Home Mimbar Ide Paradigma Sehat Wujudkan SDM Unggul

Paradigma Sehat Wujudkan SDM Unggul

0
Noor Anni

Oleh : Noor Anni*

Lambat asal selamat tidak lagi relevan, yang kita butuhkan cepat dan selamat, tegas Jokowi dalam pidatonya pada sidang bersama Dewan Perwakilan Daerah (DPD) dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) di senayan, 16/8/2019. Dari kalimat itu bisa ditarik sebuah kata kunci untuk menggambarkan Indonesia hari ini yaitu percepatan. Berangkat dari visi menuju Indonesia maju 2045 dengan kategori High Income Country (HIC).

Pemerintah melakukan langkah-langkah strategis di berbagai aspek. Narasi pada bidang pendidikan yang mengemuka yaitu pemetaan riset yang dibuat Kemenristekdikti sampai tahun 2045. Segala lini serba dipercepat, pertanyaan kemudian muncul, apa yang ingin di akselerasi pada SDM kualitas rendah saat ini?

Selaras dengan Yudi Latif bahwa membangun SDM tidak semudah membangun jalan tol. Ia memaparkan persoalan ini beberapa waktu setelah presiden tampil dengan jargon SDM unggul. Jargon yang turut memeriahkan perayaan kemerdekaan 17 agustus kemarin. Pernyataan Yudi Latif memiliki dasar yang kuat, sebab SDM unggul bukan barang instan.

Derajat kesehatan adalah paling krusial menurut penulis. SDM unggul berawal dari anak yang sehat juga produktif. Seorang anak, dari sejak usia 0-2 tahun harus diberikan asupan gizi yang cukup agar dapat tumbuh optimal dan terhindar dari stunting yang akan berdampak salah satunya pada kemampuan kognitif anak dimasa depan.

Data Riskesdas pada tahun 2018 menunjukkan 30,8 % anak Indonesia mengalami stunting. Angka ini masih sangat tinggi sebab organisasi kesehatan dunia (WHO) menetapkan indikator keparahan stunting dikatakan kritis jika angkanya lebih atau sama dengan 15 %.

Secara garis besar, derajat kesehatan dipengaruhi 4 faktor menurut H.L Blum, yaitu lingkungan (40%),  perilaku (30%), pelayanan kesehatan (20%) dan genetik (keturunan) (10%).

Khusus untuk persoalan stunting sebagai jalan lahir SDM unggul, lingkungan dengan sampah berserakan masing sering ditemukan disekitar kita. Ketersediaan  jamban bersih di pelosok kadang belum terpenuhi, perubahan lingkungan tidak menentu berupa kekeringan berkepanjangan yang melanda hampir seluruh daerah berdampak pada ketahanan pangan dan ketersediaan air bersih.

Gaya hidup masyarakat indonesia yang konsumtif serba instan, kadang hanya mementingkan rasa hingga abai pada zat gizi makanan juga cara pengolahan makanan, yang pada dasarnya berdampak langsung bagi kesehatan ibu juga janin.

Pelayanan kesehatan belum bisa diakses sepenuhnya oleh masyarakat kurang mampu secara ekonomi. Visi bersama global pada tahun 2005, kesehatan untuk semua (Universal Coverage Health) berupaya di implementasikan pada tahun 2014 dalam program jaminan kesehatan nasional yang diselenggarakan BPJS masih menemui banyak hambatan.

Pendistribusian belum merata Kartu Indonesia Sehat (KIS) merupakan kebijakan Presiden sebagai karcis pelayanan kesehatan gratis bagi masyarakat kurang mampu sebab persoalan integritas pemegang kebijakan (stakeholder) di tingkat daerah.

Belum lagi kebijakan naiknya iuran BPJS pada tahun 2020 membuat peserta Jaminan kesehatan nasional semakin meragu, ditengah mahalnya iuran tidak berbanding dengan pelayanan baik di fasilitas-fasilitas kesehatan.

Keturunan (genetik) tidak menyumbang pengaruh signifikan bagi persoalan kesehatan, hanya berkisar 10 % saja. Tapi kita harus tetap memenuhi asupan gizi cukup agar dapat memutus jalan genetik sebagai salah satu penyebab masalah kesehatan.

Melihat persoalan kesehatan di Indonesia, penulis kembali mengambil jalan klasik yang juga didengungkan pemerintah hari ini yaitu paradigma sehat.

Selama ini kita terlalu memanjakan diri dengan cara berifikir kuratif, sakit dulu baru peduli pada kondisi tubuh kita. Padahal jauh lebih untung jika kita senantiasa menjaga tubuh kita agar tetap dalam kondisi sehat. Paradigma sehat tidak mahal, hanya kadang sulit diimplementasikan sebab faktanya pengetahuan tidak selalu berbanding lurus dengan praktek.

Dan karena kesehatan sangat mempengaruhi kualitas SDM sedangkan persoalan ditubuh kesehatan sangat kompleks, tidak akan mampu diselesaikan institusi kesehatan secara tunggal. Pemberdayaan adalah upaya kecil berdampak besar untuk mengatasinya.

Memulai paradigma sehat dari lingkungan terdekat yaitu keluarga. Senantiasa berkomitmen pada diri kita dan mengabarkan pentingnya aktivitas fisik, check kesehatan berkala dan makan sayur serta buah yang cukup.

Sederhananya, untuk persoalan gizi dalam hal ini stunting, Indonesia dengan potensi agraris harus melangkah pada cara berfikir pencegahan, belajar pada adagium “jadikan makanan sebagai obat bukan obat sebagai makanan”.

*) Penulis adalah wakil bendahara komisi Kesehatan DPD KNPI Maros

Facebook Comments