Beranda Mimbar Ide Menjaga Butta Gowa

Menjaga Butta Gowa

0

Oleh : Adam Malik*

Gowa bukan sekadar wilayah administratif. Ia adalah ruang hidup yang memiliki sejarah panjang, yang seharusnya tidak berhenti sebagai catatan masa lalu. Masalahnya hari ini bukan pada ketiadaan sejarah, tetapi pada cara kita memahaminya. Kita masih tinggal di tanah yang sama, tetapi tidak lagi berpikir dengan kesadaran yang sama.

Sejarah Gowa tidak terbentuk secara kebetulan. Ia dibangun oleh manusia yang memiliki kemampuan membaca situasi, memahami dunia luar, dan mengambil keputusan secara rasional. Mereka bukan hanya bertahan, tetapi berkembang karena memiliki cara berpikir yang kuat. Dalam konteks itu, muncul satu figur penting yang sering disebut, tetapi jarang dipahami secara utuh: Karaeng Pattingalloang..

Karaeng Pattingalloang bukan sekadar tokoh sejarah dalam buku pelajaran. Ia adalah representasi dari tradisi intelektual yang pernah hidup di Gowa. Ia menguasai berbagai bahasa asing seperti Portugis, Spanyol, dan Latin. Kemampuan ini bukan untuk simbol status, tetapi untuk memahami dunia luar secara langsung, tanpa perantara. Ia membaca, meneliti, dan berdialog dengan bangsa lain dalam posisi yang setara.

Kontribusinya tidak berhenti pada kemampuan bahasa. Ia memiliki ketertarikan besar terhadap ilmu pengetahuan, termasuk astronomi dan geografi. Salah satu hal yang sering disebut adalah ketertarikannya pada globe dan peta dunia. Ini menunjukkan bahwa ia tidak melihat Gowa sebagai ruang yang terisolasi, tetapi sebagai bagian dari dunia yang lebih luas. Cara berpikir ini yang membuatnya dihormati oleh bangsa Barat.

Catatan sejarah menunjukkan bahwa orang-orang Eropa tidak melihatnya sebagai sosok eksotis dari Timur, tetapi sebagai intelektual yang memiliki kapasitas berpikir yang tinggi. Ini penting untuk dicatat, karena menunjukkan bahwa pada masa itu Gowa memiliki standar intelektual yang mampu berdialog secara setara dengan dunia luar. Ini bukan romantisasi sejarah, tetapi fakta yang pernah terjadi.

Jika kita tarik ke kondisi saat ini, perbandingannya menjadi cukup jelas. Hari ini, akses terhadap informasi jauh lebih mudah. Teknologi memungkinkan siapa saja untuk mengetahui berbagai hal dalam waktu singkat. Namun, kemudahan ini tidak selalu diikuti dengan kedalaman pemahaman. Banyak orang mengetahui banyak hal, tetapi tidak memahami secara mendalam satu hal pun.

Di sinilah letak perbedaan mendasar antara masa lalu dan sekarang. Pada masa Karaeng Pattingalloang, keterbatasan akses tidak menghalangi lahirnya intelektualitas. Hari ini, kelimpahan akses justru tidak otomatis menghasilkan kualitas berpikir yang baik. Ini bukan soal kemampuan individu semata, tetapi juga soal sistem yang membentuk cara berpikir masyarakat.

Dalam perspektif psikologi, ada konsep Social Learning Theory yang dikemukakan oleh Albert Bandura. Teori ini menjelaskan bahwa manusia belajar melalui observasi terhadap lingkungan sekitarnya. Artinya, seseorang tidak hanya belajar dari apa yang diajarkan, tetapi dari apa yang ia lihat. Perilaku, cara berpikir, dan nilai-nilai banyak terbentuk dari model yang ada di sekitar.

Jika lingkungan tidak memberikan contoh berpikir kritis, maka sulit berharap generasi muda akan tumbuh dengan kemampuan tersebut. Ini yang menjadi tantangan di Gowa hari ini. Kita memiliki sejarah intelektual, tetapi belum berhasil menjadikannya sebagai model yang hidup dalam kehidupan sehari-hari.

Pendidikan seharusnya menjadi ruang utama untuk mentransmisikan nilai tersebut. Namun, yang sering terjadi adalah pendidikan lebih berfokus pada aspek administratif dan capaian angka. Kurikulum berjalan, tetapi tidak selalu menyentuh aspek pembentukan cara berpikir. Sejarah diajarkan sebagai rangkaian peristiwa, bukan sebagai proses yang bisa dipahami dan diteladani.

Pertanyaan penting yang perlu diajukan adalah, apakah ada ruang dalam sistem pendidikan untuk membahas sosok seperti Karaeng Pattingalloang secara mendalam? Apakah guru memiliki kapasitas dan waktu untuk menjelaskan bagaimana cara berpikirnya, bukan hanya apa yang ia lakukan? Apakah siswa didorong untuk memahami, atau hanya untuk menghafal?

Jika jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini belum memuaskan, maka ada masalah yang perlu dibenahi. Kita tidak kekurangan materi sejarah, tetapi kekurangan pendekatan dalam menyampaikannya. Sejarah seharusnya menjadi alat untuk membentuk cara berpikir, bukan sekadar pengetahuan tambahan.

Pemerintah daerah memiliki peran strategis dalam hal ini. Kebijakan pendidikan tidak cukup hanya berorientasi pada pemerataan dan infrastruktur. Ia juga harus menyentuh aspek kualitas berpikir. Program yang ada perlu dievaluasi, bukan hanya dari sisi pelaksanaan, tetapi dari dampaknya terhadap cara berpikir masyarakat.

Dalam konteks ini, kepemimpinan Husniah Talenrang dapat mengambil peran penting. Sejarah Gowa bisa dijadikan sebagai dasar dalam merumuskan kebijakan yang lebih berorientasi pada penguatan karakter intelektual. Ini bukan berarti kembali ke masa lalu secara literal, tetapi mengambil nilai yang relevan untuk konteks saat ini.

Salah satu langkah yang bisa dilakukan adalah memperkuat muatan lokal dalam pendidikan, dengan pendekatan yang lebih filosofis. Sosok seperti Karaeng Pattingalloang tidak cukup diperkenalkan sebagai tokoh, tetapi sebagai model berpikir. Siswa perlu diajak memahami bagaimana ia melihat dunia, bagaimana ia mengambil keputusan, dan bagaimana ia menjaga identitas di tengah interaksi global.

Selain itu, perlu ada pelatihan bagi guru untuk mengembangkan metode pengajaran yang lebih kritis dan kontekstual. Guru tidak hanya berfungsi sebagai penyampai materi, tetapi sebagai fasilitator dalam proses berpikir. Ini membutuhkan dukungan sistem, baik dari sisi kebijakan maupun sumber daya.

Di luar pendidikan formal, masyarakat juga memiliki peran penting. Nilai-nilai seperti siri’ na pacce masih hidup dalam budaya Gowa, tetapi sering kali tidak diartikulasikan dalam konteks modern. Siri’ tidak hanya soal harga diri, tetapi juga tentang integritas dalam berpikir dan bertindak. Pacce tidak hanya soal empati, tetapi juga tentang tanggung jawab sosial.

Jika nilai-nilai ini dapat dikaitkan dengan tradisi intelektual yang pernah ada, maka akan terbentuk suatu kerangka berpikir yang kuat. Masyarakat tidak hanya memiliki identitas budaya, tetapi juga arah dalam menghadapi perubahan zaman.

Anak muda Gowa berada pada posisi yang cukup kompleks. Mereka hidup di tengah arus globalisasi yang cepat, tetapi tidak selalu memiliki pijakan yang kuat pada identitas lokal. Di satu sisi, mereka memiliki akses terhadap dunia luar. Di sisi lain, mereka belum sepenuhnya memahami warisan intelektual yang dimiliki.

Ini bukan kesalahan individu, tetapi hasil dari sistem yang belum optimal. Oleh karena itu, pendekatan yang diperlukan bukan sekadar himbauan, tetapi strategi yang terstruktur. Anak muda perlu diberikan ruang untuk berpikir, berdiskusi, dan mengembangkan perspektifnya.

Karaeng Pattingalloang bisa menjadi titik masuk yang kuat dalam proses ini. Ia adalah contoh bahwa menjadi terbuka terhadap dunia tidak berarti kehilangan identitas. Ia menunjukkan bahwa intelektualitas tidak bertentangan dengan budaya lokal, tetapi justru bisa tumbuh dari dalamnya.

Jika dulu ia memanfaatkan keterbatasan untuk memahami dunia, maka hari ini tantangannya berbeda. Tantangannya adalah bagaimana menggunakan kelimpahan informasi secara bijak. Tanpa cara berpikir yang jelas, informasi hanya akan menjadi beban, bukan alat..

Menjaga Butta Gowa dalam konteks ini berarti menjaga kualitas manusia Gowa. Bukan hanya dari sisi ekonomi atau pembangunan fisik, tetapi dari cara berpikir dan kesadaran. Daerah yang kuat tidak hanya ditentukan oleh sumber daya alam, tetapi oleh kapasitas intelektual warganya.

Sejarahh telah menunjukkan bahwa Gowa pernah berada pada posisi yang dihormati, bukan karena kekuatan semata, tetapi karena kualitas manusianya. Ini seharusnya menjadi standar, bukan sekadar kebanggaan.

Pertanyaannya sekarang sederhana: apakah kita ingin menjadikan sejarah sebagai cerita, atau sebagai pedoman? Jika hanya sebagai cerita, maka cukup disimpan dalam buku. Tetapi jika sebagai pedoman, maka harus diterjemahkan dalam tindakan nyata.

Pemerintah daerah, tenaga pendidik, dan masyarakat memiliki peran masing-masing dalam proses ini. Tidak ada satu pihak yang bisa bekerja sendiri. Diperlukan kolaborasi yang jelas, dengan tujuan yang sama: membangun manusia Gowa yang mampu berpikir secara mandiri dan bertanggung jawab.

Jika itu bisa dilakukan, maka menjaga Butta Gowa bukan lagi sekadar slogan. Ia menjadi proses yang nyata, yang terlihat dalam cara masyarakat berpikir, bersikap, dan bertindak. Dan jika belum, maka kita harus jujur bahwa pekerjaan ini belum selesai.

*) Penulis adlaah Peneliti Profetik Institute dan Seorang anak yang lahir di Kabupaten Gowa, berproses hidup di Sicini, kala itu Kecamatan Parigi masih satu administrasi dengan Kecamatan Tinggimoncong

Facebook Comments Box