Home Mimbar Ide Masih Adakah Calon Istri Revolusioner?

Masih Adakah Calon Istri Revolusioner?

0
Ilustrasi

Oleh : Furqan Jurdi*

Wajah sejarah tidak pernah alpa dari perempuan-perempuan revolusioner, yang berani melawan tradisi kemapanan, dan keluar menjadi legenda yang dituturkan dari masa ke massa.

Perempuan-perempuan itu mampu merubah wajah jaman, ditengah perbudakan seksual yang merajalela. Ketika masa peradaban awal, dari mesopotamia kuno hingga mesir Kuno, dari Yunani hingga Romawi, masa itu kemegahan sudah mulai menampakkan wajahnya, tetapi bagi perempuan masa ini masih menjadi masa kelam. Mereka dipekerjakan menjadi budak seks, kakinya dirantai, lehernya diberi kalung sebagai tanda bahwa ia tawanan bagi hasrat lelaki.

Orang-orang melihat masa kelam itu, dan menikmatinya dengan antusias. Perempuan yang menjadi rahim peradaban dibelenggu oleh pandangan awam.

Perempuan hanya menjadi objek hasrat, lalu diajarkan tentang bagaimana melayani lelaki yang asing dengan ikatan pernikahan. Perempuan-perempuan itu diajarkan tentang romantisme semu dan fantasi hasrat yang menggoda, lalu diberi kalung leher atas nama ikatan pernikahan.

Dalam masa kelam itu, seorang perempuan ahli matematika, yang lahir dari tradisi intelektual Yunani, Hypatia menjadi legenda baru bagi perempuan. Dia adalah musuh utama paganisme dan dicincang karena persaingan sengit antara paganisme dan hellenisme diabad 4 atau 5 Masehi

Hypatia adalah contoh selera tinggi seorang Gadis dengan kemampuan yang luar biasa. Setelah dagingnya dicincang, para penganut perbegu membakar Perpustakaan Iskandaria, sebuah awal terkuburnya Ilmu pengetahuan hingga menjelang abad 9 Masehi.

Selama beberapa masa peran perempuan tenggelam dalam pelukan lelaki, dan berakhir dibalik tirai pernikahan. Tetapi tidak bagi Asiah Istri Firaun. Perempuan legenda yang mempertahankan Iman ditengah suaminya yang telah mendeklarasikan diri “anna rabukumul a’la”.

Tentu Asiah adalah wanita terhormat, dengan kekayaan yang melimpah di dalam Istana. Kalau dia tenggelam dalam kemegahan untuk apa dia memilih menjadi derita karena iman?

Benar ia tidak pernah mampu dipengaruhi oleh limpahan kemegahan sang raja, dan nama besar si tiran itu. Ia beriman kepada risalah penggembala yang datang bersama saudaranya, Musa dan Harun.

Bayang-bayang kematian terus membayangi dirinya. Kepada Tuhan ia bermunajat, bahwa cukuplah “hasbunallahu ni’mal wakil”. Iman Asiah adalah merupakan pembangkangan terhadap suaminnya. Secara tidak langsung ia melawan suaminya. Hingga sampai ia harus menerima kenyataan, eksekusi mati yang diberikan suaminya, sebagai hukuman atas pembangkangannya itu.

Mereka adalah perempuan revolusioner. Mengukir sejarah baru untuk disumbangkan bagi jamannya dan jaman yang datang setelahnya.

Bagaimana pula kita menyaksikan seorang Nabi lahir tanpa ayah dari seorang perawan suci dari Nazareth. Derita bermula Pada Maryam atas penerimaan terhadap perintah Tuhan akan tugas besar.

Ya Namanya Maryam, perempuan perawan yang melahirkan anak laki-laki perkasa dalam keperawanannya. Dia menanggung derita dan aib, tetapi tugas dari risalah bermula dari deritannya.

Adakah Perempuan yang mau menanggung beban itu? Beban untuk dihina-dinakan demi sebuah tujuan besar?

Tak mungkin kita lupa, seorang janda yang berumur 40 tahun menikahi pemuda terhormat yang yatim piatu, yang baru berumur 25 tahun. Hadijah janda kaya dan terhormat.

Pada hari-hari pertama, mereka mungkin merasakan kesenangan sebagai suami dan istri, tetapi ia tidak menyadari bahwa ia akan menjadi penopang bagi berkembangnya risalah penting yang merubah kehidupan umat manusia.

Tanpa ia sadari bahwa ia menikahi pemuda itu untuk dia tanggung derita bersama dimasa awal datang nubuat. Risalah penting bagi Jazirah dan umat manusia.

40 Tahun genap umur pemuda itu, masa suram mulai menghinggapi kehidupan dua pasangan yang saling mencintai itu. Ketika Gua Hira digoncangkan dengan suara yang memekakkan telinga, merenggut sisa kebahagiaan dan merampas ketenangan bagi dua pasangan itu.

Awal mula perjuangan dan pengorbanan besar! Hadijah segera menyiapkan diri, menyatakan kebenaran akan apa yang disampaikan suaminya. Bukan hanya dirinya, ia sudah menyiapkan segala kemungkinan besar bagi biaya perjuangan sang Pembawa Risalah.

Perjuangan panjang sedang dihadapi, pertarungan sengit dengan penyembah berhala sudah dibunyikan. Kini benar-benar derita itu datang jua.

Orang-orang menyaksikan, mereka yang mengatakan La ilaha illallah kini harus mendapatkan siksaan, diusir dari kampung halaman dan pergi jauh hingga Abbesinia (Habasyah).

Khadijah telah terlanjur cinta pada suaminya, dan sangat percaya akan kebenaran yang dibawa oleh Suaminya. Kini harta dan kekayaan harus dikorbankan untuk menopang jalannya perjuangan itu.

Ternyata tidak mudah. Caci maki, umpatan, celaan, hinaan dan berujung pada boikot terjadi juga. Derita berlipat ganda, hubungan dagang dengan khadijah di putuskan oleh para oligarki mekkah.

Dimana-mana penderitaan penganut agama baru itu menyayat hati. Mereka harus menerima pemutusan hubungan bahkan oleh keluargannya sendiri.

Apakah Khadijah, perempuan kaya dan terhormat itu jenuh berjuang bersama Sang Pembawa Pesan? Tidak!!! Sama sekali tidak!!! Kesetiaannya pada lelaki itu, dan pengorbanannya pada agama yang diajarkan oleh Lelaki itu tidak surut. Hingga menjelang Hijrah ke Madinah, Perempuan itu tidak lagi melihat seperti apa perjuangan suaminya.

Khadijah adalah perempuan pertama dan orang pertama yang menyatakan kepercayaannya kepada agama Islam dan yang paling setia menemani perjuangan nabi, dan yang paling berkorban bersama nabi. Dan dia adalah orang yang tidak melihat seperti apa kemenangan itu, Islam itu, buah dari pengerbonanannya.

Dari rahim nya lahir Fatimah, Ummu Kaltsum, dan darinya keturunan Rasulullah hidup hingga sampai hari ini. Inilah perempuan besar yang bertahan untuk sebuah perjuangan yang tidak pernah dia rasakan.

Tetapi kisah tragis mereka sengaja disembunyikan oleh para pemalsu sejarah, supaya mereka mengambil yang mudahnya saja dari perjuangan perempuan legenda itu.

Mereka mengutip Khadijah, Aisyah dan para perempuan besar itu untuk menyembunyikan kecenderungan mereka menjadi perempuan revolusioner. Mereka menyuguhkan cerita asmara sehingga libidonya tergila-gila. Mereka disuguhkan dengan cerita romatis supaya mereka menjadi semakin lemah.

Perempuan-perempuan besar itu tidak pernah belajar dari keteladanan yang menggelapkan sejarah perjuangan seperti itu. Mereka menjadi legenda karena tekad untuk sebuah tujuan besar.

Perempuan bukan budak romantisme, bukan pula lahir dari kecengengan sejarah yang telah digelapkan. Mereka lahir dan besar dari terpaan badai dan berada di baris lelaki revolusioner sebagai penopang.

Gadis-gadis jelita yang begitu menawan, diberi materi tentang menjadi istri solehah, dengan modal ‘argumentasi’ ala kadarnya. Dibujuknya untuk mencari suami, dan lelaki labil diajarkan materi menikah.

Jaman ini, jaman kengerian. Ketika anjuran nikah menyebar kemana-mana, ruang dan pembicaraan hanya gunjingan tentang lelaki baik dan buruk, perempuan cantik dan seksi. Mata perempuan seakan-akan ditutupi dengan tradisi bahwa menjadi Istri nabi itu demikian…

Belum pernah kah datang kepada mereka tentang pejuang perempuan yang ke medan tempur untuk kemerdekaan bangsanya seperti Cut Nyak Dien. Atau Kartini yang berjuang demi para perempuan lainnya.

Belum sampekah kepada mereka tentang perempuan legenda jaman itu semua. Tentang Nyai Walidah yang berjuang dengan harta dan kekayaan demi sebuah keyakinan sang suami akan sebuah permunian ajaran Islam di Republik Indonesia.

Apakah mereka orang yang tertutup. Orang yang selalu dikekang dengan ketakutan untuk melangkah keluar? Mereka adalah perempuan yang menantang kemapanan dan melawannya dengan berani, hingga kita bisa seperti hari ini.

Kini mereka diajari untuk menjadi istri, selesai itu drama korea akan mengaduk-aduk perasaan cinta mereka, lalu jadilah perempuan lemah. Diberikan kriteria lelaki, dan digambarkan surga, tetapi dunia tempat mereka, tidak mereka tahu.

Obsesi itu kini menghinggapi para gadis remaja, yang akan menjadi jalan buruk bagi tradisi kebebasan kaum perempuan. Bahkan “instruktur” mereka menenggelamkan sejarah perjuangan hanya untuk mengambil yang mudah dan ringannya. Penggelapan sejarah kini berlangsung secara sistematis, bahwa jadi perempuan itu pelayan yang baik dan menjadi pendamping suami, tetapi melayani seperti apa dan mendampingi dalam hal apa tidak mereka tahu.

Inilah titik terendah capaian indoktrinasi, yaitu mengungkung kembali keberkahan kebebasan kaum perempuan dalam tirani pikiran para “instruktur” mereka.

Masihkah ada perempuan revolusioner itu?

*) Penulis adalah aktivis muda Muhammadiyah

Facebook Comments