Home Politik Amien Rais

Amien Rais

32893
2
Akbar Endra

Oleh : Akbar Endra*

Soekarno, di penghujung masa kekuasaannya, Tahun 1966, pernah berujar dengan lantang. “Jangan Sekali-sekali meninggalkan sejarah!” Pidato Bung Karno Presiden Pertama RI itu dikenal sebagai Pidato Jas Merah! Para cendekiawan di zaman dahulu, pun selalu mewanti-wanti. Rontoknya suatu negeri jika negeri itu mengabaikan sejarah. Lantas apa sesungguhnya sejarah yang mesti dijaga?

Saya bukan pakar sejarah. Tapi bagi sy, memelihara ingatan pada peristiwa penting di masa lalu, adalah bahagian penting dari sejarah. Entah itu sejarah Kemeedekaan RI, sejarah Orde Lama ke Orde Baru, hingga sejarah yang tak kalah heroiknya, yakni sejarah lahirnya Reformasi Indonesia, 21 Mei 1998. Pada setiap sejarah yang pernah ada, kita tak hanya bicara peristiwa semata. Tapi di balik peristiwa bersejarah itu, selalu ada tokoh!

Lantas siapakah tokoh reformasi itu? Ketika ditanya kepada semua pelaku, nama paling atas bertengger, semua tulus mengakui, sang pelopor reformasi sesungguhnya adalah Amin Rais.

Amin Rais datang dari Kampus UGM sebagai dosen ilmu politik. Ia berjubah akademis dan berpeci Muhammdiyah. Ia aktif sebagai cendekiawan muslim bersama dengan Nurcholis Majid. Sebagai cendekiawan, Amin Rais berbicara lantang, tak pernah ia ragu dengan ucapannya. Ia yg pertama kali menggulirkan issu suksesi nasional, yang membuat Presiden Soeharto galau. Nama Amin Rais lalu dipuja di kampus-kampus.

Ditekan dan diteror dia tak gentar. Amin terus menggulirkan issu suksesi. Issu yg terlontar dari mulut Amin Rais ini, ini menjadi embrio gerakan reformasi. Amin melawan kekuasaan tanpa kekerasan. Tak kalah heroiknya dengan perlawanan Nelson Mandela, bahkan revolusi ala Khomaeni di Iran, sekalipun.

Soeharto lengser dan Orde Baru pun game over. Amin yang juga pemimpin Ormas Muhammadiyah, mampu menggerakkan massa membentang spanduk “Turunkan Presiden Soeharto!” Dari semua elemen. Termasuk massa NU.

Suatu hari, saya diajak oleh Tamsil Linrung, kongkow-kongkow dengan Amin Rais di Kantor Dewan Dakwah Islamiah Indonesia, di Jalan Kramat Raya Jakarta Pusat. Ketika itu, bersama Pengamat Ekonomi, Faisal Bisri, Amin memimpin organisasi tanpa bentuk, Majelis Rakyat Indonesia (Mari). Amin yg juga seorang ulama itu, menggandeng tokoh sosialis yg juga bos Majalah Tempo, Goenawan Moehammad, bergabung dalam Mari — menggerakkan ide-ide reformasi dengan semangat “amar ma’ruf nahi mungkar”.

Berdiskusi dengan Amin, kami terinjeksi semangat kebangsaan dan idealisme. Amin mampu memandang masa depan Indonesia dengan sistim demokrasi yang elegan. Ada satu hal yang melekat dalam ingatan saya ketika itu. Amin Rais berujar, Indonesia akan menjadi negeri yang besar jika negeri ini berdemokrasi dengan cara yang benar. Presiden dipilih langsung oleh rakyat dan korupsi diberantas secara serius.

Visi Amin jelas. Negara Indonesia yang demokratis akan maju, syarat utamanya harus bebas dari korupsi.

Bulan oktober tahun 1999 Amin mengalami meramorfosis politik. Ia terserap tuntutab zaman masuk dalam pusaran politik tingkat tinggi. Mendirikan PAN dan ia menjadi Ketua MPR RI. Ia menaikkan Gus Dur jadi Presiden menggantikan BJ Habibie melalui manuver politik yang brilian di MPR RI, Poros Tengah! Setahun jadi Presiden, Amin menurunkan kembali Gus Dur melakui Sidang Istimewa dan menaikkan wakilnya, Megawati Soekarnoputri sebagai Presiden Ri ke 3.

Amin Rais, aktivis yang berubah menjadi politisi. Ia bisa mendesign dan lihai menyusun perlawanan. Seiring dengan usia, Amin lalu mandeg pandhito. Perlahan ia meninggalkan arena politik. Cukup berada di belakang layar.

Di saat Amin menikmati masa senja usianya, namanya terusik dalam pusaran korupsi keaehatan di KPk. Ia disebut menerima aliran dana. Tentu, para pejuang reformasi tak segera berkesimpulan bahwa Amin Rais seorang koruptor. Dari Sabang sampai Marauke para aktifis bangkit membela Amin Rais. Dan, benar, KPk akhirnya teedesak harus minta maaf dan memulihkan nama baik Amin Rais.

Begitulah. Ketokohan Amin Rais bukan datang dari momentum belaka. Tapi lahir sebagai tokoh yang bernyali. Ia nemiliki kekuatan karakter. Sebagai seorang akademisi, ulama, aktifis dan juga sekaligus politisi maestro, Amin selalu bersikap tenang dengan serangan-serangan politik. Bahkan ia tak gentar menghadapi politik kriminalisasi.

Kita sempat terperangah mendengar nama Amin Rais dalam pusaran korupsi di KPK. Namun, Amin Rais di usianya yg telah sunset itu, menunjukkan kelasnya sebagai Bapak Reformasi. Ia mampu menguak fakta dan mengubah opini publik. TUHAN melindunginya. Wallahu alam bisshawab!

*) Penulis adalah Anggota DPRD Kabupaten Maros

Facebook Comments

2 COMMENTS

  1. Der Artikel ist wirklich toll. Das Thema hat mich
    schon sehr lange interessiert und ich konnte hier
    noch einiges weiterführendes finden. Ich freue
    mich, weitere Artikel zu lesen. Danke und Grüße
    aus Heidelberg Marco Feindler

  2. I do trust all the ideas you have offered for your post.
    They are very convincing and will definitely work. Still, the posts are
    very brief for newbies. May you please extend them a little
    from subsequent time? Thanks for the post.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here