Beranda Mimbar Ide Menuju 2045: Apakah Kita Sedang Mencetak Generasi Emas atau Generasi Cemas Budaya?

Menuju 2045: Apakah Kita Sedang Mencetak Generasi Emas atau Generasi Cemas Budaya?

0

Oleh : Aqil muflih
(Pengurus PD IPM Gowa)

Indonesia negeri sejuta kekayaan, Alam luas yang indah nan menawan. Mulai dari Sabang sampai Merauke berjajar pulau-pulau dengan sejuta keindahan yang tentu terletak di daerah masing-masing. Dewasa ini, Indonesia diprediksi akan mendapatkan bonus demografi pada tahun 2045 sebagai status negara maju yang mengimplikasikan genersi hari ini sebagai pelanjut estafet kepemimpinan dengan value besar sebagai “Generasi Emas”.

Generasi Emas 2045 merupakan sebuah wacana dan gagasan dalam rangka mempersiapkan para generasi muda Indonesia yang berkualitas, berkompeten dan berdaya saing tinggi. Diseminasi gagasan itu gencar dilakukan untuk menginspirasi generasi muda agar lebih semangat dalam belajar dan berkarya di segala bidang.

Namun, Generasi hari ini sebagai harapan serta narasi besar kita pada tahun 2045 kian mengkhawatirkan. Pasalnya, banyak pelajar yang kian meninggalkan budaya lokal kemudian mengamini budaya baru atau value besarnya adalah proses akulturasi budaya. Proses akulturasi budaya pada generasi muda hari ini kian melenting lebih cepat. Pasalnya, Indonesia didapuk menjadi negara yang paling kecanduan ponsel pada tahun 2023.

Melansir laporan yang diluncurkan oleh GoodStats data.ai, Indonesia merupakan negara dengan rata-rata penggunaann perangkat mobile terlama di dunia, mencapai 6,05 jam perharinya.
Ponsel atau Handphone sebagai alat komunikasi dan informasi tentu menjadi suluh generasi hari ini untuk hadir bercengkrama didalam dunia maya. Dunia maya inilah yang sekiranya menjadi dampak besar bagi generasi muda atau pelajar yang mengintegrasikan suatu kebiasaan pelajar yang kemudian menjadi budaya. Ponsel atau Handphone tentu tak bisa kita bantahkan sebagai wujud modernisasi, namun proses modernisasi inilah yang sekiranya melenting namun tak sejalan dengan proses edukasi pelajar dalam menggunakan sosial media.

Pelajar hari ini banyak yang kehilangan identitas sebagai lokal wisdom di negara sendiri yang sekiranya mengamini budaya luar ketimbang budaya lokal. Hal yang bisa kita lihat sebagai output budaya pelajar hari ini berkat dunia maya yaitu budaya berbusana yang kian di permak modernis kebarat-baratan & budaya berbahasa yang dalam tanda kutip dicampur adukkan antara Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris serta Bahasa Daerah yang kian hari demi hari kian merosot.

Budaya adalah sebuah narasi besar, identitas yang kemudian menjadi sejarah. “historia magistra vitae” yang memiliki arti sejarah merupakan guru kehidupan, sejarah budaya kita itu kemudian mesti menjadi jargon pelajar pada dewasa ini agar kita tak lupa sejarah, budaya serta identitas kita. Di sisi lain, mesti ada wadah untuk teman-teman pelajar dalam menapaki jejak perjalanan intelektual di khazanah kebudayaan seperti suatu kelompok, komunitas & organisasi sehingga kita tak lupa budaya sebagai bumbu, warna atau identitas kita.

Problematik budaya berbahasa mesti kita optimalkan guna menyambut bonus demografi pada tahun 2045 agar kita mampu menghadirkan generasi berkualitas, berkompeten dan berdaya saing. Generasi Emas Indonesia hari ini mesti seksi dan adaptasi terhadap suatu modernisasi tanpa menghadirkan gradasi terhadap budaya lokal (lokal wisdom) kita. Kuasai Bahasa Bahasa Indonesia, Lestarikan Bahasa Daerah dan kuasai Bahasa Asing.

Facebook Comments Box