Home Mimbar Ide Politik Otentik

Politik Otentik

159
0
SHARE
Arifudin Afraidin

(Sebuah Nalar Politik Hannah Arendt)

Oleh : Arifudin Afraidin

Suasana semakin memanas, semacam  api “membara.” Demikian kondisi politik era kekinian. Politik tidak asing bagi masyarakat, pemerintah, pemuda, mahasiswa. Pertanyaan sekarang, mungkinkah politik akan membawa pada kemasalahatan ummat

Bepolitik “ibarat” mengendarai sepeda motor, untuk mencapai “target” yang diinginkan. Semacam kreatifitas dalam diri yang memiliki keistimewaan yang tak pernah dimiliki oleh orang lain.

Melawan totalitarianisme yang mencemoohkan harkat kemanusiaan serta pragmatisme politik yang menginstrumentalisasikannya. Hannah Arendt adalah sosok yang ingin mengembalikan martabat dimensi politik sebagai wilayah komunikasi antarmanusia demi kemajuan bersama. Agus Sudibyo berhasil membuka akses ke pemikiran Hannah Arendt bagi pembaca Indonesia. Politik Otentik, sebuah sumbangan penting bagi pustaka filsafat politik dalam bahasa Indonesia (Franz Magnis-Suseno).

Apa itu politik? Di saat Pemilu, mengapa orang ramai menyeru bahwa itu tahun politik? Mestikah politik melulu identik dengan pergulatan antarpartai dan politisi? Bisakah perebutan jabatan atau sumber daya publik disebut sebagai agenda politik?

Dari kondisi ini, lahirlah politik yang diciptakan manusia yang tak lain tertuju guna membendung banalitas. Politik adalah alat rekonsiliasi.

Ketika suasana politik semakin memanas, diperlukan pendingin. Siapa yang bisa mendinginkan kondisi politik yang memanas?

Dalam kondisi inilah kita membutuhkan intelektual yang berintegritasitas dan arif supaya arah politik ke depan semakin membaik, dan bukan saling, melempar isu sembunyikan tanggan.

Tindakan-tindakan yang mencederai sistem perpolitikan ini, sebaiknya menemukan obat agar menutup lukanya yang kian menganga. Pengobatan yang dilakukan tentunya harus menyentuh masyarakat akar rumput dan melalui pemahaman politik yang bersih dan sehat.

Sehubungan dengan pemahaman politik, menarik kiranya menilik gagasan politik Hannah Arendt dalam bukunya yang berjudul “Politik Otentik”. Melalui gagasannya, Arendt memaknai politik yang mengafirmasi keberagaman dan tentunya mengakui perbedaan. Sehingga secara mendalam, politik dalam kaca mata Arendt adalah usaha manusia mengelola kehidupannya, tanpa sikap diskriminatif dan intimidatif. Sehingga meniscayakan hadirnya ruang terbuka bagi semua individu untuk mengajukan kesetaraannya.

Baca Juga  Hanura Targetkan Enam Kursi di DPRD Enrekang

Penjelasan politik Arendt, juga diiringi dengan pemahaman atas pemilahan antara ruang publik dan ruang privat. Di mana bagi Arendt, politik hanya dapat diberlangsungkan dalam ruang publik. Mengapa? Karena ruang publik adalah ruang yang memberikan kebebasan untuk berekspresi, ruang bersama, dan ruang di mana kepentingan bersama diperjuangkan dan ditegakkan. Sedangkan ruang privat adalah ruang di mana penguasaan bisa dilakukan tanpa keterlibatan yang lain, sehingga menolak kolektivisme, dan menutup kran terwujudnya kepentingan bersama.

Kekecewaan akan terus terjadi, mana kala penguasa politik hanya “mengedepankan” kepentingan privat, kita cenderung dihipnotis dengan gaya-gaya yang tidak mencerminkan nilai “values” sehingga dampaknya sangat memburuk, “politik otentik” hadir untuk menyadarkan. Bukan untuk mentidaksadarkan.

Lantas, apa yang bisa dipetik ketika berkaca pada konteks perpolitikan di Indonesia? Tak lain adalah semangat politik otentik dari Arendt. Bahwa membebaskan manusia, meniscayakan pluralitas, serta menyatukan tujuan bersama tanpa menonjolkan kepentingan pribadi atau golongan, itulah tujuan politik yang sesungguhnya. Politik otentik!.

*) Penulis adalah Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Mataram “UMMat”

Facebook Comments