Home Mimbar Ide Itu Sumpah Kalian, Bukan Sumpah Kami

Itu Sumpah Kalian, Bukan Sumpah Kami

0

Oleh : Abdul Ghani*

Bicara soal sumpah pemuda, saya ingin antar dengan teorinya Rolland barthes dalam semiologynya, istilah yang ia sebut sebagai “death of the author” yaitu kematian sang penutur. Dimana sang pembaca memiliki kebebasan dalam membaca dan menerjemahkan realitas, karena realitas bagaikan teks yang dapat dibaca layaknya buku. Tidak selamanya yang diingini penutur selalu sejalan dengan bacaan sang pembaca, sang penutur mengatakan lain, sang pembaca menerjemahkan lain. sang penutur telah mati, ia tak lagi terlibat dalam memberi makna atas tuturannya.

Memaknai “Sumpah pemuda, 27-28 oktober 1928 sebagai peristiwa sejarah, tak akan pernah mampu membawa kita merasakan tepatnya seperti apa yang dirasakan oleh kakek-kakek dahulu. kini ia hadir sebagai idiom yang turut meramaikan isi kepala, apa itu “sumpah pemuda”.? Entahlah ! masing-masing kita punya makna sendiri dalam mendeskripsi. Boleh jadi ia adalah momentum penuh inspirasi, sebaliknya hanya sekedar kata-kata kuno yang tak lagi bertuan.
Merujuk ke teori Rolland barthes, Sumpah pemuda kini adalah realitas masa lalu yang hadir sebagai tuturan, kakek kita sebagai penutur telah mati, untuk membaca itu maka ia mencari tuan-tuan baru yang dapat menerjemahkannya kembali dengan bentuk yang ramah, atau justeru sebaliknya menghianati sumpah sang kakek.

Sumpah itu ialah rangkuman tentang mimpi, Mimpi dan harapan adalah sebuah dambaan kebalikan dari fakta. Kenyataan indonesia belum menjadi bangsa yang merdeka mendorong mereka menyatukan visi perjuangan demi persatuan, atas banyaknya bahasa yang ada, maka harus ada satu bahasa kesepakatan, tercerminlah harapan itu dalam sumpah yang mereka ikrarkan.
Kami putra-putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, Tanah Air Indonesia

“Kami putra-putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, Bangsa Indonesia”.
“Kami putra-putri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia”

Teruntuk sang kakek, bagaimana bila kami sudah tak sejalan dengan sumpah itu, semangat persatuan kini telah kabur, jikalaupun ada, maka yang menyatukan itu bukan semangat berbangsa, tapi kepentinganlah yang mendasari kami, tak peduli mau sebangsa bahkan sepiring sekalipun, jika kepentingan sudah berbeda maka ia bukan lagi saudara kami. filosofi kami hari ini tidak lagi bertumpah darah demi persatuan, tapi tak ragu menumpahkan darah karena perbedaan.

Kami mengaku sebagai bangsa yang satu itu yang engkau katakan, tapi hingga hari ini masih ada saja yang ingin memisahkan diri dari tanah ini karena tidak merasa sebagai bagian yang dirangkul dalam persatuan, karena masih ada saja yang diperlakukan sebagai anak tiri dari ibu pertiwi. Daerah dengan alam yang kaya, rakyatnya justeru hampir tak memiliki apa-apa, sebaliknya daerah yang hampir tak punya apa-apa, merekalah yang Nampak kaya raya di negeri ini. Pemerataan belum berlaku adil, satu daerah bekerja demi kekayaan kota-kota besar, bagaimana mungkin itu cerminan dari bangsa yang satu kalau perbedaan masih menjadi hierarki.

Engkau menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia”. Lihat saja disudut-sudut kampus, para mahasiswanya lebih bangga dengan istilah-istilah asing yang hampir tak dikenali oleh masyarakat awam, terasa keren kalau referensinya barat, bahasanya tak lagi sederhana, para aktivisnya begitu nyambung dengan komunikasi kepada para elit, namun tak mampu menyederhanakan diri bila melebur dengan orang-orang kampung, Atau mungkin elitisme adalah gaya yang paling sesuai dengan zaman ini. di warung-warung kopi terasa tidak keren kalau namanya bukan bahasa inggris, pada hal menunya tidak serumit namanya, mengingat namanya terkadang jauh lebih sulit dan lebih lama ketimbang waktu untuk menghabisi menunya, sungguh tak balance.

Kami sangat mengerti diatas pundak pemuda terpikul berjuta mimpi dan harapan, Harapan yang akan terus hidup dan tak akan pernah mati hanya karena kematian, generasi boleh berganti tapi semangat dan cita-cita akan terus mengalir dalam darah generasi mendatang. Pram pernah mengatakan “kisah tentang bangsa-bangsa dunia adalah kisah tentang kaum muda, jika pemudanya hari ini mati rasa, maka matilah sebuah bangsa. Kami sangat paham itu ! Tapi seiring bertambahnya pengetahuan kami belum sebanding dengan berubahnya kebiasaan kami.

Kami masih terjebak dan terpuruk, entah ! apakah karena itu sumpah kalian, bukan sumpah kami sehingga tak ada beban bagi kami. !

Selamat hari sumpah pemuda ! teruntuk anak muda,

Jangan merusak diri, dengan menjadikan diri sebagai calon generasi yang hilang, yang berjalan di di padang pasir, satu-dua langkah berjalan jejakmu hilang tertiup angin. Hidup adalah peristiwa sejarah tentang apa yang kau bisa perbuat, jika-pun kau gagal dalam menciptakan sejarah, tetap saja engkau akan dikenang sebagai pencipta sejarah kegagalan. bangkitlah pemuda ! pastikan setiap langkah memberi jejak yang berarti.

*) Penulis adalah Pengurus DPD IMM Sulsel

Facebook Comments