Home Mimbar Ide Problematika Kelompok Petambak Udang

Problematika Kelompok Petambak Udang

0

Oleh : Idham Malik*

Menghadirkan kelompok tani tambak yang efektif, tampaknya susah-susah gampang. Susahnya adalah membangun kesadaran masyarakat untuk berkelompok, di tengah himpitan masalah pribadi-pribadi. Gampangnya karena masyarakat pada dasarnya membutuhkan wadah perjuangan bersama.

Pengalaman di lapangan, meskipun masih tak cukup-cukup mulai meruak sedikit-sedikit, kuat lemahnya kelompok sangat tergantung dengan kebutuhan dan visi masyarakat itu sendiri. Seperti apakah masyarakat petambak membayangkan sebuah wadah ideal yang mampu menggerakkan produktivitas secara bersama?

Persoalan bayangan bersama ini, apakah betul-betul terbentuk dari rasa menderita bersama? rasa kacau, frustasi, sehingga memunculkan sebuah visi — tujuan yang terang benderang, seberkas cahaya yang begitu memikat hati, membuat kita terdorong terus ke sana.

Barangkali, kelompok-kelompok yang berputar di bumi Sulawesi Selatan saat ini memilik bayangan mengenai kelompok sekadar pergaulan biasa, selayaknya mahluk sosial. Warga bergabung dalam kelompok, sebagai bagian dari kepatutan sosial, dan bayangan mengenai kebangkitan bersama untuk meraih status sosial dan ekonomi yang lebih tinggi hanya menjadi embrio, yang lamat-lamat mati.

Apa kira-kira soalnya? Saya sekadar menduga-duga, bahwa hingga detik itu, masyarakat merasa belum membutuhkan suatu persatuan yang alot, yang konkrit, yang begitu banyak begini dan begitu. Sebagian petambak mungkin masih yakin dengan dirinya sendiri, merasa mampu untuk mengejar ketertinggalan. Dengan apa? yaitu dengan sistem sosial yang sedang berlangsung di tempat tersebut.

Sistem sosial, apalagi bagi masyarakat Bugis, mendorong mereka untuk saling belajar, secara individual, dan tentu mendorong mereka untuk bersaing satu sama lainnya. Tentu, ini hanya berlaku bagi petambak yang bebas, dalam hal ini petambak yang memiliki lahan sendiri dan petambak yang menyewa lahan. Petambak yang berada dalam kontrol punggawa, biasanya justru turut patuh dan kurang memiliki inisiatif.

Sehingga, ketika ada kelompok, selain memberi kesempatan kepada mereka untuk unjuk diri, tapi juga merupakan momen problematik. Ego petambak terguncang. Pertama, petambak sudah merasa mengerti dengan metode, yang telah dia asah bertahun-tahun, dengan dibuktikan dengan hasil yang baik. Kedua, mereka sudah tahu jalur-jalur untuk memperoleh kebutuhan bahan baku produksi, serta jalur pasar. Mereka bisa melakukannya seorang diri tanpa bantuan kelompok.

Kelompok, apalagi dipimpin oleh kawan sendiri yang secara status sosial dan ekonomi setara, menambah ketidakseriusan mereka untuk membangun kelompok. Pemimpin yang diangkat di antara mereka, yang tidak dapat memberikan arah yang jelas, dan tidak dapat menerjemahkan visi dari pihak luar (pendamping-fasilitator) tentu akan sulit mengikat hati para anggota.

Pada akhirnya, ketika program selesai, atau ketika pihak luar lama tak berkunjung ke kelompok tersebut, kelompok pun buyar dengan sendirinya. Para petambak menjalankan rutinitas sehari-hari, saling kenal mengenal satu sama lain di pagi hari, dan kelompok pun tinggal lama.

Apa yang bisa dilakukan?

Dalam kondisi seperti itu, yang dapat dilakukan adalah mengisi ruang kosong pengetahuan mereka. Kita dapat merancang sebuah kelas atau pertemuan secara berkala, dengan mendatangkan pihak-pihak yang mumpuni di bidangnya, untuk menjelaskan hal-hal yang bersifat spesifik. Misalnya tentang manajemen penyakit udang, tentang pengelolaan air, pemberantasan hama, atau tentang manajemen keuangan.

Mereka pun sedikit-sedikit mencerna hal tersebut, dan menunggu momentumnya, mereka akan mencoba menerapkan apa yang telah disampaikan oleh para pemateri. Pertemuan untuk pemberian materi tersebut juga sebagai ajang petambak untuk bersapa, dan akan lebih baik lagi jika bersapanya lintas desa, bahkan lintas kecamatan.

Dengan begitu, lingkar pengaruh kita bersifat tidak langsung, dan para petambak tidak merasa diintervensi melalui kelompok. Selain itu, kemungkinan majunya ekonomi masyarakat kian besar, seiring dengan penerapan masukan-masukan baru tersebut.

Metode ini telah kami terapkan melalui Sekolah Tambak Kawasan Minapolitan Lowita Pinrang, yang diinsiasi oleh WWF-Indonesia 2015-2017, serta adanya Sekolah Lapang yang rutin diselenggarakan oleh Dinas Kelautan Perikanan Pinrang, sejak 2016 hingga saat ini.

Metode ini mendorong komunitas-komunitas tertentu petambak di Pinrang menerapkan reformasi dalam manejemen tambak, tentu di tengah-tengah kesulitan yang selalu menerpa (cuaca, kondisi bibit, dan penyakit udang). Dan saat ini, boleh dikata sudah banyak bermunculan petani-petani tambak yang memiliki pengaruh, berkat adanya pertemuan-pertemuan tersebut.

Meski hal ini harus selalu direfleksi, untuk tetap mendorong mereka untuk bekerjasama, berkelompok, selain untuk tujuan peningkatan ekonomi, tapi juga untuk mencegah rusaknya kondisi lingkungan, yang pada akhirnya kelak justru akan menjadi penyebab utama keruntuhan ekonomi mereka.

*) Penulis adalah Aquaculture Staff, WWF-Indonesia

Facebook Comments