Home Literasi Strategi Membangun Budaya Literasi di Daerah

Strategi Membangun Budaya Literasi di Daerah

36
Muhammad Hidayat Djabbari

Oleh : Muhammad Hidayat Djabbari*

“Daerah menjadi penopang suatu negara dalam mewujudkan masyarakat yang cerdas dengan menjadikan budaya literasi sebagai strategi”

Indonesia adalah salah satu negara berkembang yang berada di Asia Tenggara, tegabung dalam komunitas masyarakat ekonomi ASEAN menjadikan indonesia memiliki tantangan yang lebih untuk bersaing dengan negara-negara ASEAN. Negara dengan jumlah penduduk ke-4 terbesar didunia yakni 200 juta lebih peduduk Indonesia bisa (data BPS tahun 2010) dijadikan modal dalam melakukan persaingan dengan negara lain. Tinggal pemerintah meningkatkan kualitas sumber daya manusianya melalui instansi pendidikan. Seperti yang diketahui bahwa jumlah pelajar di indonesia sebanyak 4 juta lebih (data BPS tahun 2015) tersebar dari berbagai pelosok negeri. Untuk itu untuk meningkatkan kuliatasnya pemerintah harus menyiapkan strategi. Salah satu starategi yang bisa dilakukan adalah dengan membangun budaya literasi.

 Menurut Kern (2000) Literasi adalah penggunaan praktik-praktik situasi sosial, dan historis, serta kultural dalam menciptakan dan menginterpretasikan makna melalui teks. Literasi memerlukan setidaknya sebuah kepekaan yang tak terucap tentang hubungan-hubungan antara konvensi-konvensi tekstual dan konteks penggunaanya serta idealnya kemampuan untuk berefleksi secara kritis tentang hubungan-hubungan itu. Karena peka dengan maksud/ tujuan, literasi itu bersifat dinamis, tidak statis dan dapat bervariasi di antara dan di dalam komunitas dan kultur diskursus/ wacana. Literasi memerlukan serangkaian kemampuan kognitif, pengetahuan bahasa tulis dan lisan, pengetahuan tentang genre, dan pengetahuan kultural. Kemudian Kern menambahkan bahwa  literasi mencakup dua hal, yakni keaksaraan dan kewicaraan atau lisan dan tulisan tentunya merupakan bagian dari budaya manusia untuk berkomunikasi antara satu sama lain dalam upaya mencapai tujuan-tujuan hidup. Dengan penguasaan literasi yang baik atau sesuai dengan sosiokulturalnya, manusia dapat berkomunikasi dengan baik pula. Jadi, literasi dapat disimpulkan sebagai suatu kemampuan memiliki pengetahuan secara kompleks dari suatu teks atau bacaan yang bisa dimanfaatkan untuk berkomunikasi atau membaca suatu persoalan yang terjadi didalam masyarakat.

Selain yang dikatakan kern, Al-qur’an dalam surah Al-alaq yang memerintahkan untuk melakukan literasi, Iqra yang artinya “baca”. Dari surah al-alaq ini dapat ditafsirkan sebagai perintah untuk membaca. Hal inilah yang kemudian dapat di ambil acuan tentang pentingnya literasi.

Budaya literasi bisa menjadi modal intelectual (capital Intellectual) bagi masyarakat. Modal intelektual atau capital intellectual seperti yang dikatakan Smedlund dan Poyhonen (2005) adalah kapabilitas organisasi untuk menciptakan, melakukan transfer, dan mengimplementasikan pengetahuan. Walaupun pada realitasnya Indonesia berada pada urutan 60 dari 61 tingkat literasi suatu negara, yang diteliti oleh Central Connecticut State University di New Britain. Lebih parah lagi, Data statistik UNESCO di tahun 2012 menyebutkan bahwa indeks minat baca di Indonesia cuma 0,001. Ini berarti bahwa hanya ada satu orang yang memiliki minat baca dari seribu orang di Indonesia. Contoh lain dari kurangnya literasi di Indonesia adalah masih banyaknya orang yanng lebih memilih mendengar dan menonton ketimbang membaca, hal ini bisa berakibat pada masyarakat lebih bersifat konsumtif terhadap sesuatu. Indonesia harus keluar dari keterpurukan literasi tersebut, masyarakat harus sadar bahwa literasi sangat penting untuk mewujudkan masyarakat yang cerdas.

Realitas ini menggambarkan bahwa Indonesia harus segera berbenah diri dan ini menjadi tanggung jawab bersama seperti dalam konsep good goverment (pemerintah, swasta dan masyarakat). Untuk membangun budaya literasi ada beberapa langkah strategis yang harus dilakukan pemerintah daerah melalui pendekatan kebijakan public.  Fungsi kebijakan public menurut Easton (1969) adalah sebagai bentuk intervensi pemerintah. Dengan pendekatan kebijakan publik ini pemerintah daerah bisa melakukan intervensi kepada masyarakat dengan membuat regulasi untuk membangun budaya literasi dimasyarakat. Regulasi tentang literasi ini harus mampu memaksa masyarakat memiliki kebiasaan menulis dan membaca.

Ketika budaya literasi sudah berbudaya atau berkembang dimasyarakat yang ditandai dengan adanya praktik literasi dalam kehidupan bermasyarakat, maka budaya literasi ini dapat menaikkan status sosial seseorang, karena dengan adanya pengetahuan yang didapat dari proses literasi. Misalnya, seseorang yang termarjinalkan dalam masyarakat dapat menaikkan status sosialnya atau mendominasi ketika dia memiliki pengetahuan yang menjadikan dia sebagai pembicara dalam masyarakat. Untuk menjadi pembicara dalam masyarakat harus memiliki modal pengetahuan, modal pengetahuan inilah yang kemudian didapatkan dari prakti literasi.

Jadi, strategi yang harus digunakan dalam membangun budaya literasi yakni, Pertama, Regulasi untuk mengubah model atau kebiasaan belajar siswa dikelas dengan mengharuskan siswa membaca 10 menit sebelum pelajaran dimulai, kemudian diakhir pelajaran siswa membuat tulisan atau minimal resume tentang hasil bacaan dan pelajaran yang diterima atau siswa harus menghasilkan tulisan minimal resume tentang pelajaran sebagai syarat untuk naik kelas. Kedua, Sinergitas antara pemerintah dengan organisasi kepemudaan untuk melakukan sosialisasi dan kegiatan untuk membangun kebiasaan membaca dan menulis pada masyarakat. Ketiga, pemanfaatan perpustakan sebagai wisata atau kunjungan bagi para siswa untuk menambah referensi bacaan. Keempat, penyediaan sarana dan prasarana yang menunjang kegiatan membaca dan menulis agar mudah dijangkau oleh masyarakat serta menciptakan suasana lingkungan yang cocok untuk kegiatan membaca dan menulis. Kelima, Setiap keluarga harus menyiapkan waktu berkumpul dengan keluarga untuk membaca dan menulis dirumahnya, semisal waktu jeda antara sholat magrib dan isya dimanfaatkan untuk membaca dan menulis bagi keluarga.

*)Penulis adalah ketua umum IMM Eksotik Unhas, Pengurus Pusat Himpunan Pelajar Mahasiswa Massenrempulu (HPMM).

 

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here