Home Literasi Tidak Punya Waktu (?)

Tidak Punya Waktu (?)

0
Fitri De Coresa

Oleh: Fitri De Coresa (Fitriani)*

Mesin membutuhkan jeda untuk bisa bekerja maksimal dalam waktu tertentu, namun, tidak dengan waktu. Prinsip waktu adalah statis dan berjalan terus-menerus. Kita tidak dapat menambah kuota waktu 24 jam perhari dan tidak juga dapat menghentikan atau memutar balik. Ia bisa maksimal jika digunakan dengan maksimal dan berlalu begitu saja tanpa makna “nonsense” jika tidak digunakan dengan maksimal.

“Saya tidak punya waktu”

Pernyataan tersebut sering kali dilontarkan oleh banyak orang.

Jika dikaji lebih dalam, sebenarnya setiap orang mempunyai waktu yang sama setiap harinya, bahkan orang-orang yang sukses dan super sibuk di luar sana dengan segudang aktivitas pun memiliki waktu yang sama. Pendakwah contohnya, mereka mengurus keluarga, pekerjaan, agenda rutin, menghadiri undangan, mengurus dan memikirkan orang lain (umat), dan masih banyak lagi. Tapi, mereka tetap bisa melaksanakan semua tugas itu, padahal tidak ada bonus (tambahan) waktu. Sama saja. Lantas apa yang membuat pernyataan ‘tidak punya waktu’ sering sekali dilontarkan oleh banyak orang?

Melalui tulisan ini, akan diuraikan dua poin (menurut pendapat pribadi) tentunya menjadi bahan intropeksi bagi penulis dan siapapun yang mau menjadikan tulisan ini sebagai referensi yang bermanfaat:

1. Skala Prioritas

Semua orang memiliki lebih dari satu amanah dan tanggung jawab yang akan memengaruhi jumlah aktivitas dalam per harinya. Selain itu, yang hendaknya tidak terlupakan adalah target (goals), jangka panjang dan jangka pendek. Yah, target adalah tujuan. Ibarat peta, jika tidak jelas arah dan tujuan aktivitas yang dilakukan, maka tidak ada alat mengukur sampai di mana pencapaian kita setiap waktunya. Satu hal yang membedakan para pemimpi dengan yang lain, yaitu pemimpi selalu memiliki target untuk dicapai, sehingga tidak ada kata berhenti untuk berusaha.

Tentang amanah dan tanggung jawab, terkadang masih ada yang terkendala dalam mengatur skala prioritas. Benar bahwa setiap orang memiliki kebutuhan dan pandangan yang berbeda-beda, namun, sebaik-baik prioritas adalah yang dapat memberikan manfaat bagi diri sendiri dan orang lain, bukan hanya mengutungkan diri sendiri.

Ada yang terkendala mengatur waktu untuk menyelesaikan aktivitas-aktivitasnya, karena masih bermasalah dalam pengaturan skala prioritas, sehingga merasa bingung untuk memilih mana yang harus di dahululan dan mana yang bisa dikerjakan dalam waktu yang lain.

Salah satu masalah yang sering terjadi adalah aktivitas (agenda) bersamaan. Langkah yang dipilih penulis, mengecek kembali aktivitas itu berada di skala prioritas ke berapa dan seberapa berpengaruh kehadiran atau keterlibatannya dalam aktivitas tersebut. Dan yang penting di jawab sebelum memilih, “mana yang lebih bermanfaat?”

2. Produktivitas

Di awal tulisan ini sudah di sampaikan bahwa prinsip waktu adalah ‘Statis’ dan ‘Berjalan Terus’.
Kembali lagi perlu diingat bahwa tidak ada manusia yang dapat mengubah kuota waktu dalam perhari (24 jam) dan tidak ada pula yang bisa memainkan tombol ‘pause’ kemudian ‘play’ terhadap waktu, karena ia akan berlalu dan akhirnya kelak akan tiba masa semua penggunaan waktu kita akan dipertanggung jawabkan di hadapan pencipta. Apa yang telah kita lakukan dan untuk apa waktu kita digunakan?
Itulah sifat waktu.
Lantas, apa yang bisa kita lakukan?
Rumusnya adalah,
24 jam (tetap) + kualitas penggunaan dan pengguna ditingkatkan = HASIL
Yah, rumus tersebut dicerminkan melalui kata “PRODUKTIF”. Menurut hemat penulis, produktif adalah kemampuan menyelesaikan hal tertentu dengan waktu yang maksimal.
Dalam waktu yang sama, 24 jam, ada orang yang hanya bisa menyelesaikan satu amanah per hari, ada yang tidak bisa menyelesaikan satupun amanah, tapi justru ada yang bisa menyelesaikan begitu banyak hal bermanfaat setiap hari di tempat yang berbeda dan dengan dimensi kerja yang berbeda.

Apa yang membedakan?

Pembedanya adalah menejemen waktu dan kemampuan untuk mengeliminasi aktivitas-aktivitas yang tidak mempunyai tujuan jelas dan tidak bermanfaat.

Produktivitas terkait dengan poin pertama, skala prioritas.

Ketika skala prioritas jelas, maka kita akan lebih mudah menentukan aktivitas apa saja yang perlu dilakukan setiap harinya.

Ada sebagian orang yang membuat list aktivitas per hari, dari bangun tidur sampai tidur kembali.

Cth.:
05.00 bangun
05.00-05.30 sholat dan tilawah
05.30-06.00 membaca buku
dst.
Itu salah satu strategi manajemen waktu, namun, setiap orang mempunyai cara. Silahkan pilih cara terbaik menurut versi masing-masing.
Dua poin di atas merupakan satu kesatuan yang saling berpengaruh.
Persoalan waktu, saya teringat dengan sebuah pernyataan,
“Masa lalu adalah kenangan, masa sekarang adalah milik kita, dan masa yang akan datang adalah milik pencipta.”

Jadi, terkait waktu, biarkan waktu-waktu yang berlalu menjadi bahan perbaikan diri, masa sekarang menjadi kesempatan emas untuk melakukan sebaik-baik amal, dan masa depan tetap berada di bawah ketentuan Maha Pencipta, Allah swt.
Apapun harapan kita di masa depan, yang bisa kita lakukan adalah berusaha dan berdoa lalu menyandarkannya sepenuhnya kepada Allah swt.
_
Jadikan kuota waktu sebagai kuota beribada kepada Allah. Apapun aktivitasnya, semua ditujukan sebagai bentuk menghambaan kita kepada-Nya, tidak ada yang lain.
Jika kuota waktu kita di dunia telah habis, maka habis pula kesempatan kita untuk mengumpulkan bekal menuju kehidupan yang sebenarnya. Tugas setelahnya adalah mempertanggung jawabkan apa yang telah dikerjakan.

___(Al-Baqarah):281 – Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian masing-masing diri diberi balasan yang sempurna terhadap apa yang telah dikerjakannya, sedang mereka sedikitpun tidak dianiaya (dirugikan).
_
Demikian tulisan ini dibuat sebagai bahan refleksi, khususnya bagi penulis sendiri. Dan semoga tulisan ini bermanfaat bagi kita semua.
Aamiin.

*) Penulis adalah alumni Universitas Hasanuddin

Facebook Comments