Home Literasi Menerjemahkan Akuntansi Dalam Kemanusiaan

Menerjemahkan Akuntansi Dalam Kemanusiaan

528
0
SHARE
Ahmad Hasan AK

Oleh : Ahmad Hasan AK*

Akuntansi seakan sudah menjadi program studi yang majib disetiap perguruan tinggi. Bahkan menurut CNN Indonesia, program studi terfavorit nomor dua adalah akuntansi dan mengalahkan kedokteran, hukum dan teknik sipil. Secara definisial yang sederhana, akuntansi merupakan suatu proses untuk menghasilkan laporan keuangan.

Dalam pembuatan laporan keuangan, proses akuntansi perlu melalui beberapa tahapan yang sering kita kenal dengan sebutan siklus akuntansi. Secara umum, siklus akuntansi terdiri atas Jurnal, posting, penyesuaian, kertas kerja, dan laporan. Jika konsep ini diterjemahkan dalam terminologi kemanusiaan, maka kita akan melihat siklus akuntansi seperti perjalanan manusia menuju kesempurnaan.

Tahapan pertama dalam siklus akuntansi adalah jurnal. Jurnal dapat diartikan sebagai proses pencatatan transaksi yang telah terjadi dan sudah dapat diakui.

Tahapan transaksi ini dapat dijadikan sebagai analogi pergerakan atau tindakan. Konsep jurnal menitikberatkan bahwa semua aktivitas manusia niscaya akan tercatat dan diakui kejadiannya. Terlebih lagi, dasar pengakuan yang digunakan adalah berbasis akrual dimana transaksi yang diakui bukan hanya transaksi yang bersifat kas tetapi juga bersifat nonkas. Layaknya manusia, yang akan diakui bukan hanya perbuatan yang berbau materi saja, tetapi juga mengakui perbuatan yang bersifat nonmateri.

Tahapan yang kedua adalah posting. Defenisi sederhana posting yaitu memindahkan pencatatan dari jurnal ke buku besar. Dalam proses pemindahan ini, transaksi yang telah dijurnal digolongkan dalam akun-akun tertentu yang sebelumnnya hanya dicatat dalam satu buku jurnal. Berangkat dari defenisi sederhana di atas, maka dapat ditarik sebuah konsep bahwa manusia harus mampu mengenali dan mengelompokkan setiap gerak yang telah ia lakukan. Apakah gerak yang dilakukan adalah gerak yang mendekatkan manusia dengan kesempurnaan ataukah gerak yang dilakukan adalah gerak menuju kebinasaan dan kesia-siaan. Ketika manusia mampu menyadari gerak yang ia lakukan, maka ia akan mampu memahami posisinya dalam kehidupan sehingga proses perbaikan atau penyesuaian menjadi keniscayaan.

Tahapan selanjutnya adalah kertas kerja. Dalam kertas kerja terdapat neraca saldo, penyesuaian dan penggolongan akun buku besar. Penyusunan kertas kerja ini dilakukan dengan cara melakukan penyesuaian maupun koreksi atas data yang diperoleh. Penyesuaian dilakukan untuk mencatat transaksi yang bersifat akrual, sedangkan koreksi dilakukan untuk memperbaiki kesalahan jurnal yang telah dicatat.

Baca Juga  "Katanya Harus Disiplin"

Kertas kerja sama halnya dengan proses gerak manusia. Ketika manusia telah menyadari yang telah ia lakukan, maka ia akan menentukan sebuah proses tambahan untuk melengkapi gerak menyempurna yang telah ia bangun.

Hal inilah yang menjadi makna dari analogi jurnal penyesuaian. Sedangkan ketika ia menyadari gerak yang dilakukan tidak membawanya lebih dekat dengan kesempurnaan, maka gerak yang selama ini dilakukan mesti dihentikan dan mencoba untuk membuat gerakan yang baru. Inilah yang terkonotasikan dalam jurnal koreksi. Akan tetapi, penyesuaian maupun koreksi hanya bisa dilakukan apabila pengelompokan akun telah selesai. Oleh karena itu, disinilah pengetahuan diperlukan untuk melakukan mengenali gerak tersebut.

Tahapan terakhir yang ada dalam siklus akuntansi adalah laporan keuangan. Secara sederhana, laporan keuangan didefenisikan sebagai wujud pertanggungjawaban manajer atas apa yang telah dilakukan selama satu periode.

Laporan keuangan inilah yang menjadi dasar penilaian atas posisi keuangan maupun kinerja perusahan. Ketika kita menarik hal ini dalam konteks manusia, maka konsep yang paling tepat sebagai akhir dari siklus kehidupan adalah konsep ma’ad atau hari akhir. Sebagai wujud keadilan Ilahi, ma’ad menjadi wujud pertanggungjawaban segala bentuk gerak kehidupan manusia selama hidup di dunia yang fana. Di sinilah penilaian akhir untuk menentukan apakah manusia telah mencapai proses penyempurnaannya untuk kembali ataukah ia tak mampu mencapai kadar kesempurnaannya dan tidak mampu kembali ke Yang Maha Sempurna.

Akuntansi merupakan sebuah kewajiban bagi setiap perusahaan yamg membutuhkan data keuangan sebagai dasar pertimbangan keputusan yang akan diambil. Akan tetapi, akuntansi tidak hanya berbicara tentang debit kredit saja. Ketika kita mampu memaknai siklus akuntansi sebagai bagian kecil dari gerak dalam kemanusiaan, maka kita akan sampai pada sebuah kesimpulan bahwa siklus akuntansi dan manusia sama-sama meniscayakan perlunya tahapan dalam penyempurnaan. Hanya saja, satu hal yang akan menjadi perbedaan mendasar bahwa siklus akuntansi adalah proses yang akan terus berulang selama perusahaan tersebut bertahan dan tahapan penyempurnaan manusia tidak akan mengalami pengulangan melainkan akan berhenti ketika manusia mencapai tujuannya.

*) Penulis merupakan Koordinator Bidang Ekonomi Lingkar Mahasiswa Islam Untuk Perubahan (LISAN) Komisariat PNUP Cabang Makassar dan Ketua DPM-Ak HMA-PNUP periode 2017/2018

Facebook Comments