Home Literasi Perempuan Payung Telah Menjadi Hujan (2)

Perempuan Payung Telah Menjadi Hujan (2)

0
Esye Yusuf Lapimen

Hari ini, hujan pertama kembali menyapa Oktober. Ana duduk di teras rumahnya. Mengurai rintik hujan yang telah menjadikannya manusia. Ia mengingat cerita Ibunya, tentang kelahirannya di bulan Oktober, tepat saat hujan pertama membasahi tanah-tanah kering yang dijajah kemarau. Saat itu pula, ia mengigat tepat setahun pertemuannya dengan lelaki yang siap melindunginya dari serangan hujan. Lelaki yang kerap menceritakan kisah-kisah tentang hujan, salahsatunya kisah tentang tangisan bulan menjelma jadi hujan.

Konon, telah hidup sepasang kekasih yang saling mencintai. Mereka telah berkomitmen untuk saling setia, apapun yang terjadi. Namun, suatu saat lelaki meminta izin untuk meninggalkan kampung halaman ke negeri seberang, untuk mencari penghidupan yang layak, jika telah ia dapatkan, maka lelaki itu akan kembali dan meminang perempuannya, berniat hidup dengan bahagia.

Sebelum pergi, lelaki itu berpesan, jika perempuannya hendak mendengar kabarnya, bertanyalah pada angin di sore hari, niscaya angin tersebut telah dititipkan kabar tentangnya. Dan, jika perempuannya hendak melihat dirinya, tataplah bulan yang bersinar sempurna, nicaya bulan akan memantulkan segala tentangnya. Pesan itu, dijunjung kuat oleh perempuannya.

Namun, lama juga perempuan itu menunggu kabar dari angin sore dan gambaran lelakinya dari bulan sempurna. Jenuh dan geramlah perempuan itu dalam menunggu. Ia berusaha ingin menangkap angin. Karena takut, angin berlari begitu kencang dan berhasil lolos dari geramnya perempuan itu. Kesal, tidak mendapatkan angin. Perempuan itu membuat tangga bambu yang sangat tinggi hingga menjangkau bulan. Ia menaiki anak tangga satu persatu, terus dan terus, naik dan naik, tinggi dan tinggi. Tiba-tiba dia menengok ke bawah, ke bumi. Diliatnya lelakinya sedang berdua dengan perempuan lain. Ia sangat kecewa, angin tidak mengabarkan hal demikian dan bulan tak mengambarkan hal demikian. Ia melanjutkan perjalanan, menapaki anak tangga yang tersisa. Lalu, tibalah ia di hadapan bulan, ditamparnya bulan hingga menangis, dan tangisan bulanlah menjelma hujan.

Setelah bercerita hal demikian, lelaki itu berkata kepada Ana, “itulah sebabnya, jika hendak hujan, angin berhembus keras. Karena, mereka masih mengingat ketika perempuan itu memburunya.” Berulang kali Ana diceritakan hal tersebut, namun, Ana tidak pernah merasakan benih kepercayaan tumbuh terhadap cerita itu. Baginya, dirinyalah hujan yang sesungguhnya, dan cerita itu hanyalah dongeng yang dibuat-buat untuk mengambarkan kesetiaan palsunya.
Buktinya, lelaki itu telah tiada. Ia tidak lagi membuktikan bahwa dirinya siap menjadi benteng pertahanan untuk Ana terhadap hujan. Ia telah pergi, merantau ke negeri tetangga. Sebelum kepergiaannya, Lelaki itu menceritakan kembali tangis bulan yang menjelma hujan kepada Ana, lalu berjanji akan memberi kabar kapan pun dan apa pun caranya. Namun, hingga kini kabar tentangnya belum juga datang.

Di teras rumah, Ana bangkit. Ia telah letih mengurai rintik hujan yang telah menjadikannya manusia. Mengurai hujan, sama halnya mengurai kenangan yang bentuknya seperti hujan. Berbutir-butir bak selonsongan peluru yang menyerang, tepat di dada. Perih.
Ia beranjak meninggalkan rumahnya tanpa payung. Ia ingat di sebelah utara kota ada jembatan, di bawahnya ada sungai yang mengarah ke muara. Ia berjalan menuju jembatan itu. Sesampainya di jembatan, tanpa pikir panjang, Ana meloncat. Orang-orang yang melihatnya kaget dan berlari melihat sisi-sisi jembatan. Menanti Ana, muncul ke permukaan.

Hujan belum juga berhenti. Air sungai meluap, menjadi banjir dan menghanyutkan beberapa rumah-rumah warga sekitar. Ana bersamanya. Bersama air, menuju muara, dan menyatu di lautan. Ombak memukul-mukul keras merayakan kemenangan. Soal rekannya yang telah kembali. Mereka menunggu hingga matahari bersinar, mengupkannya, mengembalikan Ana ke rahim awan.

*) Penulis adalah Anggota Komunitas Penulis Lamaruddani, Alumni Sastra Indonesia Fakultas Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Makassar.

Facebook Comments

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here