Home Fajlurrahman Jurdi Menanti Sahur Bersama Orwell

Menanti Sahur Bersama Orwell

0
Fajlurrahman Jurdi

Oleh : Fajlurrahman Jurdi*

Semua mengalir bagai air, kekerasan, kehilangan, kematian dan kadang-kadang kekuasaan. Semuanya silih berganti, yang satu hanyut, yang lain datang lagi. Hidup adalah perputaran yang selalu berjalan, tak pernah ada yang abadi, kecuali Tuhan yang Maha Hidup.

Beberapa hari lalu saya beli Novelnya Orwell yang menyoal kolonialisme Inggris di Burma. setelah sebelumnya, saya membaca karya pentingnya, 1984, karya yang menakjubkan. Sederhananya, sebenarnya cerita Orwell ini semacam energi fasis yang luar biasa. Ia menguraikan cara kerja fasisme yang cukup mengerikan dalam masyarakat Eropa. Saya suka karya-karya Orwell karena menentang “perbudakan”, “kolonialisme”, dan “fasisme”.

Tentu saja sambil membaca, saya mendengar sayup dan jejak keluh kesah beberapa orang diberbagai tempat. Saya mendengar cerita mengerikan dari Kaltim, soal lubang tambang yang mematikan puluhan orang. Mengenai hal ini, salah satu kolega kami, Castro (Herdiyansyah, dosen Universitas Mulawarman), melihatnya sebagai lubang kematian yang mengerikan. Kematian yang tak henti, dan tanda-tanda rasa peduli dari kekuasaan yang kian hanyut tersapu banjir arogansi.

Di situasi yang lain, pemilu sebagai pesta demokrasi, mengantar kematian ratusan orang dan meninggalkan jejak kesakitan, yang tidak hanya dialami oleh tubuh fisik, tetapi juga derita jiwa. Mereka yang terkapar dalam altar kekalahan yang panjang, menderita luka jiwa yang hanya bisa diobati oleh waktu. Sementara mereka yang menang, menari-nari dalam rasa takjub terhadap dirinya, karena ia akan menggenggam bongkah kekuasaan dalam kurun waktu lima tahun.

Jejak lain adalah pedihnya luka kematian karena “pembunuhan” atas demonstran di Jakarta tanggal 21-22 Mei 2019 yang lalu. Atas alasan apapun, membunuh warga Negara karena berbeda pilihan dan diksi argumen dalam memandang hasil Pemilu tidak dibenarkan. Demonstrasi pada skala tertentu dapat dibenarkan, dan membunuh mereka dengan alasan “pengacau” adalah tindakan anti demokrasi. Tapi bagi saya yang mulai permisif, kadang melihatnya dengan sederhana, bahwa karma itu akan kembali suatu ketika. Kekuasaan yang naik dengan cara culas, akan berakhir dengan cara yang tak wajar.

Orwell mengajarkan pada saya satu hal, yakni kemampuan menguliti fasisme hingga ke akarnya yang terdalam. Dan salah satu ciri yang paling menonjol dari fasisme adalah mengontrol pikiran, memeriksa argumen, dan mengadili narasi yang berbeda. Pada konteks ini, kita mungkin tidak sedang menuju kesana, karena demokrasi masih sedikit dihargai, kebebasan masih tumbuh, meskipun pada skala tertentu kita harus hati-hati. Suara-suara yang berbeda mulai terpenjara, dan mereka yang voicenya mendukung narasi kekuasaan, bebas berkeliaran tanpa perlu rasa takut.

Meratapi geraknya waktu, kita harus terus saling menggenggam tangan, agar bisa bertahan, dan saling memberi catatan tentang Indonesia kita. Bahwa mungkin kita kelihatan baik-baik saja, padahal ada luka membusuk yang tersembunyi, dan itu menjadi penyebab gagal bertahan sehingga butuh gerak spontan, untuk menghentikan sumbatan yang bisa membuat semua berantakan.

*) Penulis adalah dosen Fakultas Hukum Unhas

Facebook Comments