Home Mimbar Ide Pilihan Bebas Politik, Kegilaan dan Islam

Pilihan Bebas Politik, Kegilaan dan Islam

0
Ermansyah R. Hindi

Oleh: Ermansyah R. Hindi*

Empat-tiga hari lagi pencoblosan 17 April 2019. Saya tiba-tiba terkesima dengan perbincangan-diskusi teman-teman melalui media Whatapps Group (WAG) berlangsung pada tanggal 13 April 2019. Berikut ini, sekelumit hasil diskusi lewat Whatsapp.

Ermansyah R. Hindi. Hemat saya, dalam Islam sangat menjunjung nilai/prinsip kebebasan (apakah A, B atau C, terserahlah). Dalam Al-Quran: “Laha makatsabat walakum maktastatkum wala tusalunna amma kanu ya’malun …”. Bukankah pilihan bebas itulah yg akan dipertanggungjawab di Yaumil Hisab?

Dr. Siswanto. Pilihan bebas setelah menyampaikan yang haq dan yang bathil. Bukan bebas sepertt pemahaman kaum Liberal yang menganggap semua pilihan kualitasnya sama.

Ermansyah R. Hindi. Saya setuju dari pakar, bahwa Prabowo bukanlah tipe pemimpin umat Islam yang ideal. Daripada … daripada … lebih baik … lebih baik … Begitulah alur logikanya. Karena tidak ada yang lain.

Dr. Nuhung. Kalau berpikiran waras pilih Z, kemudian kalau berpikiran tidak waras maka pilihannya X.

Ermansyah R. Hindi. Hanya orang tidak waras/gilalah yang selamat Dr. Nuhung.

Dr. Nuhung. Untuk itu sekarang dibuka pemilih sudah masuk daftar pemilih orang gila.

Ermansyah R. Hindi. “Kegilaan mampu berpikir tentang sesuatu yang tidak terpikirkan oleh yang lain …”.

Dr. Usman Lonta. Bukan pemimpin Islam atau bukan, yang jadi soal bagi saya ada koalisi sebelah yang mengkondisikan untuk paling banyak dua pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden (Capres/Cawapres), sehingga harus dilawan calon yang mereka usung, semoga kita bisa patahkan sewenang-wenangan mereka menyusun Undang-Undang.

Dr. Siswanto Rawali. Lebih baik mendukung kebangkitan konservatisme Islam daripada mendukung kebangkitan Komunis, Syiah dan Non Muslim Radikal.

Ermansyah R. Hindi. Dapat dimaklumi hal demikian pak Dr. Usman Lonta. Cuma ada catatan:

1. Setelah (misalnya) pasangan XY terpilih menjadi Presiden/Wakil Presiden RI, kita berharap agar umat Islam Indonesia terutama Muhammadiyah tidak terjebak kembali dengan hasratnya sendiri, hasrat untuk berkuasa. Memang betul, kader persyarikatan tidak boleh buta politik, kalau perlu kita mengambil alih kuasa itu secara konstitusional. Tetapi, sekarang umat mudah tergiring dalam model pemikiran sektarian bahkan rasial (terutama lewat media sosial, bahkan apa yang diungkapkan oleh Prof. Amin Abdullah: “Kebangkitan Konservatisme Islam, …..”.

2. Meskipun kita berbeda pilihan, tidak serta merta umat Islam/Kelompok Islam mentakfiri lawan politik (tetapi saya kira bukanlah dari kader Muhammadiyah yang omong begitu), diantaranya membully, nyinyir, dan ucapan kebencian lainnya. Dalam kesejarahan, toleransi dan demokrasi telah teruji bagi dunia Islam, sehingga kita lantas mengatakan: “Jangan ajari kami toleransi”. Namun demikian, kita juga dgn mudah terfragmentasi/terpolarisasi secara politik. Itu biasalah dalam perbedaan pilihan. Saya pribadi, misalnya, Saya mendukung A tidak pernah mencemoohi secara senonoh pada B, atau sebaliknya, jika pilihanku B, saya juga tidak melontarkan kata-kata menghujat pada A. Karena kita sama-sam menghargai nilai kemanusiaan, sekalipun kita mengatakan agar kita saling mengingatkan dalam kebajikan atau kebenaran. Kita mencoba mempraktekkan suatu nilai kemajemukan dan berkeadaban di lingkungan kita masing-masing.

3. Kritik atas kritik itu penting. Pekerjaan rumah jangka panjang (long term home work) umat Islam terutama di Indonesia, diantaranya dan hal tersebut mendasar bagaimana cara membebaskan diri kita dan keluar dari bentuk-bentuk (i) Kemiskinan Sains-Teknologi/Intelektual; dan (ii) Kemiskinan ekonomi. Paling tidak kedua hal tersebut yang mendera kita. Begitulah juga dalam teori komunikasi, misalnya bahwa siapa yang menguasai teknologi informasi (IT) (penemu, produksi, distribusi, pasar) dialah yang berkuasa. Kurang lebih begitulah bunyi tesis yang masih belum terbantahkan hingga sekarang. Nah, hal tersebut membuat saya tidak mengerti selama ini.

4. Saya setuju dengan Prof. Azyumardi Azra kurang lebih pernyataannya, bahwa “tidak cukup fiqih/agama menyelesaikan persoalan negara”. Apapun dan berapapun kemampuan kita secara individual maupun sosial berbuat untuk negara, bangsa dan Islam itu tidak menjadi masalah.

5. Kita mencoba untuk menjawab bahwa musuh paling besar bagi dunia Islam bukanlah pihak luar (sang Lain), asing dan aseng. Tidak keliru Buya Syafii jika mengatakan, bahwa “… Partai Politik yang berasas Islam telah gagal mencetak Pemimpin”. Kurang lebih begitulah ungkapannya. Tetapi, kalau umat Islam tangguh, tidak reaksioner, maju, dan berkeadaban tinggi, kita yakin bahwa bangsa dan negara lain akan segan dan menghormati (sekalipun tidak gila penghormatan) umat Islam Indonesia.

Dr. Siswanto Rawali. Bagi orang beriman yang masih membaca referensi wajibnya, mereka sangat mudah mengenali siapa Komunis, Syiah, Liberal, Munafik, Kafir, Majusi, Hindu, Budha, dan lain-lain.
Nabi menjelang wafatnya berpesan: “Kutinggalkan dua perkara, jika kalian berpegang teguh padanya, maka kalian selamat, yaitu Kitabullah dan Sunnah Rasulullah. Tidak ada pesan berpegang pada buku Karl Max atau Pancasila”.

Ermansyah R. Hindi. Kalau kita mengkaji/menganalisis Dr. Siswanto sekarang ini sudah sulit membedakan yang mana Komunis, Muslim, Syiah, dan Non Muslim, yang mana kapitalis dan sosialis komunis? Contohnya:

1. Koperasi yang dikatakan sebagai soko guru ekonomi yangg sesuai dengan asas kekeluargaan Indonesia, pada kenyataannya terjadi pada “anggota memakan anggota”, saling mengeksploitasi.

2. Perusahaan besar (seperti yang bergerak di bidang pertanian, kelautan dan perikanan, perkebunan, energi dan pertambangan, properti/perumahan) yang notabene berhaluan kapitalis dituntut untuk menjalankan CSR (tanggungjawab sosial perusahaan)

3. Fakta, dalam politik praktis umat Islam (mayoritas terutama di daerah-daerah) di Indonesia tidak jarang melakukan hallala hullulu’ (menghalalkan segala macam cara untuk mencapai tujuan), memperalat orang lain demi kenikmatan politik dan hal itu berlangsung sampai sekarang. Bukankah praktik-praktik tersebut beraroma komunis.

4. Kita mengetahui bersama, bahwa Republik Rakyat Tionghoa (RRT) pasca-Perang Dingin tanpa malu-malu mencoba mempraktekkan sistem ekonomi pasar (kapitalisme/liberalisme global), sekalipun tetap mempertahankan rezim komunisnya.

4. Ideologi apapun yang dianut, dia akan direbah dan diambil alih oleh SIMULASI dan SKENARIO yang menghegemoni global (termasuk politik dengan gembongnya AS cs).

5. Dimanakah Dunia Islam (termasuk umat Indonesia) yang kaya raya akan sumberdaya alam?

6. Ditambah lagi peristiwa ironis di Timur Tengah (dunia Islam) saling cakar, dibodoh-bodohi, saling membunuh, atau ditunggangi oleh hegemoni global.

Dr. Nuhung. Astaqfirullah azhim banyak istiqfar, sudah jelas dibelakang Z, Komunis, Syiah, LGBT, Sekuler, masih tidak bisa dibedakan, maka hal seperti itu sudah buta hati, pendengaran, dan penglihatan. Wahai para penyokong di atas bertobatlah, sebelum ajal tiba!

Ermansyah R. Hindi. Menanggapi Dr. Nuhung yang mempermasalahkan hubungan Petahana, Komunis, Syiah, LGBT, Sekuler.

1. Saya melihat tidak relevan lagi dengan Z, Dr. Nuhung. Menyangkut masalah Syiah, LGBT, sekuler, dan seterusnya, sekali lagi tidak ada hubungannya, karena jauh-jauh sebelumnya secara genealogi telah ada memang sejak dahulu. Misalnya, masalah LGBT, bukankah akar-akar sejarahnya telah ada sejak Nabi Luth As dan kaumnya. Sekuler (secara harfiah, berarti dunia, saat ini, temporal, jangka pendek), selama kita masih hidup di dunia, kita tidak bisa lepas dari sekuler.

2. Umat Islam sering terkondisikan. Baik Z maupun sparing partnernya (X) dan para Timnya sama-sama memiliki kecenderungan terhadap apa yang disebut “Politik Ketakutan” (meminjam teori Slavoj Zizek), antara lain: Z takut kalah, takut dihakimi/intoleransi/negara khilafah, takut militeristik, takut teroris, takut akan kembalinya Orde Baru, takut kehilangan kesempatan kedua kalinya untuk mewujudkan impian/janji-jani politiknya, dan seterusnya. X dan Timnya takut tidak menang, takut akan PKI/komunis, takut liberalis/sekuler, takut antek asing/aseng, takut merajalelanya LGBT, takut Islam lenyap di bumi Indonesia, dan seterusnya.

Ermansyah R. Hindi. Menyangkut apa yang diungkapkan oleh Dr. Siswanto Rawali mengenai orang beriman yang masih membaca referensi wajibnya, mereka sangat mudah mengenali siapa Komunis, Syiah, Liberal, Munafik, Kafir, Majusi, Hindu, Budha, dan lain-lain serta wasiat Nabi SAW menjelang wafatnya. Saya ingin menyampaikan, bahwa:

1. Jauh dari substansi perbincangan/diskusi kita (menghilir mudik bin cicle reasoning)

2. Tidak ada hubungannya antara Pilihan Bebas/Kebebasan itu sendiri dengan Komunis, Syiah, Liberal, Munafik, dan seterusnya. Pilihan bebas ada sejak zaman batu, zaman Nabi Adam As, dari “buah khuldi” ke “buah virtual” hingga pilihan bebas tercekik antara papyrus dan cyberneticus. Pilihan bebas merupakan potensi manusia yang selalu ada dalam setiap sejarah, zaman dan masyarakat.

3. Masalah dua perkara yang ditinggalkan/diwasiatkan (Al-Qur’an-Assunnah) sepeninggal Rasul SAW pada 14 abad yang lalu bukanlah sesuatu yang taken for granted, atau sebagai tanda baca titik (.). Kita mengetahui, bahwa Al Qur’an bersifat mujmal (global), berarti kandungan (i) tidak terinci/tetet benge; (ii) tidak bertentangan/tidak bisa dilepaskan dari pengetahuan yang bersumber dari buku/karya/teori/referensi lain sekalipun dari non muslim. Karena itu, apa yang tidak dijelaskan dalam Al-Qur’an akan dan telah dijelaskan/diungkapkan melalui buku/karya/teori/referensi lainnya. Misalnya, proses pembuahan antara sperma dan ovum itu tidak dijelaskan bahwa sekitar 3 (tiga) juta sel sperma mendekati sel telur, tetapi hanya 1 (satu) sel sperma yang sampai/bertemu dgn sel telur (tanpa mendahului para Dr/Prof disini), tetapi diungkap lewat ilmu pengetahuan. Begitu pula dalam bidang astronomi, fisika, kimia, matematika, psikologi, sosiologi, dan seterusnya. Saya sependapat dengan seorang Nasr Hamid Abu Zaid, bahwa teks Al-Qur’an sesuatu yang sudah permanen, tetapi pemikiran/pemahaman yang ada didalamnya tidak pernah final seiring perjalanan waktu, dari satu zaman ke zaman lain. Itulah sebabnya munculnya para Mufassirin, Mutakallimin dan Fuqaha yang bertugas untuk memahami teks Al-Qur’an/Al-Hadits, dan seterusnya yang terikat dengan ruang dan waktu.

4. Mengapa kita dimungkinkan beritjihad dan bahkan menafsirkan dan memahami ulang terutama dari pihak otoritas keilmuan tentangnya, karena Rasul SAW menjawab setiap permasalahan yang dihadapi umat baik bidang Aqidah ibadah, hukum, sosial, politik, ekonomi, budaya, dan seterusnya dengann asbabun nuzul yang begitu dahsyat dijawab langsung oleh Rasul SAW melalui wahyu dengan perantaraan malaikat Jibril As. Jadi, setiap perkataan/ucapan, pandangan, sikap, dan tindakan Rasul SAW dalam menjawab permasalahan umat berdasarkan asbabun nuzulnya itu telah final. Tidak ada orang di yang melangkahi otoritasnya. Nah, sepeninggal beliau ada ulama pewaris Nabi yang tentu saja kaya dengan pandangan baru, penafsiran dan pemahaman ulang atas situasi dan kondisi yang berkembang mengelilingi kita. Makanya, tidak ada ulama dengan mengatakan, bahwa “pendapatku sudah final”. Umat ini perlu berada dlm perubahan terus menerus (anti jumud).

5. Tentang Karl Marx, saya juga bukan ahlu ilm tentangnya. (i) Sepanjang pembacaan saya, satu-satunya agama yang paling menghargai prinsip pilihan bebas/kebebasan/ kemerdekaan adalah ISLAM; (ii) Sejauh yang saya baca, Karl Marx tidak pernah menyerang, menghina, menjungkirbalikkan agama Islam. Ia hanya menyerang dan menghabisi tiga serangkai kuasa: (i) Kristen/agamawan/pendeta; (ii) politisi/birokrat; dan (iii) borjuis/kapitalis. Sampai sekarang saya belum memahami apa makna Karl Marx dalam karya ilmiah yang panjang dan melelahkan bahkan sangat berpengaruh dalam menggerakkan perubahan dunia, sepertiga belahan bumi, yaitu Capital (Volume 1) yg ditulis semasa hidupnya dan Volume 2 dan 3 ditulis saat anumerta. Satu-satunya pemikir/filsuf Posmo/Postrukturalis yang mampu mengkritik/mereproduksi ide, konsep/teori Karl Marx adalah Jean Baudrillard (The Mirror of Production, For a Critque of Political Economy of the Sign) juga Jean Francois Lyotard (Libidinal Economy). Baudrillard misalnya, mengkritik Marx dengan teorinya: fase masyarakat Primitif, Agraris, Feodal, dan Komunis menjadi Masyarakat Agraris, masyarakat Industrial dan Masyarakat Informasi.

6. Ingatlah Dr Siswanto, alat analisis/kritik dalam menentang Kolonialisme/Kapitalisme di bumi pertiwi seperti yang dilakukan Tan Malaka, HOS Cokroaminoto, Soekarno, Hatta, Syahrir, Haji Misbach, dan seterusnya, yakni Karl Marx-Marxisme. Belakangan terjadi sintesis dialektika dengan teori keadilan Islam (diantarnya KH Ahmad Dahlan-teologi Al-Maun di Indonesia, seperti arah dari buku Prof. Abdul Munir Mulkhan: “Marhaenisme Muhammadiyah …”, dan seterusnya). Saya melihat kencenderungan akan kesana sebagai “pengulangan”.

7. Umat Islam perlu menggunakan “Teologi Materialis” atau “Islam Materialis” tanpa menelan mentah-mentah teori Dialektika Materialisme-Karl Marx. Maksudnya, begini. Cobalah kita bayangkan seandainya Wahyu hanya sebatas Wahyu yang diterima oleh Rasul SAW melalui perantaraan malaikat Jibril As yang selanjutnya tidak mengalami pemadatan atau dimaterialisasi hingga dalam bentuk Mushaf Al-Quran tentulah kita sangat kesulitan untuk membaca, memahami bahkan mengamalkannya. Mungkin lewat teks tertulis, umat Islam hidup dalam materialitas. Karena itu, peradaban mula-mula muncul lewat teks tertulis/simbol-simbol.

8. Salah satu faktor yang menghambat pemikiran umat Islam ke arah kebangkitan Islam dari tidurnya yg panjang adalah mengidap Xenophobia, takut dituduh murtad bahkan kafir.

Dr. Siswanto. Terima kasih penjelasannya yang panjang lebar Ermansyah R. Hindi. Saya hanya ingin menanggapi point 6. Menurut saya itu kesimpulan yang bersumber dari fanatisme eksxtrim terhadap Marxisme. Menurut saya, perlawanan terhadap penjajahan di nusantara bersumber dari spirit Islam, yaitu Jihad fii Sabilillah. Itulah yang paling ditakuti Penjajah. Para pengusung Marxisme seperti Tan Malaka atau Nasionalis seperti Bung Karno hanya mendompleng dan memanfaatkan ruhul Jihad Ummat Islam.

Ermansyah R. Hindi. Saya bukanlah seorang Marxis apalagi fanatisme ekstrim, bukan mentaklidbutai model pemikiran lainnya atau saya bukan siapa-siapa. Saya mencoba untuk melampauinya (beyond of beyond).

1. Jihad sekedar semangat. Maksud saya, buktinya apa. Analisis/ kritik ideologi terhadap kolonialisme/ imperialisme asing tidak datang dari kitab-kitan gundul apalagi wejangan para Kiyai pada zaman itu. Cobalah kita baca ulang baca buku Sosialisme Islam-HOS Cokroaminoto, Menuju Republik Indonesia-Tan Malaka, Di Bawah Bendera Revolusi, Indonesia Menggugat-Soekarno, Demokrasi Kita-Mohammad Hatta, termasuk Haji Misbach (orang Muhammadiyah yang berpindah ke gerakan Kiri), semuanya menggunakan analisis ideologi Sosialisme/Marxisme untuk melawan ideologi kapitalisme/kolonialisme. Kata lain, karya buku atau teori sosialisme atau ideologi Islam atas penjajahan belum ada waktu itu.

2. Tan Malaka dan Soekarno adalah anak-anak Revolusioner di zamannya. Akan ketahuanlah, bahwa jika dahulu mencari tokoh/pemimpin (apalagi level nasional) tidak muncul dengan sendirinya. Kini, apa yang disebut merit system betul-betul ada. Tan Malaka dan Soekarno adalah tokoh yang pernah dilahirkan nusantara ini tanpa pamrih. Beliau tidak bercita-cita apalagi bermimpi pun tidak pernah menjadi Presiden RI. Ternasuk mendompleng perjuangan umat Islam. Kita boleh bertanya pada ahli sejarah. Jangan lupa teori sejarah, apakah sejarah atau manusia yang mencipatakan sejarah (tidak jadi masalah). Karena pada zaman itu belum ada alat analisis/kritik secara tertulis yang terurai secara gamblang, kecuali Karl Marx-Marxisme dan karya-karya sosialis Marxis lainnya.

3. Intinya, alat analisis/kritik untuk melawan bangsa kolonial/kapitalis yang menyengsarakan rakyat pada waktu itu tidak ditemukan dalam kitab/karya para pejuang/tokoh Islam. Dalam pembacaan atas analisis teks Karl Marx-Marxisme ternyata oleh tokoh yang disebutkan di atas menemukan konsep pergerakan tentang taktik, strategi, dan seterusnya dalam melawan bangsa penjajah.

*) Penulis adalah ASN Bappeda Kabupaten Jeneponto

Facebook Comments