Home Literasi Bersyukurlah Anda yang Memiliki Kesempatan Mengenyam Pendidikan

Bersyukurlah Anda yang Memiliki Kesempatan Mengenyam Pendidikan

0

Oleh            : Fika Magfira Polamolo
Jurusan.     : Pendidikan Agama Islam (PAI)
Fakultas     : Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
Universitas : IAIN Sultan Amai Gorontalo

Pendidikan sejatinya sangat dibutuhkan oleh manusia. Baik pendidikan informal, formal maupun nonformal yang merupakan proses yang tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan dengan tujuan untuk menjadikan sosok manusia yang bermanfaat.

Begitu pula dinegara Indonesia, pendidikan adalah hal terpenting dalam menciptakan sumber daya manusia yang canggih sesuai dengan zamannya namun tetap mempertahankan nilai-nilai kebangsaan Indonesia itu sendiri. Seperti pada lirik lagu kebangsaan Indonesia Raya, “bangunlah jiwanya, bangunlah badannya.” Pesan yang perlu kita maknai dari lirik sederhana ini begitu dalam karena membangun jiwa yaitu jiwa rakyat Indonesia yang cerdas, beretika serta memiliki jiwa nasionalis dan patriotis tentunya melalui proses pendidikan. Setelah itu barulah kita akan mampu membangun “badan” berupa karya yang diciptakan dari kekuatan jiwa yang telah kokoh sebagai bentuk harapan dan pencapaian dari tujuan pendidikan itu sendiri.
Pendidikan di Indonesia telah melewati sejarah yang panjang hingga sampai pada saat ini. Sebelum adanya pendidikan formal, masyarakat Nusantara mengenyam pendidikan informal dan nonformal atau pendidikan keluarga dan masyarakat yang kemudian berkembang menjadi pendidikan Agama. Hingga pada pidato pertamanya tahun 1901 saat Ratu Wilhelmina berusia 21 tahun membuat kebijakan yang diterapkan saat itu yang dikenal dengan istilah Politik Etis atau Politik Balas Budi yang berisi tentang Irigasi, Imigrasi dan Edukasi. Edukasi atau pendidikan sebagai usaha memperluas bidang ilmu pengetahuan dan pengajaran masyarakat Nusantara. Dari sinilah terlahir tokoh-tokoh pendidikan seperti HOS.Tjokroaminoto, Tan Malaka, RA. Kartini sampai Soekarno dan Hatta. Hingga kita kenal Bapak Pendidikan Nasional yaitu Ki Hadjar Dewantara yang merupakan pemikir besar pendidikan Indonesia yang terkenal dengan semboyannya Tut Wuri Handayani. Beliau merupakan salah satu tokoh yang membuat gempar pada zaman kolonial dengan tulisan yang begitu keras mengkritik pemerintah kolonial. Semangat perjuangan Ki Hadjar Dewantara sangat kuat dalam bidang pendidikan perlu dilahirkan dalam jiwa-jiwa rakyat masa kini. Ia menyebutkan bahwa mendidik anak adalah mendidik rakyat. Namun sayang, semangat perjuangan dalam pendidikan Ki Hadjar Dewantara kini hanyalah sebuah pembahasan yang habis pada diskusi dan seminar-seminar sebagai momentum belaka tanpa ada penghayatan secara mendalam tentang pendidikan itu sendiri.

Realita yang terjadi kini semakin terlihat degradasi moral dan makna serta pencapaian yang kontras dari pendidikan itu sendiri. Masing-masing proses pendidikan memiliki tantangan yang tidak mudah.
Dalam proses pendidikan informal, tentu peran orang tua harus maksimal. Karena orang pertama yang mendidik seorang anak adalah kedua orang tuanya. Lalu bagaimana dengan anak yang hidup dan tumbuh ditengah keluarga yang berantakan atau yang sering disebut”Broken Home”?
Broken Home adalah problem yang sangat serius dalam proses pertumbuhan seorang anak. Tak bisa dipungkiri bahwa tidak sedikit anak yang menjadi korban dari kasus ini mengalami gangguan psikis. Bagaimana seorang anak yang butuh belajar tentang interaksi yang baik dilingkungan sosialnya namun mendapati bahwa interaksi dalam keluarganya amat buruk? Bagaimana seorang anak yang butuh belajar tentang kasih sayang dan berbagi dengan orang lain namun setiap hari ia tidak pernah melihat cerminan kasih sayang pada kedua orang tuanya? Bagaimana seorang anak mampu belajar tentang menjaga sesuatu yang sangat berharga namun dalam kehidupan sehari-hari ia hanya melihat kebencian dalam keluarganya?
Dalam keadaan ini seorang anak dipaksa untuk membenci dan memilih salah satu diantara keduanya yang merupakan hal yang mustahil dalam memutuskannya. Seorang anak dalam kondisi ini sangat frustasi. Pada satu sisi, ia ingin semuanya baik-baik saja. Namun realita yang terjadi hanyalah kesenjangan diantara keduanya. Saling tumpang-tindih antara satu dan yang lainnya.
Mungkin ada asumsi bahwa ia bisa mengambil hikmah yang tersirat dalam kehidupan keluarganya yaitu sebagai bentuk pendewasaan. Namun yang perlu digaris bawahi bahwa seseorang yang belajar membutuhkan pembimbingan. Dan seorang pemimbing dalam keluarganya adalah orang tuanya sendiri. Lalu bagaimana cara orang tua manjadi pembimbing dalam keadaan yang seperti ini?
Dari sinilah penyebab proses pendidikan berjalan pincang karena dasar atau tumpuannya tidak kokoh. Sangat disayangkan memang ketika berada disituasi yang mengerikan ini. Orang tua tidak mampu membimbing seorang anak dalam mengarungi dunia kecil yang sederhana sehingga kualahan dalam melangkah dan menjelajahi kehidupan yang sejati diluar sana.
Sebagai orang tua yang cerdas, seharusnya kita mampu menjadi pembimbing yang baik dalam keidupan seorang anak. Permasalahan keluarga pasti selalu hadir, namun kita tidak bisa melupakan tugas dan tanggung jawab sebagai orang tua yang wajib senantiasa membimbing dan memberikan yang terbaik untuk kelangsungan hidup secara jasmani maupun rohani. Karena anak adalah cerminan dari kedua orang tuanya.

Facebook Comments