Home Mimbar Ide Politik Uang, Politik Hasrat

Politik Uang, Politik Hasrat

127
0
SHARE
Ermansyah R. Hindi

Oleh: Ermansyah R. Hindi *

Pengulangan kebebasan yang suram tidak lebih sebagai celah dan retakan demokrasi dalam Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada Provinsi dan Kabupaten/Kota), Pemilihan Legislatif dan relatif Pemilihan Presiden. Celah dan retakan itu menjadi apa yang dinamakan politik uang dimainkan oleh kelompok kepentingan politik. Pertama, massa mengambang dimanipulasi melalui uang dalam perilaku politik seiring dengan mengambang bebasnya nilai mata uang. Kedua, politik uang setelah mengalami proses penjajakan yang menggoda beroperasi dalam ketidaksadaran molekuler, yakni “hasrat” dan “mesin”. Politik uang menjadi pilihan strategi permainan tanpa aturan, bukan kekuatan tandingan, kecuali mesin (hasrat) sebagai jaringan kekuatan subversif leluasa bergerak dengan cara melipatgandakan sel sekaligus mengakhiri produksi kuasa. Sementara, pergerakan hasrat akan kuasa politik tidak hanya dimaterialisasi melalui tubuh, tetapi juga memiliki struktur ganda berupa alur “kehampaan” dan “kegilaan” sebagai bentuk irasionalitas yang rasional. Struktur ganda yang dimainkan seseorang dalam permainan diskursus politik merupakan selingan bagi pembentukan retakan, patahan, celah, dan irasionalitas tiba-tiba berubah menjadi mesin ketidaksadaran yang tidak terelakkan.
Kekuatan politik uang hanya mampu tumbuh serta bergerak tatkala bersifat padat dan berlipat ganda, sehingga seluruh kekuatannya mampu mengartikulasikan dan memanipulasi bahasa politik. Ia bukanlah sesuatu (kata benda) yang cair, kecuali seni permainan sekaligus pembentukan korban keambiguan dari “perpolitikan Indonesia mutakhir”. Mesin permainan politik sejauh mesin uang dalam negara. Sementara, mesin politik uang merupakan aparatus ketidakhadiran nalar diubah menjadi mesin ketidaksadaran yang ditanam, ditumbuhkan dan disebarkan dengan hasrat dan kenikmatan bersifat instan. Politik uang hanya menjadi darah yang mengalir antara struktur daging dan tulang tanpa organ bahkan tubuh (murni). Darah-uang yang mengalir dalam masyarakat pemilih yang menerobos tubuh modal-tubuh politik tidak lagi dimaterialisasi atau dipadatkan, melainkan dipecah, dibelokkan dan dikosongkan secara nyata dalam kesadaran, khayalan, dan mimpi membebani individu dan kelembagaan. Orang-orang dari kejauhan nampaknya tidak mengigau atau ngelantur dengan mengatakan: “berkat uang, suara mudah dibeli atau ada uang, ada suara”. Dapat dikatakan, “politik uang adalah struktur logis ketidaksadaran menuju mesin hasrat yang liar”. Kekuatan permainan tanpa aturan dari politik uang bukanlah siasat licik atau strategi murahan, melainkan bagian dari penyaluran hasrat melalui hasil identifikasi (seperti kekuatan suara atau lekukan tubuh yang mengundang birahi). Rangsangan uang seiring dengan rangsangan libido melampaui biaya politik. Pemilih, dipilih dan pendanaannya tidak bertanggungjawab pada demokrasi, kecuali pemenuhan hasratnya pada sesuatu yang erotis dan abstrak dibalik uang. Dalam hal ini, demokrasi bukanlah dorongan-motif, melainkan pembebasan hasrat dalam politik uang. Semakin kuat seseorang untuk melakukan pembebasan hasrat dari lingkaran politik uang, semakin muncul kekuatan hasrat yang lain. Karena itu, pendidikan politik jangka panjang bagi setiap warga negara begitu berguna untuk membebaskan kita dari politik pembodohan melalui uang yang membajak demokrasi. Jadi, bukanlah pembebasan hasrat dalam politik, melainkan pembebasan politik uang yang memikat-merayu agar masyarakat pemilih tidak terjatuh dalam kehampaan yang sekian kalinya.

Tetapi, orang-orang mulai menduga-duga, politik uang bukan hanya rezim pertukaran, artikulasi, dan distribusi kepentingan, tetapi juga pemenuhan hasrat didalam ekonomi uang yang menggiurkan begitu banal dan mengkuatirkan dalam masyarakat. Nalar sebagai pusat ternyata tidak kuat dihadapan uang dalam kuasa politik. Dalam hal ini, uang menjadi tanda hasrat. Ada logika lain yang bergerak di luar dan mengambil-alih nalar, yakni hasrat untuk menentukan pilihan politik dari masyarakat yang terindividualkan. Kerancuan mereka nampak antara struktur pemilih dan yang dipilih dalam Pilkada menempatkan masyarakat cenderung cara berpikir serba-simplisitas yang berlindung dibelakang rasionalisasi dan pertukaran tertentu terhadap individu dan kebebasannya. Pada satu pihak, pergerakan arus produksi hasrat demikian bebas tanpa batas ke setiap arah, sekalipun masih berada dalam wilayah pergerakan politik uang yang mengambang bebas terjadi tatkala hasrat massa tidak mengambang mulai terbentuk. Mengapa terjadi politik uang dan apa yang mendorongnya? Taruhlah misalnya, terdapat kelompok masyarakat secara ekonomi berada dibawah garis kemiskinan akan menjadi sasaran pergerakan politik uang. Serangkaian “keluarga miskin”, “para kandidat-politisi” dan “kapitalis” akhirnya berada dalam “penanaman ketidaksadaran sebagaimana aliran hasrat seiring dengan aliran uang yang mengambang bebas dalam kuasa politik”. Pihak lain, kita melihat fenomena politik uang merupakan garis kurva yang terputus-putus dan retakan bagi politik hasrat, yaitu suatu mekanisme penanaman libidinal kedalam fantasi, mimpi atau imajinasi mereka. Mungkin tidak ada jalan lain bagi kita untuk melakukan pergerakan mikropolitik hasrat (dukungan suara pemilih) dengan menempatkan jejaring dekomoditisasi modal-uang yang beroperasi secara diam-diam melalui mekanisme penanaman ketidaksadaran muncul bukan ketidakacuhan atau rendahnya partisipasi politik, melainkan berduyun-duyunnya masyarakat dan bergelimpahannya dukungan suara pemilih untuk menyalurkan hak pilihnya.

Baca Juga  Hargai Aturan, Relawan IYL-Cakka Hindari Kecurangan

Khusus dekomoditas modal-uang dalam arena permainan tidak menunjukkan bahwa ia harus berada dalam relasi-relasi politik nampak sebagai panggung kosong atau teater sunyi, dimana peran-peran yang dimainkan orang-orang sedang dikonsolidasikan dengan kekuatan fantasi dan mimpi yang sama kosongnya. Dalam analisis teks Deleuzean-Lyotardian, setiap seni politik sekaligus seni erotis menjadi seperti gelembung udara memasuki sel-sel hidup dan nyata melalui “struktur permukaan paling nyata dari uang”. Ia menempatkan “struktur kedalaman” (hal-hal kosong dari moral, kesadaran, selera) sebagai data korban dari “mesin ketidaksadaran” tanpa permainan, tanpa ideologi. Pertukaran antara politik uang dan mesin elektoral terjadi setelah dinetralisir oleh aliran modal dan bunga (ekonomi politik). Sedang, politik uang dimanipulasi melalui aliran hasrat (ekonomi libido). Penandaan politik uang dan politik hasrat adalah masalah ekonomi. Karena pertukaran berhubungan dengan hasrat. “Pertukaran uang dengan suara menubuhi politik”. Kelahiran mekanisme pertukaran tanda lebih halus melebihi pertukaran uang dengan suara yang menegaskan realitas materialnya, tempat dimana “mesin ketidaksadaran” didefinisikan kembali.

Ketidakhadiran nalar sejalan kematian politik jika bukan sebagai kekerasan politik dari negara tatkala pada satu sisi kebebasan memilih atau berpendapat dibuka sepenuh mungkin, tetapi di sisi lain ‘tanda kesejahteraan’ atau keadilan tidak terpenuhi. Dari titik tolak inilah muncul fantasi kosong atau ilusi akan politik uang. Bentuk permainan politik berubah dari rezim pertukaran (jual beli, transaksi uang dengan suara) menjadi mekanisme ‘pembunuhan diri sendiri’ pada taraf nyata dan simbolik: “elit politik” dan “massa pemilih”, “negara” dan “rakyat”. Sejauh ini, pernyataan langsung mengenai “politik hasrat adalah kesatuan hasrat individu dan hasrat massa-rakyat untuk memilih pilihan politiknya sejauh mereka berada dalam suatu mekanisme penyaluran atau peledakan senyap”. Dari titik ini, kelangsungan permainan yang tidak remeh antara oligarki politik dan korporasi-kapitalis akan memenuhi korban dari rezim pertukaran melalui ‘politik transaksional’ yang berusaha menyamarkan politik uang muncul setelah tidak ada lagi medium, pangggung atau lobi. Selain itu, politik hasrat terseksualkan melalui tubuh sosial dengan kesenangan yang menukar dan mengganti kepuasan tidak bersifat biologis dan psikis, melainkan bersifat mekanis dalam masyarakat.

*) Penulis adalah Peneliti Institut Pemikiran Pasca-Filsafat dan Sekretaris PD Muhammadiyah Turatea Jeneponto

Facebook Comments