Home Mimbar Ide Islam dan Kekuasaan

Islam dan Kekuasaan

0
Ilustrasi

Oleh : Idham Malik*

Rutinnya aksi-aksi mengatasnamakan gerakan Islam, dalam setengah dekade ini membuat kita bertanya-tanya. Fenomena apakah gerangan? Apakah ini kelanjutan dari islamisasi Indonesia pasca 1990-an, yang identik dengan gerakan jilbab di sekolah-sekolah, atau gairah Islam pasca 1979, arus revolusi Islam Iran, atau kembalinya ruh Masyumi yang sempat stop pada akhir 1950-an. Atau mungkin jauh dari itu, yaitu gerakan perlawanan santri-santri pesantren yang konsisten dengan tradisi-tradisinya, yang menolak modernisasi ala Hindia Belanda.

Sebagai orang awam, saya menduga-duga, dan pada kali ini sedikit memberanikan diri untuk bertanya, seperti apakah watak islam di satu sisi dan politik di sisi yang lain? Pertanyaan ini berkali-kali muncul, ketika melihat begitu militannya orang-orang yang dikenal baik, khususnya di media sosial pada momentum politik 2019 ini, dalam mempropagandakan kehidupan ala Islam, janji-janji kemenangan Islam, dan hubungan islam dan politik.

Ada yang mengatakan bahwa Islam dan kekuasaan ibarat urat nadi dan leher, begitu dekat. Tak ada Islam tanpa kekuasaan, tak ada kekuasaan tanpa Islam. Nabi Muhammad diutus untuk sebuah gerakan politik, sebuah perintah yang datang tiba-tiba di gua hira, yang berlangsung terus menerus, untuk segera menyampaian pandangan-pandangan tentang keberadaan Tuhan Yang Maha Tinggi (Allah), serta anjuran-anjuran praktik sosial dan politik.

Nabi yang punya latar belakang kebudayaan yang kuat, keturunan suku yang dihormati, yaitu Suku Quraisy, pemegang kunci kabbah-pusat ibadah masyarakat Arab, seorang suami dari pedagang kaya, Hadijah. Serta memiliki pengalaman panjang dalam dunia perdagangan antar kerajaan/bangsa, mendorongnya untuk memiliki pandangan dunia yang universal.

Praktek keagamaan di jazirah mekkah, yang bernuansa eksploitatif. Manusia mengeksploitasi tuhannya untuk kepentingan sendiri dan golongan, serta manusia mengeksploitasi manusia lainnya atas nama agama. Pada kurun waktu ini, yang distereotype-kan oleh Ummat Islam sebagai zaman Jahiliyah adalah masa-masa gemilang keunggulan suku ataupun bani masing-masing.

Masing-masing suku menyembah tuhannya sendiri-sendiri, yang saat itu populer yaitu Al-Lat, Uzza, dan Manat. Dewa – Dewi yang membantu memakmurkan bumi dan menetapkan nasib manusia di dalamnya. Serta ratusan dewa lainnya, yang terperangkap dalam sosok patung/berhala, yang ditata rapi dalam kubus/Mekkah. Saban tahun, para pengembara berdatangan ke Kabbah untuk berdoa kepada dewa-nya. Hal inilah yang mendukung aktivitas ekonomi masyarakat Mekkah, khususnya suku Quraisy, yang merupakan penjaga gerbang (adanya retribusi masuk), dan pengatur keperluan air minum (zam-zam) para peziarah.

Muhammad, yang selalu gelisah di tengah posisi kelas menengah atasnya, yang memiliki budak, dan begitu terganggu dengan kehidupan pengemis ataupun orang-orang miskin di pinggir-pinggir jalan kota. Mencoba menenangkan diri dalam aktivitas retret, merenung seorang diri di dalam gua. Dalam gua inilah, ia mendapat perintah, dan begitu kaget dengan status barunya, sebagai utusan Allah. Tuhan yang Sebenarnya, yang selama ini telah dilupakan oleh masyarakat Arab, tak terjangkau di ketinggian langit-langit.

Lantaran itu, gerakan mulai dibangun, dengan dukungan kerabat dekat, serta para budak. Diikuti oleh beberapa bangsawan Quraisy sendiri dan suku-suku Arab terhormat lainnya. Nabi Muhamad sendiri secara rutin berkhotbah di sekitar Kabbah dan cukup membuat risih penguasa Mekkah, yang tak lain sepupu dan paman-pamannya sendiri. Makanya, Muhammad diiming-imingi harta dan juga wanita. Tapi beliau tak bergeming. Akhirnya, jalan berikutnya yang ditempuh adalah boikot ekonomi kelompok Muhammad.

Memang, ada yang jatuh dari aksi boikot ekonomi ini, tapi Muhammad tak menunjukkan langkah mundur. Ia bahkan semakin kukuh dengan keyakinan dan visi sosial ekonominya. Bahwa praktek sosial mesti egaliter, dan kekayaan mesti dibagi pada kaum papa. Praktek keagamaan tidak lagi bergantung pada banyak tuhan, yang dapat menimbulkan perpecahan dan kebencian antar ummat manusia, tapi hanya satu Tuhan, yang bersifat menyeluruh, yang misteri sekaligus terbuka, melalui kalam-kalam sucinya. Tuhan yang diperkenalkan oleh Nabi Muhammad berbeda dari yang sebelum-sebelumnya. Tuhan ini hadir melalui surat-surat, kisah-kisah, yang dituturkan sendiri melalui wadah Muhammad.

Jalan kekerasan pun ditempuh, Muhammad menyingkir ke kota Madinah. Justru di sana beliau membangun basis masyarakat Madani. Prototype masyarakat kota yang maju, meski warganya kebanyakan adalah petani. Para petani ini pun mulai beradaptasi dengan kultur kota yang dibawa oleh kaum muhajirin. Lalu, mulai terbiasa pula untuk turut berdiskusi 5 kali sehari, sebelum dan setelah sholat. Aktivitas sholat di mesjid ini pun menjadi sarana tukar-menukar informasi dalam gerakan kebudayaan, sosial dan politik.

Sebagai sosok bapak dan penengah yang Adil, Muhammad berhasil membangun komunitas Islam yang solid di Yastrib. Perintah-perintah yang terkait hubungan sosial mulai diterapkan secara konsisten di daerah yang kemudian bernama Madinah itu. Sosoknya yang bijak dan lemah lembut pun menjadi jembatan untuk berkoordinasi dan berdamai dengan komunitas-komunitas Yahudi Arab yang ada di sekitar Madinah. Mesti terdapat pula gejolak dan penolakan.

Pun tak dapat dielakkan, elit-elit Mekkah tak menginginkan Muhammad melanjutkan perjuanganya. Sebab, sudah begitu mengganggu otoritas dan tentu ekonomi suku Quraisy. Mereka pun mengusahakan jalan kekerasan. Berkali-kali mereka menyerang Madinah, dengan pasang surut kemenangan. Yang lantaran terus-menerus dirongrong akidah dan semangat baru, akhirnya takluk dengan hantaman perang terakhir, yaitu perang Badar. Akhirnya, masyarakat Mekkah yang sebelumnya memusuhi Muhammad, berbondong-bondong memasuki rumah Islam.

Apakah sampai di sini cukup? Justru, di sinilah letak persoalannya. Tak lama setelah penguasaan Mekkah, setelah patung-patung berhala dihancurkan, kecuali Patung Isa dan Maryam. Nabi mangkat, dengan tanda-tanda peralihan kepemimpinan yang begitu kabur bagi masyarakat Islam awal, atau mungkin sengaja dikaburkan.

Pasca mangkatnya Muhammad, faksi-faksi dalam Islam mulai mempersoalkan siapa pemimpin ummat berikutnya. Kaum Anshar mulai berkumpul sendiri untuk mengangkat pemimpin di kalangan mereka sendiri, para sahabat pun datang untuk segerah turut bermusyawarah dengan mereka, dengan urat leher yang tegang hingga laurt malam. Akhirnya dicapailah kompromi dengan jalan tengah mengangkat Abu Bakar, karena dianggap paling berumur dan cukup dekat dengan nabi. Abu Bakar berkali-kali memimpin Sholat Jamaah saat Nabi sakit. Penunjukan Abu Bakar tak lain adalah hasil kesepakatan
yang merupakan pristiwa budaya, dalam hal ini kultur Arab dalam mengangkat pemimpin.

Aroma kekuasaan dan intrik politik mulai menggelinjat pada fase ini. Orang-orang Arab, yang disatukan oleh identitas agama yang sama, akhirnya tidak lagi berperang satu sama lain. Tapi justru bersatu, untuk merebut kekuasaan di negeri-negeri yang lain. Arab yang berada di antara dua kekuatan raksasa yang sudah melepuh, memanfaatkan situasi ini. mesin perang Persia/Sassaniah yang mandul dengan begitu gampang dihancurkan oleh pasukan Arab di bawah perintah Umar. Begitu halnya dengan kekuasaan kristen di Byzantium/konstantinopel beberapa abad kemudian.

Sayangnya, kita tak betul-betul tahu, motif dari agenda perang kaum muslim ini. Apakah karena dorongan ke-Imanan ataukah sekadar dorongan untuk keluar dari jerat kemiskinan. Apalagi, banyak di antara mereka adalah bekas musuh-musuh Muhammad. Seperti kata sastrawan abad ke-9, Abu Tammam, “Bukan, bukan karena surga hidup mengembarakan. Lebih, aku yakin, adalah kerinduanmu demi roti dan kurma”.

Hingga saat ini, semangat perang inilah yang membius, mungkin bak kesetanan pada sebagian kecil kaum muslim Indonesia saat ini. Begitu nyaring bunyi mereka. Lantaran merindukan kejayaan-kejayaan Islam, yang dalam sejarah Islam sendiri penuh intrik dan berbau darah.

Dan, pada setiap peperangan itu, nama tuhan selalu bergema, entah Tuhan sendiri setuju atau tidak. Bahkan, beberapa kali episode peperangan dalam Islam, masing-masing kubu saling membunuh dengan bendera Islam, saling kenal mengenal, dan bahkan pernah hidup secara dekat bersama Muhammad. Contoh pada Perang Jamal, antara kubu Ali dan kubu Aisiyah.

Karena itu, kita tidak tahu, motif apakah gerangan para politisi beraroma Islam ini. Apakah betul-betul memperjuangkan nilai-nilai Islam, atau hanya sebagai hamba dari hawa nafsunya sendiri.

*) penulis adalah aktivis muda Muhammadiyah

Facebook Comments