Home Berita Masyarakat Desa Bihe dan Pangahu Akui Merdeka Dari Jalanan Terjal di Tangan...

Masyarakat Desa Bihe dan Pangahu Akui Merdeka Dari Jalanan Terjal di Tangan Prof Nelson

0

Matakita.co (Limboto) – Nelson Masuk Desa (Nomaden) tak hanya disambut baik oleh aparat desa, melainkan masyarakat sekitar sangat antusias untuk tatapan muka bersama Bupati.

Herman Al Habsi selaku Kepala Desa mengatakan sangat bersyukur atas kehadiran Bupati Nelson ke beberapa desa yang berada di Kecamatan Asparaga, salah satunya desa bihe yang temasuk sebagai desa terpencil dari kecamatan dan Kabupaten Gorontalo.

“Di bawah kepemimpinan Nelson, akhirnya puskesdes terwujud pembangunannya dengan anggaran 159 juta melalui anggaran dana desa. Tuturnya. (7/9/2019)

Saipul Gani (54) mengatakan, khususnya desa bihe yang dahulunya akses jalan ini sulit untuk di lalui, jangankan mobil, untuk kenderaan bermotor pun sulit untuk memasuki desa ini.

“Sebelum Nelson memimpin, Kami hanya bisa menjual hasil pertanian kami dengan menggunakan Gerobak dorong (Roda), jalan terbilang terjal, akses dari rumah hingga ke pasar kurang lebih 12 Kilo Meter harus kami lalui, pernah dimasa kepemimpinan sebelumnya, berjanji akan membuat pelebaran tapi kami tidak rasakan” ungkap Gani

Lanjutnya, Kami sangat berharap bupati saat ini harus berjuang untuk mengikuti pilkada tahun depan dan bisa menang, sehingga bisa melanjutkan periode berikutnya dan melahirkan terobosan – terobosan baru seperti yang dirasakan saat ini.

” saat bapak nelson, masyarakat merasakan terobosan real, salah satunya jalanan sudah diperlebar dan bisa dilalui kenderaan. Kami yakin ini akan bertahap.” Imbuhnya.

Menariknya, masyarakat akui dimasa kepemimpinan Nelson tak hanya perbaikan jalan namun, penyerahan ternak sapi, bantuan musim kekeringan, pembangunan podium, sarana olahraga, pembangunan gedung sekolah, pembangunan PAUD, dan Pembangunan jalan lingkar tani, pengadaan beasiswa kepada masyarakat.

Sementara itu, Maylan (27) salah satu warga desa pangahu juga menambahkan, pembangunan jalanan dimasa pemerintahan sebelumnya sulit untuk dilalui, terkadang ketika musim hujan beceknya luar biasa, kadang kita harus berlumuran becek dulu.

“Berlumuran becek dulu sambil dorong gerobak, hanya untuk menjual hasil pertanian hingga kepasar, terkadang kami pun harus melalui jalur laut dengan menggunakan perahu (katinting)”. Tutupnya.

Facebook Comments