Home Mimbar Ide Ikhtiar Cinta

Ikhtiar Cinta

0
Noor Anni

(Berdoa Di Hari Arafah)

Oleh : Noor Anni*

Nabi bersabda, Sebaik-baik doa adalah doa pada hari arafah, dan sebaik baik apa yang diucapkan olehku dan para nabi sebelumku adalah Laa ilaaha illallah wahdahu laa syariika lah lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘aala kulli syai’in qadiir (Al muwaththa, Imam malik)

Kutipan hadits ini saya ambil dari kitab Al Muwaththa. Merupakan kitab hadits tertua, karangan imam malik bin anas. Takhrij Muhammad ridhwan syarif abdullah. Namun jauh sebelumnya, telah dinukil oleh At tirmidzi. Dalam shahih At tharghib dengan sanad hasan lighairihi.

Walau sanadnya lemah, tetapi landasan historikal ini sangat argumentatif, jika ditinjau dari segi keutamaan beramal. Apalagi hadits ini dimuat dalam kitab terpercaya. Milik seorang fuqaha madinah yang dikenal teliti dan selektif dalam ilmu hadits.

Hadits ini singkat. Sangat mudah dihapalkan. Tetapi implementasinya terbatas pada bulan dzulhijjah saja. Bulan sarat peristiwa penting dalam sejarah islam. Salah satunya pada tanggal 8 dzulhijjah. Ketika nabi ibrahim AS mendapatkan petunjuk menyembelih nabi Ismail AS. Berkat ketakwaan mereka atas perintah tersebut. Momentum ini kemudian dirayakan besar-besaran setiap tahun. Kita kenal dengan idul qurban.

Jauh sebelum ujian itu, nabi Ibrahim AS diwahyukan untuk mengasingkan nabi Ismail AS dan Siti hajar disebuah daerah tandus nan sunyi. Pada akhirnya tempat tandus itu kini melimpah air. Bersumber dari sumur zam-zam. Yang saat awal penggalian berupa mata air. Nikmat Allah melalui malaikat jibril sebagai bekal nabi Ismail AS.

Keberadaan mata air itu memikat pejalan kaki. Lama kelamaan mereka membentuk perkampungan didaerah itu. Menghapus rasa sepi dan kalut Siti hajar setelah ditinggal suaminya nabi ibrahim AS. Ditempat itu pula nabi Ibrahim AS dan nabi Ismail AS membangun ka’bah. Rumah ibadah tertua, kiblat umat islam, tempat tawaf, serta tempat menyentuh dan mencium hajar aswad.

Peristiwa-peristiwa yang terjadi di kehidupan nabi Ibrahim AS bersama istri dan anaknya diabadikan Allah SWT dalam Alqur’anul karim. Diwahyukan kepada nabi Muhammad SAW. Menjadi syi’ar islam yang kita temukan dalam rukun-rukun umrah dan haji.

Nabi ibrahim AS penyeru agama hanif. Pelopor akhlak mulia di arab. Sedangkan putranya nabi Ismail AS beserta 12 anaknya adalah cikal bakal orang-orang arab. Kelak dari keturunannya, lahir raja nan adil, dicintai rakyat dan pemersatu bani quraish yaitu Qushai bin kilab. Moyang sang penghimpun nabi Muhammad SAW.

Berkat perjuangan Qushai bin qilab dimasa lalu, bani abdudar dan bani abdu manaf beserta keturunan berhak menjaga ka’bah, menguasai Daar An Nadwah (Ruang Pertemuan) dan melaksanakan pengurusan haji saat musim haji tiba.

Kerja-kerja sosial itu diwariskan secara turun temurun. Sehingga kita mendengar cerita dari kerabat yang telah melakukan kunjungan ke baitullah, bahwa disana mereka bisa makan minum secara gratis.

Penyelenggaraan haji sementara berlangsung. Sisa menghitung hari jamaah berada dibagian inti haji. Tanggal 9 dzulhijjah,  kala matahari tergelincir ke barat (dhuhur). Dinegeri yang menyimpan bekas-bekas tapak kaki nabi Ibrahim AS. Negeri yang diberkahi. Lautan manusia akan mendaki uranah untuk wukuf dipadang arafah. Sebagai syarat sah haji. Sebelum fajar menyingsing di hari Nahr (qurban).

Wukuf di padang arafah adalah puncak pertemuan jama’ah haji seluruh dunia. Sebagaimana pertemuan nabi Adam AS dan Hawa diarafah untuk pertama kali. Setelah dikeluarkan dari syurga sebab kelalaian. Secara hakiki, proses ini menuntun para jama’ah untuk mengenali jati diri dan menyadari dosa-dosanya. Disunnahkan pula memperbanyak dzikir. Serta merapal doa-doa terbaik.

Mengingat rentetan sejarah masa lalu pada bulan dzulhijjah. Yang bisa ditemukan dikitab-kitab tarikh (sejarah). Allah subhanahu wa ta’ala juga akan mengampuni dosa-dosa besar. Serta menurunkan rahmat-Nya di hari itu.

Rahmat yang membuat syetan tampak begitu kerdil, buruk, hina dan marah. Sebagaimana ketika syetan melihat malaikat jibril merapikan barisan pasukan malaikat di perang badar.

Bulan dzulhijjah dan hari arafah dengan keistimewaan. Makkah al mukarramah dengan segala kelebihan. Konteks keutamaan waktu juga tempat didapatkan oleh jama’ah haji yang berdoa dihari arafah. Berbeda dengan orang yang tak berhaji. Tapi Allah subhanahu wa ta’ala dengan sifat maha adil. Memberikan kesempatan bagi seluruh umat islam dipenjuru bumi menikmati amalan ini.

Untuk itu, sebagai hamba yang senantiasa berikhtiar meraih kasih-Nya. Melaksanakan ibadah sunnah menjadi hal wajib. Sungguh sangat disayangkan jika kita melewatkannya. Dan lebih disayangkan lagi, jika kita mengetahui urgensi hadits ini tapi tak disebarluaskan pada orang lain.

Persiapkan doa terbaik kita. Doa-doa yang diajarkan nabi kepada ahlul bait dan sahabat. Bukankah hanya ada 3 kemungkinan jika kita meminta hal baik kepada Allah. Pertama, dikabulkan saat itu juga. Kedua, digantikan dengan sesuatu yang lebih baik disisi-Nya. Dan ketiga, ditangguhkan dihari kemudian.

Hidupkan amalan-amalan yang keluar dari mulut manusia suci. Mulut yang begitu banyak orang mendamba untuk menyentuhnya. Agar terlepas dari panas jahannam yang 69 kali lipat panasnya dari api dunia. Sosok revolusioner sejati digelari al amin. Sebab sifat-sifat baik melekat pada dirinya.

Sebagai bentuk keteladanan tertinggi serta pembuktian, bahwa sinar yang pernah menerangi istana- istana busra di syam tak meredup. Justru kita yang menjauh dari sinar itu, hingga intensitasnya berkurang. Sekarang saat tepat menyaksikan cahaya sang qudwah memendar disekujur tubuh kita, dalam fikiran, lisan dan perbuatan.

*) Penulis adalah pengurus KNPI Maros

Facebook Comments