga kebutuhan hidup yang murah, tetapi slogan tersebut justru membalik ekspektasi itu dengan menempatkan ‘janji’ sebagai satu-satunya hal yang murah. Pembalikan makna ini menghasilkan efek satir yang kuat karena mengungkap kesenjangan antara harapan publik dan realitas yang mereka rasakan.

Hal serupa tampak pada slogan “Yang makan MBG anak-anak, yang gemuk Kabinet Merah Putih”. Kalimat ini memanfaatkan pola sintaksis paralel melalui pengulangan konstruksi “yang …”. Struktur yang berimbang tersebut menciptakan hubungan asosiasi yang mudah ditangkap pembaca. Secara semantik, slogan itu menyandingkan tujuan ideal sebuah program dengan persepsi publik terhadap pihak yang dianggap paling diuntungkan. Kritik politik tidak disampaikan secara langsung, tetapi melalui permainan struktur kalimat yang memancing tafsir dan tawa sekaligus.

Menariknya, sebagian besar slogan mahasiswa Gen Z menggunakan kalimat pendek, ritmis, dan mudah diingat. Dari sudut morfologi, pilihan leksikal yang digunakan juga cenderung berasal dari bahasa sehari-hari, bahasa media sosial, hingga kosakata budaya populer. Kosakata seperti meme, drama, viral, gemuk, atau janji jauh lebih dominan dibanding jargon ideologis yang lazim ditemukan dalam demonstrasi generasi sebelumnya.

Fenomena ini menunjukkan terjadinya rekontekstualisasi bahasa politik. Kosakata yang sebelumnya hidup dalam percakapan informal dipindahkan ke arena kritik publik. Akibatnya, bahasa politik menjadi lebih dekat dengan pengalaman keseharian masyarakat. Kritik tidak lagi tampil sebagai wacana elitis yang hanya dipahami kelompok tertentu, melainkan sebagai pesan yang dapat dengan cepat beredar, direproduksi, dan dimaknai ulang oleh publik luas.

Dalam konteks ini, perlawanan mahasiswa tidak hanya berlangsung pada tingkat gagasan, tetapi juga pada tingkat bentuk bahasa. Mereka tidak sekadar menggugat kebijakan, melainkan juga menantang bahasa resmi kekuasaan yang sering kali formal, birokratis, dan berjarak. Dengan memanfaatkan humor, ironi, dan permainan struktur kalimat, mahasiswa Gen Z berhasil mengubah bahasa menjadi arena perlawanan yang efektif di era algoritma.

Dari Konfrontasi ke Satir

Perubahan ini menunjukkan adanya transformasi bentuk perlawanan politik.

Pada generasi sebelumnya, kritik terhadap negara sering hadir dalam bahasa yang konfrontatif dan ideologis. Kini, sebagian mahasiswa memilih jalur yang lebih cair. Mereka tidak selalu menyerang melalui retorika revolusioner, melainkan melalui ironi dan absurditas.

Pilihan ini bukan berarti kritik menjadi lebih lemah. Justru dalam banyak kasus, satire mampu menembus lapisan pertahanan simbolik kekuasaan yang sulit disentuh oleh argumen formal.

Kekuasaan umumnya dapat merespons kritik dengan data, bantahan, atau narasi resmi. Namun, lebih sulit menghadapi kritik yang telah berubah menjadi bahan olok-olok publik. Ketika sebuah kebijakan menjadi objek satire yang terus direproduksi masyarakat, yang dipertaruhkan bukan lagi sekadar efektivitas program, melainkan juga legitimasi simboliknya.

Di sinilah humor bekerja sebagai instrumen politik. Tawa tidak selalu berarti hiburan; kadang-kadang ia merupakan bentuk ketidaksetujuan yang paling efektif.

Autentisitas Melawan Rekayasa Narasi

Fenomena lain yang patut dicermati adalah pertarungan antara narasi yang tumbuh secara organik dan narasi yang dibangun secara artifisial.

Di era media sosial, hampir semua pihak berupaya memengaruhi opini publik. Pemerintah, kelompok pendukung, oposisi, influencer, hingga buzzer sama-sama berkompetisi memperebutkan perhatian masyarakat.

Namun bahasa sering kali menyimpan jejak asal-usulnya.

Narasi yang lahir dari pengalaman langsung biasanya memiliki keragaman ekspresi, spontanitas, dan kedekatan dengan realitas sehari-hari. Sebaliknya, narasi yang terlalu direkayasa cenderung tampak seragam, repetitif, dan dipenuhi jargon administratif yang sulit membangun kedekatan emosional dengan publik.

Tentu tidak semua kritik otomatis benar, sebagaimana tidak semua dukungan otomatis merupakan hasil rekayasa. Namun dalam masyarakat digital, autentisitas menjadi modal yang semakin penting. Publik hari ini jauh lebih peka dalam membedakan mana suara yang lahir dari pengalaman nyata dan mana yang sekadar mengulang pesan yang telah disiapkan sebelumnya.

Karena itu, kekuatan utama gerakan mahasiswa tidak hanya terletak pada jumlah massa atau kemampuan mobilisasi, tetapi juga pada kemampuannya menghasilkan bahasa yang terasa hidup, relevan, dan dipercaya.

Oase Demokrasi

Kehadiran kembali mahasiswa di ruang publik merupakan pertanda bahwa demokrasi masih memiliki mekanisme koreksi dari bawah. Yang menarik, mekanisme koreksi tersebut kini hadir dalam bentuk yang berbeda dari generasi sebelumnya.

Bahasa kritik tidak lagi selalu berwajah serius. Ia bisa hadir dalam bentuk meme, poster satir, video pendek, maupun permainan kata yang menyebar cepat melalui media sosial. Di tangan Generasi Z, kreativitas menjadi bagian dari strategi politik.

Tentu gerakan mahasiswa bukan institusi yang sempurna. Mereka dapat keliru, berlebihan, bahkan terjebak dalam euforia sesaat. Namun keberadaan kritik tetap merupakan unsur penting dalam kehidupan demokrasi. Sebab demokrasi tidak diukur dari seberapa sering pemerintah dipuji, melainkan dari seberapa terbuka ruang bagi warga untuk mempertanyakan kebijakan yang mereka anggap bermasalah.

Pada akhirnya, yang sedang kita saksikan bukan sekadar kebangkitan demonstrasi mahasiswa, melainkan transformasi cara generasi baru mengartikulasikan kritik. Mereka memahami bahwa dalam masyarakat yang dibanjiri informasi, pertarungan politik bukan hanya soal menguasai jalanan, tetapi juga soal menguasai makna.

Dari meme yang beredar di layar gawai hingga demonstrasi yang memenuhi jalanan, mahasiswa Gen Z menunjukkan bahwa bahasa tetap menjadi salah satu instrumen politik paling penting dalam demokrasi. Ketika otoritas kehilangan daya persuasinya, satire, humor, dan kreativitas linguistik sering kali tampil sebagai bahasa tandingan yang menghidupkan kembali ruang kritik publik. Selama masih ada ruang bagi bahasa untuk mempertanyakan kekuasaan, selama itu pula demokrasi memiliki kesempatan untuk terus memperbaiki dirinya sendiri.

Facebook Comments Box