Home Mimbar Ide Diskursus Tentang Lahan

Diskursus Tentang Lahan

87
0
SHARE
Ermansyah R. Hindi

Oleh: Ermansyah R. Hindi*

Beberapa minggu lalu di acara Debat Kedua Calon Presiden Indonesia memberi nuansa berbeda dengan mengangkat pokok persoalan sekitar capaian program pembagian lahan di rezim pemerintahan petahana, yaitu pembagian sertifikat lahan dan masa konsesi atas pemanfaatan lahan. Rezim diskursus melebihi rezim petahana.

Permulaan-permulaan yang tertukar dan terulang dalam nuansa lain yang ditemukan dalam kata-kata, dimana kata-kata yang tidak terucap mendadak melayani berita-berita; tidak terdengar dari kejauhan padahal lebih nyaring dari pembicaraan antara dua wajah, empat wajah dan di sekitar banyaknya jumlah wajah turut menyaksikan perkembangan yang tidak linear dari lahan menohok bumi secara geometris. Kata-kata dan benda-benda yang diselipkan dirahi tidak susah payah, karena titik tolaknya diiringi dengan diskursus dan kelahirannya sudah lama diperbincangkan. “Anda mendahului perbincangan, tetapi aku yang menanggapi lain betapa serunya mengucapkan kata-kata yang memiliki celah dan rahasia, akhirnya menjadi ledakan sejenak, muncul dan menghilang kembali”. Kata-kata diselipkan dalam benda-benda yang tidak tembus pandang, tidak memiliki tabu dan larangan. Kata-kata yang “mencurigakan” muncul di balik tanda-tanda kekayaan berupa tanah. Kita membicarakan lahan berarti membicarakan kekayaan.

Sejauh yang kita ketahui, penguasaan, pembagian dan pemanfaatan lahan tidak akan dipaksakan untuk memasuki wilayah rawan perbedaan gagasan antara pihak pendukung dan penentang petahana dalam suatu masa kuasa berlangsung, kecuali bahasa yang akan dibangun dalam diskursus. Karena itu, hubungannya yang lain dengan penulisan benda-benda dalam masa pemilikan lahan, sekalipun pembagian lahan pada petani, buruh tani atau karyawan ada yang menganggap tidak memecahkan masalah pertentangan agraria. Suatu hal yang diperbincangkan, lahan tidak dianggap lagi sebagai cara pembacaan atas benda-benda melalui teks tunggal yang sangat rentang untuk disembunyikan. Saya tidak akan memiliki kecenderungan untuk melibatkan berlarut-larut dengan bahasa yang tidak ingin keluar dari kesilangbersengkarutan politik. Barangkali, dalam masa yang akan kita hadapi adalah masa depan yang jauh, seseorang akan dilahirkan melalui ucapan-ucapan, terbungkus dan terpoles secara retoris jauh meninggalkan kata-kata yang selaras antara ucapan dan tangan, langkah kakinya, mata dan penciumannya, serta lebih penting halnya antara tubuh dan kenikmatan yang dirahi tersembunyi dibalik lembah, humus, hamparan, dan benda-benda lainnya seakan-akan berbicara langsung tanpa kedok. Saya masih akan berbicara seputar benda-benda tidak terhindarkan kata-katanya menawan sudah lama ada menyelimuti dunia oleh hasrat dengan genggaman tangan yang begitu kuat, sulit dilepas. Benda-benda itu masih belum terbendakan yang dipreteli kata-katanya sendiri telah ada sebelum kelahiran kedok dari kuasa. Saya mencoba untuk menghindari ujaran atau kata-kata yang mengigau apa-apa yang ditampilkan oleh seseorang sebagai teman canda tawa dan lawan pembicaraan, melainkan apa-apa yang tersembunyi dibalik lahiriaku. Benda-benda itu membicarakanku melebihi ucapan terbuka dari orang-orang yang tidak senang untuk memasang perangkap kejahatan. Benda-benda tidak memiliki tema perbincangan istimewa karena kelahirannya sesuai dengan kata-kata yang tersembunyi dariku. Sejalan kelahiran orang-orang di tengah terik matahari dan sebagian di malam hari yang bebas dari tekanan kebenaran yang berkedok, membiarkan dirinya melayang bebas tanpa bisik-bisik ria di antara benda-benda. Kita semestinya bebas dari tekanan sejauh kata-kata itu dapat dipertanggungjawabkan di ruang terbuka. Setiap orang akan tetap bermimpi untuk menegaskan hasratnya dan tubuh-tubuhnya yang mengikutinya dalam hubungan timbal balik dengan sesuatu yang tidak terpikirkan. Anda belum berkuasa secara kelembagaan, tetapi memiliki benda-benda yang terhitung pada saat perhitungan akan dimulai dari kiri ke belakang kata-kata yang sedikit demi sedikit terucap dan terdengar serius dalam olah diskusi. Saya bergairah untuk berkuasa, karena kuasa sebagai kebenaran yang akan diuji oleh topeng, dusta atau permainan palsu yang pada saatnya akan menjadi kebenaran lain. Orang-orang mungkin mengetahui, jika anda sesungguhnya mewakili konsistensi yang ditandai kata-kata murni yang tidak terombang-ambing oleh pasang surutnya kehidupan yang terdapat ‘di dalam’ atau ‘di bawah’ tanah. Bahasa akhirnya tidak hanya mengambil bagian dalam teknik pembeberan dari teks tertulis, tetapi juga menelanjangi setiap kata yang diselipkan dalam celah dan retakan benda-benda, dan menyebarkannya ke tiap titik dan jurang di antara sesuatu yang tidak dimiliki bebatuan, dedaunan, tumbuh-tumbuhan, dan perairan. Tidak ada yang dapat dibicarakan tentang luasnya lahan jika desakan untuk mengambil kebenaran tanpa ilusi atau kedok apapun di sekitar benda-benda. Kita terlalu lambat untuk memperhitungkan keuntungan apa yang saya peroleh darinya sama dengan atau saling berganti memenuhi hasrat anda. Masyarakat kita masih memiliki satu pilihan untuk menentukan pertimbangan lain melalui logika perhitungan ekonomi diantara saya dan ada celah yang masih dikeluarkan aturan-aturan pengecualian dari anda. Larangan-larangan tentu akan menghilang di balik kata-kata murni dari regulasi yang dibuat secara kelembagaan. Tidak ada yang menjemukan jika masih bertopeng dalam perbincangan.

Baca Juga  Mesin Hasrat Dibalik Politik-Pilpres 2019

Tidak diragukan lagi, perbincangan terbuka bukanlah pusat perhatian dari aturan-aturan tanpa pengecualian mengelilingi kita adalah apa-apa yang tidak dilarang. Dalam pengetahuan, bahwa kita tidak bebas berbicara tentang hal-hal yang menjadi keresahan, kecuali apa-apa yang dikehendaki rezim kuasa seiring hasrat untuk mengetahui benda-benda melalui bahasa yang dibentuk dan dikontrolnya sendiri. Kata lain, kita akan dapat menentukan pilihan bebas pada setiap tema, pernyataan dan logika tidak menjurus pada bentuk produksi pemilikan tunggal di luar lembaga kuasa, yaitu perseorangan, korporasi atau swasta dengan kata-kata yang menjamin kita dapat berbicara apa-apa saja di bawah jaringan sensor dan kesenangannya. Hasil produksi pemilikan benda-benda berupa lahan itulah menempatkan orang untuk tidak membicarakan secara terbuka dari kesewenang-wenangan bahasa. Karena itu, kuasa adalah bahasa itu sendiri. Kita mungkin mengetahui larangan melalui buku-buku peraturan perundang-undangan, televisi, koran atau internet. Sebagaimana kita ketahui, bahwa jenis-jenis larangan meliputi: benda-benda kasat mata atau wujud lainnya yang disembunyi bersama ritual-ritual yang menopangnya. Tuntutan untuk berbicara yang sama pentingnya berbicara secara terbuka dan eksklusif dari orang-orang. Pembatasan atau larangan-larangan merupakan salah satu strategi kuasa ini saling berhubungan satu sama lain; saling menopang eksistensi dan saling membentuk jaringan ke dalam dan ke luar satu dengan lain melalui jaringan yang sangat rumit dan misterius. Tidak lebih pembentukan apa-apa yang ‘dibicarakan’ dan ‘dipikirkan’, kita menguatkan wilayah di mana jaringan kuasa atas tanah, antara petani dan korporasi tersebar dengan celah-celah bahaya yang banyak menyerang kesuburan tanah, tanpa pestisida, melainkan terampas akibat korban pemanfaatan dan keberlanjutan lahan, diproduksi dari sejengkal demi sejengkal hingga kata-kata dan benda-benda tidak mampu menahannya. Kemiripan yang cukup menjadi kemungkinan-kemungkinan munculnya bahaya konflik ganda, yaitu politik dan birahi yang represif. Pudarnya pemanfaatan dan keberlanjutan lahan secara produktif menandakan tidak ada lagi pembicaraan mengenai anugerah. Tubuh murni kita adalah cermin dari tanah. Ketidakstabilan tanah memengaruhi tubuh murni kita, dimana gizi dan vitamin dari hasil tumbuh-tumbuhan dan hewan tidak dapat menyembunyikan dirinya dari eksistensi tanah. Tanah adalah anugerah sebagaimana tubuh menampilkan hal-hal menarik perhatian. Tetapi, kakiku nampak masih tersandung tanah, dimana lahan subur dan produktif di dalamnya membangunku dari mimpi yang terberi memutus rantai pemilikan dan penguasaan. Benda-benda kasat mata tidak berasal dari penciptaan tanah, rahasia-rahasianya diganti dengan kesatuan garis dan celah memberinya jarak; menjalin hubungan dengan tanda, desahan, peran, dan rahasia yang terkandung didalamnya. Suatu pengelolaan bahan baku, tempat dimana transaksi jual beli bukanlah sistem yang rapuh; bahasa telah mengeluarkan dirinya dari titik persembunyian dan ketidaknampakan setiap teka-tekinya. Logika dan metafora yang tidak kecil dinilai lahan merupakan jalinan yang serasi dengan susunan epistemologi yang membuat tingkatan rumus dan urutan analisis menjadi bangunan pengetahuan yang kembali bersembunyi di balik bahasa dalam benda. Lahan sebagai bahasa yang tidak penting diketahui selama bahasa bukanlah apa-apa. Ia hanya satu bahasa yang masih terjalin dengan banyaknya logika. Penguasaan lahan yang menjadi mode wujud tanah teregulasi melalui ketentuan dari hak guna usaha meletakkan benda-benda terkuak nilai dan harga. Obyek-obyek hasrat menggunakan alur bahasa dan tanda-tanda kekayaan dari minyak, emas, tembaga, perak, aneka flora, dan fauna. Bicara dalam diskusi tidak mematuhi alur cerita berdasarkan indikator kemakmuran dan ucapan kegilaan orang-orang tidak memiliki secuil harta, kecuali celah tanah dari sedikit orang yang tidak ingin menjadi tuna wisma. Tuturan ada saatnya datang dari dirinya, saat lain sebagai akibat keterjalinan antara kenikmatan dan kuasa. Para peneliti, analis, pengambil kebijakan, ahli biologi, zoologi, botani, ahli pertambangan, ahli ekonomi, sejarawan, dan aktifis membicarakan mengenai lahan agar kita tidak hanya mampu berkeluh kesah atas rentetan kejadian, membuat cara penulisan benda-benda dan kata-kata tidak terbungkam dalam pembicaraan di sekitar kita. Lahan adalah penulisan benda-benda. Bahasa tentang lahan bukanlah untuk dibicarakan sesuai kata-kata yang dikendalikan oleh pihak asing. Orang-orang akan mengetahui, bahwa pemanfaatan lahan ditujukan untuk infrastruktur, perkebunan, pertambangan, kehutanan, properti, pertanian, dan pesisir-kelautan menjadi kata-kata yang hidup sebelum lahan menegaskan realitas materinya akan terjatuh dalam kekosongan. Suatu lahan yang tidak direfleksikan hanyalah produksi kekosongan. Lahan yang subur berpori dan berhumus beribu-ribu hektare luasnya akan menentang gelapnya di sisi dalam. Tetapi, tanah yang berpori bukanlah kekosongan.

*) penulis adalah Kasubbid Pengembangan Ekonomi Makro Bappeda Kabupaten Jeneponto

Facebook Comments