Home Mimbar Ide Skenario Demonstrasi

Skenario Demonstrasi

0
Massa aksi protes pemilu curang di Jakarta

Oleh : Wahyudi Akmaliah*

Yang paling berbahaya di era pasca kebenaran saat ini adalah upaya pemelintiran fakta. Proses ini tidak hanya mudah, melainkan juga menyulut emosi orang untuk terbakar amarah. Dengan platform terbuka, Twitter, Facebook, dan Instagram, sangat memudahkan pihak aparat untuk memutus mata rantai pelintiran tersebut.

Yang berbahaya justru adalah WhatsApp group. Ini karena, media sosial semacam ini semi privat, di mana hanya orang-orang tertentu saja yang bisa menyimak percakapan. Medium inilah yang sangat mungkin untuk menerima hoaks. Dengan adanya informasi hoaks yang berlimpah lambat laun orang akan menerimanya sebagai kebenaran.

Demonstrasi yang berlangsung sejak kemarin memiliki potensi tersebut. Apalagi muncul isu masjid di sekitar tanah abang ditembaki peluru oleh aparat. Hoaks semacam ini akan menemukan pembenarannya dari sejumlah hoaks yang sudah dibangun, di mana Jokowi sebagai anti-Islam. Reproduksi dan proses sirkulasi ini yang terus dihembuskan dalam platform media sosial. Tujuannya jelas; membangun chaos sehingga terpilihnya Jokowi-Ma’ruf Amin dianggap tidak sah.

Ketika kekacauan terjadi, dalih yang dibangun ada dua; 1) karena Jokowi terpilih maka kerusuhan terjadi, karena itu (2) dibutuhkan sosok pemimpin yang tegas. Sikap ketegasan inilah yang seolah dianggap tidak ada dalam diri Jokowi, hanya karena ia berbadan kurus dan berasal dari masyarakat sipil.

Di sisi lain, elit politik yang menggerakkan demonstrasi tersebut sekedar memantau dari kejauhan, berharap skenario yang dijalankan akan tercapai. Sementara itu pion-pion demonstran, menjalankan aksi-aksinya sesuai dengan skenario yang diinginkan. Dalam ruang publik, ini kemudian dianggap sebagai suara rakyat.

Meskipun demikian, petinggi politik dari dua kubu itu sebenarnya tahu siapa yang menggerakkan. Selain mengungkapkan kekecewaan karena kalah, demonstrasi itu dilakukan sebagai momentum demokrasi. Sayangnya, saat tidak bisa membuktikan sejumlah kecurangan yang dituduhkan, politik kotor semacam ini menjadi preseden buruk yang terus bisa bertahan.

Bagi anda yang tidak setuju ekspresi pola ini harus mendokumentasikan dalam ingatan bahwasanya orang-orang yang bikin rusuh dan sejumlah elit politik di belakangnya, jangan diberikan tempat dalam konteks Pilkada dan Pilpres. Mereka biang provokator yang sekedar mementingkan kekuasaan, yang bisa dilakukan dengan cara apapun. Mereka juga tidak peduli ini bulan suci Ramadhan.

*) Penulis adalah peneliti LIPI

Facebook Comments