Home Mimbar Ide Buruh dan Darah-Uang

Buruh dan Darah-Uang

0
Ermansyah R. Hindi

(Refleksi Hari Buruh Internasional)

Oleh: Ermansyah R. Hindi*

Menurut teori, bahwa buruh atau tenaga kerja merupakan salah satu faktor produksi. Sejak sistem pengetahuan mengenai relasi antara produksi ekonomi dan buruh mendapat perhatian yang cukup serius, terutama analisis dari para kritikus kapitalisme neoliberal yang memandang buruh dikuasai secara penuh oleh modal. Kini, buruh menjadi “agen ritualitas” dalam produksi yang mendorong pertumbuhan ekonomi (kecenderungan kuat di Indonesia sebagai bagian dari negara-negara berkembang). Pada satu pihak, orang-orang memahami buruh hanyalah sebagai bagian dari proses kegiatan ekonomi. Di pihak lain berpandangan, kapitalisme dibentuk berdasarkan tenaga kerja-modal. Ada suatu hal yang sulit dihindarkan dalam masyarakat industri adalah pembagian kerja dan spesialisasi atas fungsi menuntut tenaga kerja untuk mengorganisasikan dirinya dengan menggunakan jaringan sumberdaya yang tersedia secara efektif. Setelah menerobos nilai surplus buruh dan nilai dalam proses, modal menjadi bertukar dan berubah tatkala uang memperanakkan uang.

Begitu pentingnya buruh dan peran-perannya dalam pembangunan. Buruhlah yang berkonstribusi besar dalam pembangunan kota dan desa. Kadangkala, kaum buruh tidak sanggup dinilai dengan uang, berapapun banyaknya, karena mereka tidak menuntut apa-apa kecuali nilai-nilai kemanusiaan dijunjung tinggi harkat martabatnya. Mereka juga berhasrat untuk hidup layak di tengah-tengah kehidupan yang sama cita-citanya, sekalipun jalan yang berbeda dan masih menjadi korban dari produksi.

Berdasarkan pengetahuan mutakhir, dalam perjalanan yang panjang sebagai sebuah sistem (tanda, kode), kapitalisme bersumber dari energinya sendiri, bukan pada kekuatan buruh. Pada dasarnya, buruh lebih sering memperhatikan hak-hak normatifnya sejenis upah yang layak baginya, dibandingkan penyesuaian mekanisme pasar berdasarkan upah yang sangat besar dan fleksibilitas harga memungkinkan dan berkelanjutan demi alasan ekonomi dan politik. Sementara, pasar barang dan tenaga kerja sungguh-sungguh dituntut berdaya saing, sehingga kegiatan ekonomi diharapkan berjalan secara fleksibel. Di saat penawaran menyerbu dan pengangguran membengkak, harga dan upah turut jatuh. Tidak sulit bagi kita untuk mengatakan, produksi memerlukan pemasaran dan karena itu juga memerlukan daya beli melalui uang.

Uang, seperti sering dipahami dalam pemikiran Klasik, kenyataannya tidak dapat merepresentasikan kekayaan berupa uang tanpa kuasa yang telah dimodifikasi. Berdasarkan waktu, apakah sarana argumen yang spontan setelah mengalami keruntuhan pertamanya, kemampuannya untuk merepresentasikan kekayaan? Atau apakah kebijakan pemerintah, berkat langkah-langkah yang nyata tetap menjaga representatifitas uang bersifat konstan? Kekayaan dari uang yang merepresentasikan atau tidak dirinya ditata ulang dalam kerangka epistemik Adam Smith menganalisis pembagian kerja, asal-usul dan kegunaan uang dalam The Wealth of Nation, Volume I (1960: 19-25) yang ditakdirkan untuk tidak membungkam jaringan modal sekaligus jaringan sirkulasi. Uang sebagai nilai tiba-tiba menghilang dalam substansi dirinya yang tidak bebas yang diberkahi dengan gerakannnya sendiri. Tidak dapat dipungkiri, bahwa fungsi waktu dalam kekayaan lainnya seharusnya sejalan dengan uang yang dibatasi (seperti yang terjadi pada akhir abad ke-17) sebagai sebuah perjanjian dan terasimilasikan dalam piutang yang imanen: “membayangi kredit bank lalu menjadi penting durasi piutang, kecepatan dengan mana pembayaran kembali akan dilakukan dari sejumlah tangan, dimana ia akan berputar dalam waktu-waktu tertentu seharusnya menjadi variabel karakteristik kekuatan representatifnya”. Pada suatu kasus tertentu, terdapat buruh terpaksa mengambil uang kredit, disaat ada perusahaan dimana mereka bekerja telah memerosotkan permintaan dan menurunkan produksinya. Namun demikian, semuanya itu termasuk buruh menghadapi konsekuensi sebagai bentuk refleksi yang menempatkan tanda-tanda moneter, dalam hubungannya dengan kekayaan, dalam satu representasi uang dalam pengertiannya dengan kekayaan yang dapat diukur melalui tenaga kerja.

Pergerakan nilai uang yang menghilang dalam substansinya sendiri, dimana uang dan komoditas tidak lagi diasumsikan dan dilepas secara bersamaan. Lebih dari itu, alih-alih sekadar merepresentasikan relasi komoditas yang tidak memasuki dunia yang lain, kecuali dunia buruh. Pertukaran uang dan komoditas muncul dan lenyap dalam relasinya sendiri. Keduanya membedakan dirinya sebagai nilai asli dari dirinya sendiri untuk mencoba keluar nilai-lebih buruh. Nilai uang yang mengalir keluar tidak asli dan berberkah membuat buruh sebagai ayah bagi keluarganya akan membebaskan dirinya dari perangkap nilai lebih dari US 300 Dolar. Selain itu, mandulnya uang, akhirnya ia tidak mampu berputar secara merata dalam kehidupan buruh.

Dalam pemikiran Modern, kita akan mempelajari kembali konsep tentang uang. Kita menemukan, sekali lagi mencium aroma metafora lama tentang uang logam, selanjutnya uang kertas, bahwa “uang merupakan darah” (blood-money) bagi “tubuh” yang bernama “masyarakat”, dimana buruh diletakkan pada garis kedua bahkan bagian paling bawah dari sebuah piramida masyarakat modern. Pertukaran dan metamorfosis dalam masyarakat maju dapat menandakan uang. “Tubuh modal-uang” yang ditanam tidak bisa dipisahkan dengan “tubuh sosial”. Arus produksi, distribusi atau sirkulasi uang kemana-mana seperti “darah” dengan segala pertumbuhan dan pengurangannya. Di bawah rezim diskursus kapitalisme global, dimana modal menjadi “tubuh tanpa organ” dari kaum kapitalis (Gilles Deleuze dan Felix Guattari, 1983:10). Sebagian pandangan dari ahli mengatakan, bahwa mata uang tidak memiliki peran yang lain lagi selain menghidupi bagian-bagian yang beragam dari negara (mesin uang terjalin antara mesin produksi ekonomi-tenaga kerja dan mesin negara). Relasi antara produksi mesin uang, mesin ekonomi dan mesin negara bertugas bagaimana proses distribusi atau sirkulasi uang dapat mengalir hingga ke tubuh buruh. Buruh justeru dikuras, dikendalikan dan diprogram oleh mesin negara bersama mesin kapitalis yang berlindung di balik rasionalitas pasar dengan cara merahi laba setinggi-tinggi berdasarkan ukuran modal-uang disertai biaya serendah-rendahnya. Kita masih menyaksikan pertukaran yang tidak seimbang, yaitu nilai surplus dibentuk oleh tenaga kerja, tetapi pencapaian laba mengalir ke perusahaan. Darah bernama uang tersebut boleh jadi akan mengalami proses penyumbatan hingga ke “leher” kaum buruh, kecuali pengusaha menjadi bagian dari masyarakat secara utuh sebagaimana kata-kata saling mendukung dengan kata-kata lainnya dan sumbu-sumbu saling menjalin dengan sumbu-sumbu baru. Pertukaran yang terbuka dan heterogen yang ditopang dengan proses produksi barang maupun jasa dan sirkulasi uang secara kreatif dan cair akan kembali “mengalir” dalam masyarakat. Upah buruh sebagaimana telah diutarakan sebelumnya sebagai nilai tanda dari darah-uang.

Secara khusus, buruh yang bergumul dalam sektor industri dan sektor modern lainnya berbeda dengan masalah yang dihadapi oleh buruh di sektor pertanian dengan nilai tukar dalam bentuk uang dan barang hasil produksi yang selalu menurun, jika dibandingkan dengan nilai sektor lainnya. Suatu hal menarik, buruh yang memproduksi barang, mereka pula akan membelinya dengan satu syarat produksi barang mengalami peningkatan. Tidak berarti buruh dianggap makhluk membeku secara esensial di saat kekuatan uang mampu mencairkan sesuatu yang membeku. Memang, uang dengan esensinya sendiri dan manusia-buruh dengan esensinya sendiri. Sudah bukan rahasia, negara-negara berkembang dengan masalah pertumbuhan semakin lambat. Ditambah lagi, rendahnya kualitas produk dan lambatnya pengiriman produk pada konsumen telah menjadi penyebab sektor pertanian menjadi sektor yang akan dimulai ditinggalkan banyak orang akibat dari rendahnya nilai tukar sekaligus nilai tambah. Taruhlah sebagai contoh lebih sederhana dari buruh dalam kehidupan di sektor pertanian terjadi proses produksi dan pertukaran. Sebagai akibat dari produksi padi mengalami peningkatan, buruh tani cenderung memiliki daya beli yang lebih besar. Apa yang mendorong buruh tani diantaranya membelanjakan untuk membeli traktor tangan. Dari dampak lanjut tersebut, berarti terdapat peningkatan permintaan terhadap traktor tangan. Industri yang memproduksi traktor tangan tersebut mengalami peningkatan omzet. Sebagai akibat berikutnya, gaji tenaga kerja pada pabrik industri traktor tangan dinaikkan. Karena gaji dinaikkan, maka para karyawan industri tersebut akan memilih keinginan membelanjakan untuk berbagai barang, misalnya alat tulis dan pakaian sekolah anak-anaknya. Akibatnya, kalangan pabrik industri pulpen, buku dan/atau tekstil cenderung mengalami peningkatan permintaan dan menaikkan produksinya. Begitulah selanjutnya yang dirangkum secara keseluruhan menunjukkan perekonomian mengalami pertumbuhan dan disanapun tanda darah-uang “mengalir” dalam masyarakat. Darah-uang mengalir tanpa batas, sehingga alirannyapun melampaui esensi materi yang dimiliki.

Saat ini, uang dan kekayaan termasuk dalam tanda pertukaran dan wilayah sirkulasi, moneterisme dapat menyesuaikan analisisnya dalam istilah yang belakangan disediakan oleh para ekonom mumpuni. Tetapi, dalam persfektif Foucaldian, pada seluruh peristiwa terutama transaksi keuangan secara resmi hanyalah kewenangan negara saja yang dapat memberikan padanya mata uang dan mendistribusikan kembali diantara orang-orang secara pribadi ataupun kolektif seperti buruh (dalam bentuk gaji, pensiun atau renumerasi bagi ketetapan dibuat oleh negara). Uang akan merangsang perjalanan terpenting, penukaran kekayaan, jasa, perdagangan, industri, dan pertanian menjadi lapangan usaha bagi tenaga kerja untuk meningkatkan produksi sektor tersebut. Singkat kata, setelah produksi, sirkulasi atau distribusi menjadi salah satu kategori analisis yang mendasar dalam relasi antara buruh secara khusus dan masyarakat secara umum dan modal-uang. Uang hanyalah tanda dari kekayaan atau kemakmuran atau uang bukan tanda, melainkan ukuran umum dari barang dagangan dan jasa. Kita akan mengatakan uang adalah suatu kesepakatan, tidak lebih dari persetujuan umum yang diterima, karena itulah ia suatu fiksi murni. Mungkin, uang dengan sirkulasi darinya tidak sebesar produksi hasrat; produksi ekonomi bersama produksi sosial. Hasrat buruh untuk uang demi kehidupannya.

*) ASN Bappeda Kabupaten Jeneponto

Facebook Comments