Home Mimbar Ide Kebenaran dan Subyektifitas (2)

Kebenaran dan Subyektifitas (2)

0
Ermansyah R. Hindi

Oleh: Ermansyah R. Hindi*

Kini, kebenaran ilmiah di bawah bayang-bayang nilai universal dari penguasaan dan ketundukan terhadap kebenaran. Pengetahuan tidak melulu menjadi pilihan kedua dari ilusi epistemologi sebagai pilihan pertama yang terputus. Nilai yang satu melawan nilai lainnya. Nilai rendah dan partikular menghadapi nilai universal tidak memiliki keterkaitan dengan kesenangan pada tulisan alami. Sampai kapanpun kita akan mengingatnya kembali tanpa verifikasi dan prosedur ilmiah lainnya, karena setiap nilai dalam kehidupan tidak lebih dari sekumpulan benda-benda yang diletakkan di museum lintas sejarah pemikiran. Kebenaran tidak hanya dusta paling lama, tetapi juga merupakan lubang setan dekil dalam kehidupan kita yang bangkit dari retakan tidurnya pemikiran besar dari orang-orang terdahulu.

Hal demikian membuat pemikiran mempertimbangkan bagaimana subyek sebenarnya dapat melacak kesalahan yang boleh jadi terdapat ukuran sesuai dengan fakta-fakta. Posisi dan gambaran tidak lagi berada dalam kenyataan, dimana relasi antara subyek sesudahnya tidak berubah terhadap obyek terdahulu. Berapa orang yang meninggal akibat keracunan makanan dan berapa orang yang memiliki kartu jaminan sosial kesehatan? Diskursus atas pasien merupakan analisis penguraian atas penafsiran yang dikaitkan dengan permasalahan tertentu dan tidak bergantung pada pemikiran lain yang tidak terpikirkan sebelum dan saat ini. Disinilah juga nampak bagaimana subyek sepatutnya menyembunyikan titik kebenaran dari hasil analisis dengan fakta-fakta yang terjadi di lapangan secara empiris. Mungkin kita menghadapi permasalahan yang tidak terjadi sebelumnya dan muncul sebagai bentuk yang lain dan baru dari permasalahan sesudahnya. Penguraian obyek pengetahuan atas keadaan menjadi analisis yang tidak dapat dipisahkan dengan relasi subyek. Sejak ada kemungkinan relasi yang beragam, diskursus pemikiran ditujukan pada kesalahan tanpa kebenaran. Jika tidak, diskursus akan terperangkap dalam pernyataan benar dan salahnya sendiri.

Kita tidak ingin menolak pertanyaan yang belum memiliki kaitan dengan permainan kebenaran apapun paradoks dan ironisnya. Kita berpikir tentang pilihan-pilihan dari hasil keputusan yang memiliki efek kesalahan, titik tolak dimana pengetahuan bekerja tanpa ada sedikitpun kejanggalan didalamnya. Dalam alur pemikiran diskursif, bagaimana menggali dan menjerumuskan bentuk permainan sebelumnya dengan cara tidak terpikirkan subyek yang memainkan suatu permainan sesudahnya. Kata lain, pemikiran diskursif menemukan cara untuk menanamkan hasrat untuk berkuasa melalui permainan yang tidak ditemukan sebelum dan sesudah kata kerja hasrat, meletakkan subyek yang tidak mengarahkan pilihan menjadi obyek pengetahuan. Kematian dari kepakaran yang seiring dengan kematian pusat pada pihak yang satu dan kematian figur ideal akibat dibunuh yang menyimpan teka-teki di pihak lainnya. Pada keadaan ini, kita ternyata kembali tidak mampu berpikir apa yang telah dipikirkan sesudahnya. “Kebenaran adalah kesalahan yang ditukarkan dari subyek terhadap obyek pengetahuan”. Rezim kebenaran paling efektif dan telanjang adalah subyek di balik rezim kuasa dengan prosedur-prosedur pilihan yang mengendalikan penafsiran, penemuan dan pengamatan, tanpa bukti-bukti berdasarkan persepsi indera. Dari ahli astronomi atau arkeologi perlu menguatkan validitas dan pengujian hipotesis guna menjamin pikiran logis dan faktanya tentang kehidupan spesies lain yang bertempat di luar diri kita bahkan di luar kebenaran itu sendiri. Di tempat lain, Anda dijebloskan di tahanan pengadilan sekalipun belum ada bukti-bukti apa pelanggarannya. Dari kesalahan, mungkin saya masih bermimpi tentang kekerasan pikiran yang diuapi oleh sintesis kontinuitas yang mengingatkan topeng dan catur untuk berbicara pada orang gila tanpa sakit mental atau penderitaan psikis.

Lain halnya, dalam sel kehidupan yang lebih kecil tentu saja kebenaran nampak begitu rancu, tatkala ayah dan anak-anaknya mengurungkan niatnya untuk membakar selembar surat dengan jawaban atas pertanyaan yang tidak jelas. Bunyi surat tersebut menunjukkan kaitan dengan dusta atau tidak di tengah pencarian kebenaran. Saat kebenaran sudah tidak ada lagi, yang ada hanyalah kemampuan seseorang untuk mencium dusta di balik teks surat yang ditujukan pada sang ayah. Anak ingin memulai pembicaraan terbuka tentang apa saja yang dijelaskan oleh ayah sebagai rezim kuasa menyangkut bagaimana upaya peningkatan wawasan keluarga terhadap keterbukaan dan pengetahuan dalam kehidupan. Ayah bersama ibu dan anaknya tidak perlu memiliki prosedur pilihan yang berbelit-belit, kecuali jalan ke lubang, berliku dan beronak perlu didedikasikan dalam keluarga melalui cara berpikir dan cara bertindak secara jujur. Kehidupan dan pengetahuan ibarat kaca dihindari dengan dua cara: menjaga agar tidak tertutupi debu dan menjaga agar tidak pecah. Kebenaran tidak ada kaitannya dengan kaca karena memang tidak ada bentuk dan rujukan yang patut darinya.

Mungkin inilah paling penting dari lekukan pemikiran diskursif setelah penolakan atas yang Nyata sebagai obyek berhala dalam kebenaran. Pengetahuan menunjukkan titik dusta dan kesalahan bukan bentuk perlawanan atas kebenaran, melainkan cara untuk melampaui analisis diskursus. Kita mencoba untuk bangkit dari cara berpikir paling maju tentang dusta dan kesalahan lebih menarik dibandingkan menerima pengetahuan akan kebenaran yang keluar dari tubuh dalam keadaan tidak bersalah. Dusta telah menandakan lebih terbuka dan jelas corak berpikir dan komitmennya. Bukan lagi keadaan apa saja yang membuat seorang terperangkap dusta dan kesalahan, melainkan kemampuan untuk menyalurkan tulisan tema perlawanan di bawah produksi intelektual. Anda percaya pada Ayah. Saya masih percaya keajaiban dusta. Dalam pandangan Ayah, “Jauhilah dusta Anakku disaat sedang berbicara pada khalayak, kecuali berdustalah pada saat menulis tentang kebenaran”. Kapankan kita berdusta? Apabila bentuk buku tidak lebih dari model ketidakhadiran makna di hadapan kebenaran dan dalam realitas, seseorang memikirkan setiap kemungkinan celah pernyataan pilihan subyek pada saat tertentu sebagai obyek pengetahuan. Proses penting terjadi tidak terelakkan melalui titik pergerakan dari subyek sebagai subyek atau subyek sebagai obyek. Tentunya lebih memungkinkan pengetahuan leluasa memasuki pernyataan benar dan salah dalam wilayah a priori pemikiran yang berkaitan penampakan, subyek dan cara berbicara. Khusus untuk subyek kuasa begitu beragam dan menyebar dimana-mana dalam kehidupan subyek itu sendiri. Subyek pengetahuan sesuai subyek kuasa dari Ayah, anak, orator, orang gila atau orang buta huruf memungkinkan sebagai obyek pengetahuan. Sehingga kuasa dari subyek tidak menjadi permasalahan dalam pengetahuan selama dusta memiliki keterkaitan dengan kebenaran yang tidak dikenali. Akhirnya, ucapan dari naskah resmi terlalu banyak kata-kata yang dipadatkan melalui tulisan menyisipkan kebenaran sebanyak dusta. Subyek kuasa menciptakan suara tulisan untuk menormalisasi keadaan dari kekacauan. Dari sinilah cara produksi diskursus memungkinkan untuk mengurangi prosedur-prosedur pengetahuan yang tidak mengenal dusta. Boleh jadi di tangan seseorang, bahwa dusta adalah kebenaran bagi orang-orang yang ingin lebih mengenal siapa sesungguhnya dirinya. Sehingga parodi dan ilusi bersesuaian dengan kebenaran. Diskursus perlu memperhatikan dusta dan rahasia-rahasianya. Pernyataan benar dan salah menjadi keharusan untuk mendefinisikan kembali dusta yang datang dari kebenaran. Mungkin, diskursus tentang dusta, berarti diskursus atas kebenaran. Dusta dalam kebenaran memberi asal-usul keadaan dibalik kesalahan.

Sejak diskursus tentang pendidikan, pengadilan dan pemerintahan memulai menyusun pemikiran khas bagaimana pentingnya kesenangan akan pengetahuan diselingi kemampuan berbicara berterus terang. Seseorang menganggap lawannya adalah dusta, tetapi pada saat yang sama ia berbicara kebenaran. Dibalik lembaga bergensi seperti institusi pengadilan atau pemerintahan terdapat kemungkinan dibangun suatu paradoks dusta yang bergantung pada subyek kuasa yang mengendalikan dirinya. Tetapi, pengetahuan memberi penjelasan bagaimana ‘paradoks dusta sebagai banalitas filsafat yang memalukan’ di tengah orang-orang yang berbicara blak-blakan mengenai kebenaran dan keadilan. Dusta yang bertopeng kebenaran bukan hanya permasalahan kehidupan filosofis, tetapi juga dari dusta itu sendiri. Meskipun menjadi obyek pengetahuan, paradoks dusta dari kebenaran hanya memperolok-olok dirinya sendiri. Dalam paradoks inilah, kita mendengarkan dan bahkan terlibat dalam pemikiran, bahwa kata-kata atau pidato yang mengandung pujian tentang seseorang yang telah meninggal (eulogy) mengingatkan kita pada kebenaran. Berbicara berterus terang dan kritisisme tidak menyoroti dan memperjuangkan kebenaran dalam wilayah yang sama. Apa yang dianggap jelas dan pasti tidak lebih dari keraguan atas kebenaran yang berbalik arah menuju lingkaran himne yang ironis. Kita masih terjatuh dalam lubang yang sama dengan cara berpikir berada dalam himne yang ironis terhadap kehormatan, kiritisisme, kudus dan tentu saja asal-usul kebenaran. Paradoks dusta dibalik kebenaran berkali-kali diajukan pada wilayah pemikiran diskursif yang menunjukkan pada subyek yang percaya dengan subyek yang berbicara berterus terang. Lawanku bukan lagi dusta dan paradoks-paradoksnya, dari kemampuan seseorang “bersilat lidah” untuk menunjukkan pihak mana yang berada dalam pernyataan benar atau salah merupakan subyek pengetahuan. Suara-suara kebenaran pada saat tertentu menjadi lawan dari subyek yang berlindung dibalik kebenaran.

Suara kebenaran seakan-akan tertinggal sejenak dalam kerongkongan yang tersendat oleh air liur setelah bersilat lidah dalam forum ilmiah atau sidang pengadilan dan di ruang kebebasan berbicara dan menulis lainnya. Artikulasi dari ucapan kebenaran dipolesi oleh kepandaian berbicara yang terdengar masuk akal atau logis, sesungguhnya tidak termasuk mimpi tentang kedalaman yang kosong. Berbeda dengan kebenaran yang dimulai berbicara penuh gerakan tangan dan mimik yang serius, padahal tidak demikian adanya. Seseorang tidak lagi berada dalam mimpi dan seluruh bentuk kesalahan sejauh kegilaan menemuinya. Kata lain, kegilaan telah terlepas dari mimpi dan ilusi. Analisis pemikiran memberi ruang untuk diartikulasikan dengan relasi kegilaan terhadap diskursus. Mimpi dan ilusi tidak lagi bertugas untuk mengatasi struktur kebenaran dirinya. Ketidakhadiran dusta dari kebenaran telah keluar dari mimpi dan ilusi setelah mengatasi kebenaran sebelumnya yang membuat ‘kita tidak ada, karena kita tidak berpikir’. Kebenaran menjadi titik keraguan filosofis.

Dalam kasus manapun dalam hasrat sanubarinya, lawan seseorang yang begitu lihai berbicara, ia tidak akan pernah mendustai mata batinnya, sekalipun mendustai berkali-kali pada orang lain. Jika bukan pikiran terbelunggu, dirinya sendiri yang akan tersiksa. Mereka berbicara berterus terang tanpa paradoks permainan sedikitpun akan membantu imajinasi untuk mengungkapkan lintasan pemikiran menerobos batas-batas subyek pengetahuan.

Apa yang saat ini seseorang berbicara berterus terang sesuai kebebasan berpikir, bukan kebebasan berujar kebencian pada yang lainnya tertahan dalam kebenaran sebagai subyek pengetahuan. Sebaliknya, keadaan tertentu dari seseorang tidak pernah untuk melepaskan dirinya dari perhambaan pada nalar, akhirnya menjadi perbudakan atas hasrat sanubarinya. Apalagi disaat kita ingin berhasrat untuk mengukur permukaan segi tiga, segi empat atau jajaran genjang yang tidak memiliki keterkaitan dengan kesenangan yang biasa-biasa saja, malahan menyesuaikan diri dengan pilihan-pilihan bersifat universal dari yang partikular dengan selisih-selisih diantara keduanya.

Paradoks dan ilusi kebenaran setelah sekian lama menjelma menjadi subyek dan pusat finalitas yang mengancam wilayah diskursus filosofis dalam kegilaan. Ada dua tantangan diskursus filosofis, meliputi (i) selingan dan (ii) selisih. Melalui cara selingan yang akan dikalkulasi sebanyak jumlah pengulangan titik peristiwa kesenangan yang tidak terhingga, dimana pergerakan obyek yang menampilkan kekerasan teks, kekerasan teoritis, kekerasan bahasa, kekerasan imajiner bahkan kekerasan demi kekerasan lainnya yang memiliki efek langsung bagi dunia luar akibat persentuhannya sejak awal dengan wujud virtual menuntut keterlibatan diskursus filosofis. Kesenangan direnggut dengan selingan melalui kekerasan. Jenis selingan kekerasan ini patut diragukan. Tetapi, kebanyakan orang mengimpikan akan kesenangan hidup dalam kedamaian diselingi dengan teater kekerasan berupa perlombaan anti kemanusiaan dan pemikiran reaksioner. Pria menjadi mesin tidak menggunakan sirkuit sebagai cara untuk memasuki produksi kesenangan pada permukaan tubuh yang nampak di depan kursi hanyalah suguhan kopi bersama pria lain sambil menuntun aliran pembicaraan berpindah dalam aliran air dan bunyi melebihi permukaan tubuh. Aliran kopi diurai dalam produksi kesenangan merupakan peristiwa pengetahuan disaat perbincangan berlangsung.

Kesenangan dan mesin mimpi mengalirkannya permukaan kursi dan permukaan tubuh dari masing-masing pria lagi menikmati kopi. Kesejajaran permukaan kursi dan tubuh dari satu kumpulan pria yang tidak terpikirkan belum terbangun segi empat tidak sama sisi atau segi empat panjang dengan segi empat sama sisi atau bujur sangkar. Struktur permukaan segi empat menjadi selingan kekerasan pikiran tidak memiliki ukuran yang sama dengan permukaan kursi dan tubuh. Kekerasan pikiran terjadi manakala tidak memiliki keterkaitan permukaan kursi, tubuh dan segi empat dengan metode pengukuran yang sama dari setiap permukaan. Ketidakterukuran diambil dari pilihan-pilihan yang berbeda selalu keluar dari representasi pikiran. Kita dapat memikirkan setiap permukaan kursi, tubuh dan segi empat yang mengalirkan obyek pengetahuan dengan titik koordinat tertentu, sekalipun tidak lebih dari permainan yang tidak memiliki keterkaitan antara satu dengan lainnya.

Dari kebenaran geometris, kita melihat setiap sudut permukaan tidak menjadi selisih, sekalipun seseorang sebagai eksistensi yang diragukan. Selisih yang dapat dikuantitaskan dari kualitatif disaat peningkatan kesenangan sebagai akibat pengurangan dari penderitaan atau sebaliknya. Kita masih teringat suatu ungkapan yang diketahui secara umum, bahwa “uang satu milyar bukanlah segala-galanya, tetapi segala-galanya membutuhkan uang satu milyar”. Disamping kesenangan yang beragam dapat dikuantitaskan dari yang kualitas. Ia juga dapat memenuhi dirinya melalui prosedur verifikasi yang tidak ada kelipatan kecilnya. Kesenangan adalah pergerakan dari ketidakhadiran kelipatan kecil ke kelipatan besar yang serbaberagam tanpa akhir, seperti ‘bilangan tidak terhingga’ dari permainan sederhana.

Singkatnya, selingan tidak lebih dari paradoks permainan. Kata lain, bahwa permainan sebagai selingan kesenangan yang bersifat universal dari partikular tidak tergambarkan dan terputus-putus. Pria bersama kesenangan untuk berdiskusi atau berhitung menjadi selingan pilihan yang tidak perlu bagi kita berpikir keras, karena tidak dapat diselingkan yang telah ada selingannya. Pilihan-pilihan yang saling menyilang dan beragam dari kesenangan yang ditopang oleh efek yang ditimbulkannya merupakan selisih bagi yang lainnya. Misalnya, kita dapat menghitung neraca melalui selisih antara debit dan kredit, pendapatan dan biaya pengeluaran tidak sama persis dengan kesenangan yang dilihat dari selisih. Perbedaan lain, disaat kita mencoba untuk mengetahui berapa banyak kesenangan kita untuk bercermin di depan cermin. Kita tidak dapat menggambarkan bahasa dusta dan kebencian sebagai selisih dari kebenaran geometris melalui kaca cermin. Begitu pula kursi, tubuh ataupun segi empat permukaan menjaga jarak dirinya dengan nilai universal dari yang partikular dibalik hasrat, dimana asal-usul kesenangan ditemukan selama masih berada di luar representasi pikiran. Disinilah kita berhenti berpikir, bahwa bukan titik permasalahan terukur atau tidak terukur, melainkan selisih ketidakstabilan subyek pengetahuan.

Akibat pilihan-pilihan dari selisih keputusan melalui obyek pengetahuan, subyektifitas tidaklah membelenggu kita, teks yang dimainkan seseorang dengan berbicara secara lihai pada lawannya, akhirnya tidak lebih dari momok yang membayang-bayangi identitas dan perbedaan diantara entitas alamiah. Setelah itu, kebenaran atas kesenangan akan berubah menjadi pendaur-ulang. Dalam keterkaitan pengetahuan yang tidak dapat dipertahankan dengan subyek kuasa dapat dipersempit menjadi bualan anonim. Karena itu, subyektifitas berlawanan dengan logika matematika menjadi kebenaran ilmiah (1+4=5, jika a=1, maka a2=a (dikalikan a), a2-1=a-1 (dikurangi 1), dan seterusnya). Logika kebenaran matematika mencoba mengisolasi dengan cara melokalisir setiap potensi dusta dalam struktur bahasa. Kita percaya, bahwa tidak ada jaminan bagi obyek pengetahuan yang menuntun subyek dengan memainkan prosedur-prosedur dalam permainan angka-angka yang pasti, nyata dan tidak paradoks tanpa melewati diskursus-diskursus tentang kegilaan pada matematika. Atas kebenaran ilmiahnya yang jelas dan pasti, semestinya setiap pemikiran tentangnya mestilah tidak melarikan diri dari kehidupan dan dari keraguan alamiah.

*) Penulis adalah ASN Bappeda/Sekretaris PD Muhammadiyah Jeneponto

Facebook Comments